“In school, you’re taught a lesson and then given a test. In real life, you’re given a test that teaches you a lesson.” 

 

Pada mulanya, sekolah didirikan dengan tujuan untuk membekali manusia agar bisa siap menghadapi kehidupan nyata, yang mana di dalam kehidupan nyata tersebut diperlukan ilmu, skill dan kematangan dalam bersikap. Seiring berjalannya waktu, sebagian kita kemudian membuat dikotomi tentang sekolah favorit dan yang bukan favorit. Momen-momen PPDB (Penerimaan Peserta Didik Baru) sering menjadi ajang kompetisi yang begitu serius. Khususnya bagi para orang tua, calon siswa baru, atau bahkan sekolah-sekolah itu sendiri.

Bisa dibilang kalau mencari sekolah yang tepat untuk anak adalah salah satu keputusan terpenting setiap orang tua. Mengapa ini bisa menjadi begitu penting? Karena lingkungan sekolah bagi anak adalah hal yang diyakini bisa berperan besar untuk masa depan mereka. Sekolah yang berkualitas dengan lingkungan kondusif tentu bisa membekali anak dengan ilmu yang lebih mendalam dan membentuk pola pikir anak tentang berbagai hal di kehidupannya.

Pilihan Editor;

Apa Artinya Sekolah?

Apapun itu, sudah tahukah bahwa kata sekolah berasal dari bahasa latin: skhole, scola, atau scolae yang memiliki arti ‘waktu luang’ atau ‘waktu senggang’, di mana dahulu sekolah adalah kegiatan di waktu luang bagi anak-anak di tengah-tengah kegiatan utama mereka, yaitu bermain dan menghabiskan waktu untuk menikmati masa anak-anak dan remaja.

Bagaimana dengan saat ini? Bagi para orangtua, memasukkan anak ke sekolah yang dianggap berkualitas atau kita kenal dengan sekolah favorit akan lebih membanggakan dan menenangkan, karena pada sekolah itulah orang tua mempercayakan masa depan anaknya. Kebanyakan orangtua pun akan berharap perjalanan anaknya berlangsung dengan alur yang mudah ditebak: anak-anak yang mengenyam pendidikan di sekolah favorit akan bisa melanjutkan ke universitas favorit juga. Setelah lulus bisa bekerja di tempat-tempat yang dipandang elit oleh lingkungannya.

Apa Itu Sekolah Favorit?

Sebenarnya tidak ada definisi yang saklek tentang sekolah favorit. Tapi, secara sederhana, sebuah sekolah menjadi favorit karena alumninya punya reputasi bagus, guru-gurunya berkualitas, fasilitas lengkap, manajemen sekolahnya juga baik, sehingga sekolah seperti ini diminati oleh banyak orang. Tentu saja seleksi masuknya tidak mudah. Yang diterima adalah anak-anak pintar yang kemudian bisa menorehkan prestasi di berbagai bidang.

Ilustrasi Fasilitas Sekolah (Sumber: Pixabay)

Sekolah Favorit dan Kesenjangan Pendidikan

Pada PPDB tahun lalu, Mendikbud Muhadjir Effendy mengatakan bahwa seharusnya tidak boleh lagi ada pengelompokan antara sekolah favorit atau tidak favorit. Ini bisa mengarah ke masalah diskriminasi dan kesenjangan pendidikan. “Tidak boleh ada satu pun siswa yang tidak mendapatkan bagian kursi, tidak boleh lagi ada sekolah yang favorit atau tidak. Semua harus dibikin semerata mungkin, karena program kita ini adalah program pemerataan pendidikan yang berkualitas,” kata beliau.

Pernahkah kita sadari bahwa sekolah favorit adalah salah satu bentuk kesenjangan dalam pendidikan, dan sayangnya kesenjangan itu dilestarikan. Pasalnya, rebutan kursi di sekolah-sekolah yang reputasinya bagus itu sudah berlangsung dari tahun ke tahun. Memang, sepintas tidak ada masalah dengan kompetisi itu. Bukankah semakin ketat persaingannya maka anak-anak akan lebih termotivasi belajar agar bisa diterima di sekolah impiannya. Setelah berhasil diterima, mereka bisa berkompetisi secara sehat dengan siswa-siswa pintar lainnya. Sebagaimana yang kita ketahui, yang dihasilkan dari sekolah favorit adalah anak-anak pintar karena dididik oleh guru-guru yang berkualitas, dengan fasilitas sekolah yang baik pula. Mereka memiliki motivasi tinggi ketika bersaing sesama anak pintar.

Sebentar, apa yang salah dari kondisi itu? Bukankah ketika orang-orang berkompeten berkumpul, hasilnya lebih baik? Sebagaimana umumnya hal-hal baik yang berkumpul juga akan menghasilkan sesuatu yang lebih baik. Tentu tidak ada yang jadi masalah ketika kita memandang dari sudut pandang itu. Yang salah adalah ketika kita sibuk mencapai prestasi, mengasah kemampuan anak-anak yang memang sudah cukup pintar kemudian tidak memperhatikan yang di bawah level itu, katakanlah sekolah-sekolah di daerah terpencil.

Banyak orang yang tahu bagaimana membangun sekolah yang baik, tapi pengetahuan itu belum tentu dipakai secara maksimal untuk memperbaiki kualitas sekolah-sekolah lain yang notabene belum jadi favorit. Apa jadinya? Sekolah-sekolah yang bukan favorit tetap menjadi sekolah yang kurang berkualitas, dan itu bisa berlangsung dari tahun ke tahun, jika tak ada upaya untuk memperbaikinya.

Ironi Sekolah Favorit

Sesuai amanat undang-undang, setiap anak yang dilahirkan di negeri ini berhak mendapatkan pendidikan. Tapi apakah semua sekolah menerima semua anak didik, tanpa pilih-pilih? Tanpa mengurangi respek pada pihak terkait untuk memajukan pendidikan, tampaknya kita perlu menata ulang persepsi terhadap sekolah favorit. Seperti yang diungkapkan Mendikbud, diskriminasi antara sekolah yang favorit dan yang bukan, sebaiknya tidak perlu ada lagi. Kembali ke orientasi pendidikan sebagai proses untuk membangun manusia, maka setiap sekolah punya kesempatan untuk berkontribusi dalam proses pembangunan itu. Bukankah terbentuknya sistem pendidikan yang berkualitas tidak bisa instan dan dibutuhkan sumbangsih dari banyak orang?

Reorientasi Pendidikan dan Peran Keluarga

Ilustrasi Pendidikan Berawal dari Keluarga (Sumber: Pixabay)

Pendidikan adalah tentang menggali potensi setiap orang secara unik, untuk mencapai keberhasilan menurut definisi masing-masing. Tak jarang, kita lupa pada hal fundamental ini. Pendidikan anak pun sebenarnya tidak bisa dipasrahkan begitu saja pada sekolah, sekolah favorit sekalipun. Para orangtualah pemegang peran penting untuk memberi bekal ilmu untuk anak-anaknya. Ilmu dalam hal ini juga bukan semata-mata ilmu pengetahuan akademik. Sebelum memasuki sistem pendidikan formal, latar belakang peserta didik sangat berpengaruh pada iklim pendidikan di sekolah yang notabene melanjutkan proses pendidikan yang sebelumnya sudah ditanamkan oleh orangtua di dalam keluarganya masing-masing.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.