in

Peringatan Maulid Nabi: Menikmati Momen Liburan dengan Wisata Religi dan Budaya

Gerebeg Maulud, Perayaan Maulud Nabi di Indonesia (Sumber: Aditya Darmasurya via flickr.com)

Hari lahir Nabi Muhammad SAW atau yang biasa dikenal sebagai peringatan Maulid Nabi sudah menjadi tradisi bagi umat Islam di berbagai belahan dunia, termasuk di Indonesia. Perayaan Maulid Nabi memang bukan perintah dari Nabi Muhammad SAW. Tapi menurut sejarah, perayaan ini sudah berlangsung sejak ribuan tahun lalu. Berbagai acara digelar, mulai di tingkat desa sampai ke istana negara, tujuannya adalah memperkuat spirit keteladanan sosok mulia Nabi Muhammad SAW. Bukan hanya event religi yang eksklusif, peringatan Maulid Nabi di Indonesia juga mengedepankan spirit keragaman budaya.

Umumnya, Maulid Nabi di Indonesia diperingati dengan cara menggelar acara pengajian, menggelar lomba-lomba Islami, seperti lomba membaca Al-Quran, lomba ceramah anak-anak dan remaja, hingga lomba grup musik rebana. Menariknya, sejumlah daerah di Indonesia juga memiliki tradisi yang unik setiap Maulid Nabi. Apa saja tradisi unik setiap perayaan Maulid Nabi di beberapa daerah di Indonesia?

1.  Gerebeg Maulud di Keraton Surakarta

Perayaan Maulud Nabi di Indonesia
Gerebeg Maulud, Perayaan Maulud Nabi di Indonesia (Sumber:
Aditya Darmasurya via flickr.com)

Suara tabuhan gamelan pusaka dan selawat Nabi Muhammad SAW berpadu menyemarakkan puncak acara Maulid Nabi di kompleks Masjid Agung Kota Surakarta (Solo), Jawa Tengah. Yang menjadi perhatian adalah sebuah gunungan alias tumpeng raksasa yang isinya sayur-sayuran, buah-buahan, sejumlah deretan kotak berisi nasi, dan juga hasil bumi lainnya yang diusung oleh puluhan abdi dalem Keraton Kasunanan Surakarta. Ribuan warga berebut bagian dari tumpeng raksasa itu karena ingin mendapat berkahnya.

2. Tradisi Bungo Lado di Padang Pariaman

Budaya Perayaan maulud nabi di Indonesia
Tradisi Bungo Lado (Sumber: antarafoto.com)

Tradisi dari Sumatera Barat ini disebut dengan Bungo Lado, yaitu pemberian ‘pohon uang’ ke masjid-masjid di daerah Padang Pariaman. Tradisi Bungo Lado ini ada kaitannya dengan profesi petani yang menjadi matapencaharian sebagian besar warga Sumbar, yang mana salah satu hasil tani terbesarnya adalah tanaman cabai. Masyarakat Minangkabau meyebut cabai dengan lado. Ini adalah simbol rasa syukur warga. Biasanya Tradisi Bungo Lado menjadi kesempatan bagi para warga perantau yang ingin menyumbangkan sebagian hartanya untuk pembangunan rumah ibadah di daerah tersebut.

3. Festival Ampyang di Kudus

Festival Ampyang maulid nabi
Festival Ampyang di Kudus (Sumber: Grid.id)

Untuk memperingati kelahiran Nabi Muhammad SAW di Kudus, festival Ampyang digelar tiap tahun dan diikuti oleh ribuan peserta yang terbagi dalam puluhan kontingen dari masing-masing desa dan kecamatan. Mereka mengarak hasil bumi dan menunjukkan hasil kreativitas dalam miniatur kerajinan khas masing-masing daerah. Ampyang sendiri merupakan tandu yang berisi nasi kepel dalam bungkusan daun jati, yang dirangkai seperti gunungan setinggi ±1,5 m. Selain nasi, ada pula gunungan yang berisi buah-buahan, sayuran, dan hasil bumi lainnya mirip seperti Gerebek Maulud di Keraton Solo dan Jogja. Pihak pemerintah daerah juga selalu memberi apresiasi positif untuk setiap perayaan festival Ampyang di Kudus karena selain menjaga spirit keagamaan, ini juga menjadi  momen yang menyatukan masyarakat dan menjaga kearifan lokal. Tentu saja tradisi ini juga menjadi momen untuk introspeksi diri dan menjaga spirit berbagi.

4. Tumpeng dan Barzanji di Madura

Riuh rendah datang dari toa masjid, selawat barzanji dikumandangkan. Ini menandakan adanya perayaan Maulid Nabi di Madura. Pada saat peringatan Maulid Agung—demikian mereka menyebutnya—para perempuan datang ke masjid atau mushalla dengan menyunggi talam yang berisi tumpeng. Pada saat barzanji dibacakan, orang-orang melingkar, tumpeng-tumpeng dijajarkan di tengah orang-orang yang melingkar untuk didoakan. Setelah itu, tumpeng-tumpeng kemudian dibelah-belah dan dimakan bersama.

Itulah beberapa tradisi Maulid Nabi yang diperingati di beberapa kota di Indonesia sebagai contoh wisata religi sekaligus melestarikan budaya. Tentu akan lebih menarik jika Anda ikut menyaksikan atau bahkan mengikuti acara-acara yang bertepatan dengan libur nasional tersebut. Itu juga akan menambah wawasan Anda tentang kultur masyarakat setempat. Saat liburan Maulid Nabi dan Anda ingin keluar kota untuk ikut merasakan kemeriahan tradisi itu, Anda bisa merencanakan perjalanan jauh-jauh hari sebelumnya. Ini akan lebih membantu Anda dalam menyesuaikan waktu libur di tengah kesibukan dan mengatur anggaran liburan.

Ada baiknya untuk mencatat di agenda atau di kalender ponsel Anda bahwa libur Maulid Nabi tahun 2019 jatuh pada tanggal 10 November. Dengan kemudahan yang diberikan oleh aplikasi Traveloka, Anda bisa merencanakan dan mempersiapkan liburan Maulid Nabi dengan lebih baik. Traveloka memudahkan Anda untuk memesan transportasi, voucher aktivitas rekreasi, akomodasi penginapan, pilihan kuliner, dan masih banyak lagi demi menciptakan liburan yang menyenangkan untuk Anda. Jadi tunggu apa lagi, segera rencanakan liburan Anda bersama Traveloka.

Ditulis oleh Redaksi

Tim Redaksi Ublik yang kece2

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Benarkah Bahwa Lidah Kita Tidak Bisa Mencecap Rasa Pedas?

Lagu “Jangan” Antarkan Marion Jola Raih Penghargaan di MAMA 2018