in

Psikologi: Perlukah Aku Berterima Kasih Padaku?

Memulai perjuangan adalah satu keputusan besar untuk berani menerima lelah yang tanpa sadar sedang kita jemput dengan sukarela. Sepulang dari mengunjungi tempat rekreasi saja, kadang tubuh merasa butuh istirahat barang sebentar. Apalagi untuk berjuang menggapai cita dan impian yang menuntut kita mengorbankan banyak hal di perjalanan ‘kan?

Sahabat, untuk meraih apa yang kita tuju dan angankan, berjuang memang merupakan jalan yang tidak tergantikan. Di dalamnya, ada doa dan ikhtiar yang menjadi komponen tak terlupakan. Untuk memulai segalanya, kita sebagai pelaku adalah pemegang kendali utama untuk membawa kapal kita sampai pada tujuan. Soal ke mana kita akan berlayar, seberapa banyak bekal yang kita butuhkan, dan sampai mana kesiapan kita untuk menghadapi badai yang bisa jadi datang tanpa diprediksi, adalah tanggung jawab kita.

Sahabat tentu sudah berkali-kali menaikkan layar untuk menebas luasnya lautan ‘kan? Pasti sudah hafal benar bagaimana badai dan petir menerjang, lelahnya menahan kantuk ditambah kehabisan bekal di perjalanan sehingga mengharuskan kita untuk menepi sebentar di pulau terdekat, mengisi kembali lumbung amunisi logistik dan semangat. Tidak terhitung berapa kali kita berpikir untuk memutar balik roda kemudi sebab merasa tidak mampu menghalau ombak yang begitu tinggi. Namun mental dan kemauan kuat yang kita miliki berhasil membawa kapal sampai ke pelabuhan. Melihat mercusuar yang berdiri megah dengan sinar di puncaknya. Kita akhirnya berhasil melewati masa-masa terombang-ambing di lautan lepas. Meski mungkin apa yang kita mau tidak hanya sebatas itu.

Baca Juga: 5 Tips Agar Kita Dapat Menerima Diri Sendiri, Agar Hidup Lebih Bahagia

Nah, sebenarnya apa dan siapa yang membantu kita sampai? Adalah pihak yang membantu kita menyiapkan perbekalan, perahu yang membawa kita berlayar, pulau kecil, lumba-lumba, atau bahkan langit senja yang membawa kelelahan bersama tenggelamnya. Satu lagi, seseorang sebagai kunci utama yang perlu diapresiasi, yaitu diri kita sendiri. Seseorang yang punya kuasa untuk memutuskan, apakah mimpi hanya sekadar angan, atau menjadi hal yang dapat kita peluk, entah itu proses mendapatkannya atau wujud nyatanya.

Berterima kasih kepada diri sendiri bukan suatu kesalahan, melainkan sebuah urgensi yang seharusnya tidak dilupakan. Sering dengar istilah mencintai diri sendiri, bukan? Nah, mencintai diri sendiri pun tidak akan lengkap tanpa bumbu terima kasih.

Masih belum ingin berterima kasih pada dirimu sendiri?

Kita sudah melangkah jauh dari rumah.

psikologi berterima kasih pada diri sendiri

Mari sedikit menengok ke belakang. Melihat ke jalan mengular, curam, licin, dan berbatu yang sudah kita lewati. Meski saat ini kita masih jauh dari kata sampai, tapi langkah yang kita tempuh tidak pantas untuk disepelekan. Saat ini kita hampir menyerah sebab berungkali merasa kalah. Berulangkali merasa tidak pantas untuk berjuang, dan berulangkali pula berpikir untuk berhenti saja.

Mari menengok lebih jauh lagi, ketika kita memutuskan untuk meninggalkan comfort zone yang menyenangkan. Memilih untuk mengambil satu langkah meski tidak mudah. Memilih membuka pintu rumah dan berangkat meninggalkannya adalah satu hal yang paling menentukan. Padahal kita masih punya pilihan untuk berleha-leha dan membiarkan mimpi menjadi bunga tidur saja.

Lihat? Ternyata kita begitu hebat, meski apa yang kita mau belum sepenuhnya kita dapat. Di tengah kesulitan yang mungkin kita alami, jangan dulu patah dan menyesali langkah yang belum optimal. Berterima kasihlah pada diri sendiri yang sudah mau menyeret beratnya langkah kaki. Hal tersebut dapat menjadi self-healing dan self-recharging yang ampuh.

Menilik salah satu jenis motivasi yaitu motivasi intrinsik yang merupakan dorongan yang hadir dari dalam diri tanpa rangsangan dari luar, apresiasi dan terima kasih dapat memacu semangat dan menjadi pendorong untuk tidak berhenti. Masih sungkan untuk menempatkan dirimu sebagai seseorang yang istimewa di setiap langkah perjuangan?

Sikap ini bukan untuk menyombongkan diri.

Memang benar, langkah yang kita ambil tidak lepas dari peluh yang kita peras setiap hari. Namun tidak hanya itu. Faktor eksternal juga mengambil peran dalam kelelahan yang kita rasakan. Kemurahan Tuhan untuk mengabulkan, serta komponen semesta yang tak jarang mengulurkan bantuan. Keluarga, sahabat, teman sepermainan, atau bahkan orang-orang yang hanya sekali dua berpapasan di jalan juga turut mewarnai jalan panjang yang hendak kita usaikan dengan sebuah keberhasilan. Mereka terkadang membantu kita untuk bangkit dengan dukungan moril maupun materil.

Berterima kasih dan apresiasi diri tidak lantas membuat kita terbang di awing-awang, seolah segala pencapaian adalah buah tangan kita seorang. Tanpa Tuhan yang melontarkan kun dengan kuasa-Nya, segala upaya kita hanyalah kesia-siaan belaka.

Baca Juga: Pikiran Negatif Membuat Hidupmu Sesak, Bagaimana Solusinya?

Urusan memberi motivasi diri dengan tujuan agar tidak mudah menyerah pada lelah dan untuk mencintai diri sendiri, jangan sampai menjadikan pencapaian dan usaha kita mengubah kita menjadi pribadi yang kaya akan sifat congkak. Sebab inti juang adalah jalan panjang yang kita taklukkan, bukan singgasana yang kita banggakan. So, jangan lupakan kebaikan semesta yang senantiasa mengulurkan tangan kepada kita.

Kamu hebat. Ucapkan selamat atas kamu yang tidak memilih rehat sebagai pemberhentian terakhirmu.

Report

What do you think?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Pekerjaan Untuk Lulusan Jurusan Desain Grafis

Suka Jurusan Desain Grafis? Ini Jenis Karir Yang Bisa Kamu Tekuni

Jurusan Aktuaria

Jurusan Aktuaria: Disiplin Ilmu “Langka” Dengan Jenjang Karir Menarik