in ,

Ramadan di Sudan: Tantangan Berpuasa di Tengah Suhu 45 Derajat Celcius

Khartoum, ibukota Sudan, menjadi ‘rumah’ bagi dua jutaan penduduk. Jumlah tersebut bisa terus meningkat seiring arus migrasi yang mulai memadati area pinggir kota. Dalam bahasa Arab, ‘Khartoum’ berarti ‘belalai gajah’. Arti tersebut barangkali menunjuk pada posisi geografi Khartoum yang ada di ujung pertemuan antara dua sungai: Nil Putih yang berhulu dari Danau Victoria di Uganda dan Nil Biru yang mengalir dari Etiopia timur.

Dua pergantian musim terjadi setiap tahunnya di Sudan. Pada bulan Desember-April adalah musim dingin, sedangkan pada bulan Mei-Juli adalah musim panas. Negara dengan suhu yang ekstrem ini akan membuat para pendatang beradaptasi fisik sedemikian rupa untuk terbiasa dengan suhu di Sudan. Bahkan, puncak musim panas yang mendidih bisa mencapai suhu hampir 50 derajat celcius. Suhu seperti ini cukup menantang bagi aktivitas sehari-hari di sana. Coba bayangkan, seperti apa kira-kira tantangan itu jika musim panas di Sudan bertepatan dengan bulan puasa Ramadan.

Pilihan Editor;

Ramadan di Sudan, di Tengah Suhu Ekstrem

Beberapa waktu lalu, Ublik sempat melakukan wawancara dengan salah satu mahasiswi Indonesia yang pernah kuliah di International University of Afrika, Faridhotun Nisa’. “Negara Sudan dikenal hanya mempunyai 2 musim: Panas banget dan dingin banget. Selebihnya, jika ada satu atau dua hari yang anginnya semilir segar, itu adalah bonus dari Allah, ala kulli hal alhamdulillah, tinggal kita banyak banyak bersyukur biar tenang.” Demikian ungkap Perempuan yang akrab disapa Farida itu. “Ramadan di Sudan dari tahun ke tahun, alhamdulillah selalu bertepatan dengan musim panas, hehe, lebih tepatnya panas banget ya, suhunya mencapai 45° dan bahkan lebih.” Lanjutnya.

“Tentu saja suhu seekstrem itu sangat berpengaruh, apalagi para mahasiswa dari Asia. Akan tetapi,  karena ‘kepanasan’ sudah menjadi suatu kebiasaan, itu menjadikan kami berfikir lebih, lebih kreatif untuk menghadapi panasnya Sudan. Biasanya kami menggunakan kain/handuk yang dibasahi dengan air, lalu kita usap usap ke badan :D, juga kadang kita menumpahkan air ke lantai biar agak sejuk gitu 🙂 Bahkan butuh waktu hampir setahun untuk menanti hujan turun.”

Buka bersama (Sumber: Ublik.id/Farida)

Tradisi selama Ramadan di Sudan

Mahasiswi jurusan Islamic Studies itu juga memberikan beberapa informasi tentang tradisi masyarakatnya, termasuk aktivitas para mahasiswa Indonesia di sana. Sebagaimana beberapa negara memiliki tradisi-tradisi yang khas untuk menyambut bulan suci ini, Sudan pun memiliki cara sendiri yang unik dan indah untuk dirayakan.

Bicara soal tradisi, negara yang terletak di timur laut benua Afrika ini memiliki tradisi berbagi di lingkungan masyarakatnya, khususnya saat Ramadan. Orang Sudan sangat menghormati akan datangnya bulan yang penuh berkah ini. Tak heran, kerap kali bisa dijumpai banyak sekali relawan-relawan yang berlomba-lomba untuk bershodaqoh. Suasana seperti ini bisa dijumpai sebulan penuh selama Ramadan.

Begal On The Road

Begal on the road (Sumber: Ublik.id/Farida)

Begal On The Road. Istilah ini sudah sangat masyhur di Sudan. Begal on the road ini, biasanya, pelakunya adalah warga Sudan sendiri. Apa yang dimaksud begal on the road itu? Begini, sekitar 10 menit menjelang berbuka, di pinggir-pinggir jalan biasanya sudah tertata rapi tikar-tikar juga beberapa sajian khas Sudan (kurma, berbagai asir atau jus, kabkabe alias kacang-kacangan, dan masih banyak lagi. Berbagai hidangan pembukanya adalah; kabkabe (kacang kuning), balah (kurma kering yang direndam),  dan syurbah (semacam sup instan yang sudah dihaluskan).

Hidangan pembuka (Sumber: Ublik.id/Farida)

Apapun kondisinya,  jika sudah mendengar adzan berkumandang, warga Sudan sejenak menghentikan kegiantannya. Warga Sudan berbondong-bondong turun ke jalanan sembari mempersilakan untuk berbuka bersama-sama. Setelah itu sholat maghrib berjamaah di pinggir-pinggir jalan itu juga. Ini hampir mirip dengan buka bersama di Indonesia yang diselengarakan oleh masjid-masjid.

Sudan Rasa Indonesia

Menu utama (Sumber: Ublik.id/Farida)

Farida menceritakan bahwa untuk para mahasiswa yang tinggal di asrama, bulan Ramadan merupakan bulan berlimpahnya berkah.  Stok makanan melimpah yang diberikan oleh relawan-relawan Sudan, Qatar, Saudi, dan lain-lain. “FYI, alhamdulillah, kami, mahasiswa Indonesia di bulan Ramadan tidak pernah memasak atau membeli makanan, hampir setiap hari ada undangan iftar (buka puasa), entah dari KBRI Khartoum, atau perorangan atau lembaga-lembaga Sudan lainnya. Ramadan kareem fissudan 🙂 MasyaAllah.”

Memang, durasi puasa di Sudan tidak jauh berbeda dengan Indonesia, yaitu sekitar 14 jam lebih seperempat. Bedanya, hanya soal feeling saja. “Saking panasnya Sudan, jadi siang terasa sangat lamaaa,  dan malam (terasa) sangat pendek. Begitupun dengan kebalikannya saat musim dingin,”

Persatuan Pelajar Indonesia di Sudan (PPI Sudan) juga sering mengadakan buka bersama, yang sebelumnya diawali dengan kegiatan muhadhoroh (ceramah) oelh sesama mahasiswa secara bergilir. Ada juga yang mengadakan ngaji kitab posoan di sekretariat PCINU. Ngabuburit sambil ngaji kitab ini biasa dilakukan  seperti halnya saat di pondok pesantren Indonesia. “Alhamdulillah Sudan rasa Indonesia, ketika bulan ramadan,” ungkap Farida kemudian.

Sebagai anak peratauan, wajar bila kerinduan akan tanah air dan sanak family tak bisa dibendung. Hal-hal berikut adalah usaha untuk senantiasa bisa tetap menjalankan ibadah puasa dengan khidmah walaupun di negeri orang.

 

(Sumber gambar utama: Farida)

Perkembangan Street Art di Indonesia, Karya Seniman Jalanan yang Menghidupkan Kota

6 Tips Manjur Supaya Generasi Milenial Bisa Punya Rumah

6 Tips Manjur Supaya Generasi Milenial Bisa Punya Rumah Sendiri