in

Peran Sastra dalam Pendidikan Karakter Anak Bangsa

peran sastra , pendidikan
Sastra dan Peran Pentingnya untuk Pendidikan

Saat ini metode pembelajaran sedang dikembangkan sedemikian rupa. Mencoba untuk mencari dan menemukan strategi pendidikan yang pas untuk mengembangkan kualitas sumber daya manusia, berbagai institusi pendidikan melihat peserta didik bukan hanya sebagai objek yang bisa dibentuk sesuai kurikulum yang dibangun, namun juga sebagai subjek yang berpikir dan berusaha untuk menemukan hakikat dari proses pembelajaran itu sendiri. Belajar untuk menemukan jati diri dan identitas diri. Bukan untuk menjadi kuli-kuli intelektual yang tidak memiliki rasa dan kepekaan.

Dalam hal ini, penting kiranya memasukkan sastra dalam sistem pembelajaran. Kenapa demikian? Karena sejauh ini banyak remaja dan pemuda kita tidak memiliki kepekaan rasa. Emosinya tidak terolah dengan baik. Pantas saja jika banyak lulusan sekolah maupun sarjana yang hanya memikirkan diri sendiri dan tidak peduli dengan lingkungan sekitar. Oleh karena itulah sastra bisa digunakan sebagai media pembelajaran yang dapat dimanfaatkan untuk membina dan mengembangkan karakter peserta didik.

sastra , pendidikan
Sastra dan proses pendidikan anak bangsa (Sumber: Pixabay)

Sementara itu, definisi sastra juga memiliki banyak artian. Beberapa tokoh mencoba mengartikan apa yang dimaksud dengan sasrta. Semisal, Sumardjo (1994: 1) menyatakan sastra adalah karya sastra dan kegiatan seni yang berhubungan dengan ekspresi dan penciptaan. Sastra bukanlah ilmu tetapi seni. Dalam seni banyak unstur kemanusiaan yang masuk, khususnya perasaan; sehingga sulit untuk diterapkan untuk metode kelimuan.

Adapun pengertian sastra kalau dirunut secara etimologis berasal dari Bahasa Sansekerta, berakar kata sas- yang berarti mengarahkan, mengajar, memberi petunjuk atau instruksi; dan akhiran –tra yang menunjukkan adat, sarana; sehingga sastra dapat berarti alat untuk mengajar, buku petunjuk, buku instruksi atau pengajaran.

Dapat dinyatakan pula, dalam dunia pendidikan, sastra ini sebagai seni untuk menyampaikan ajaran. Secara mendasar, sastra setidak-tidaknya harus mengungkapkan atau mengandung tiga aspek utama, yaitu docere (memberikan sesuatu kepada pembaca), delectare (memberikan kenikmatan melalui unsur estetik), dan movere (mampu menggerakkan kreativitas pembaca).

Lalu bagaimana relasi antara sastra dan pendidikan, khususnya dalam pembentukan kepribadian seseorang? Sebelum menjawab pertanyaan ini, mari kita tinjau terlebih dahulu kondisi moralitas bangsa yang kian hari seolah semakin merosot. Nilai dan norma sosial tidak lagi dijadikan rujukan. Guru tidak lagi dijadikan panutan. Penjahat bertebaran di mana-mana. Mulai dari perampok kelas kakap hingga maling ayam di kampung-kampung. Demikian pula dengan pemudanya yang sebagian terjebak pergaulan bebas, menggunakan alkohol, memakai narkotika, tawuran, melakukan aksi vandalisme, dan sebagainya.

literasi , pendidikan
Sastra untuk membangun karakter (Sumber: Pixabay)

Rasa-rasanya, untuk urusan pendidikan, pekerjaan rumah kita masih banyak. Terutama dalam membina mental dan kepribadian bangsa. Maka dari itu, melalui sistem pembelajaran dan pendidikan yang berkualitas diharapkan karakter bangsa akan terbangun secara perlahan. Dengan menggunakan sastra sebagai media pembelajaran dalam pendidikan kita bisa mengasah emosi, mental dan perasaan para peserta didik. Sehingga meraka diharapkan bisa membedakan mana yang baik mana yang buruk, mana yang benar mana yang salah.

Terkait peran sastara dalam pembelajaran peserta didik, diungkapkan oleh Tarigan (1995: 10) bahwa sastra sangat berperan dalam pendidikan anak, yaitu dalam (1) perkembangan bahasa, (2) perkembangan kognitif, (3) perkembangan kepribadian, dan (4) perkembangan sosial.

Aristoteles, filsuf Yunani, pernah menyatakan bahwa salah satu fungsi sastra adalah sebagai media katarsis atau pembersih jiwa bagi penulis maupun pembacanya. Bagi pembaca, setelah membaca karya sastra perasaan dan pikiran terasa terbuka, karena telah mendapatkan hiburan dan ilmu (tontonan dan tuntunan). Begitu juga bagi penulis, setelah menghasilkan karya sastra, jiwanya mengalami pembersihan, lapang, terbuka, karena telah berhasil mengekspresikan semua yang membebani perajaan dan jiwanya.

Sejalan dengan hal itu, kita bisa melihat produk sastra bisa berupa novel, puisi, teater, drama, dan sebagainya. Pemanfaatan karya sastra sebagai media pendidikan karakter bisa diterapkan melalui dua langkah yaitu (1) pemilihan bahan ajar, dan (2) pengelolaan proses pembelajaran. Dalam hal ini, pengajar dituntut lebih kreatif dalam mengembangkan minat, bakat, dan kemauan peserta didik.

Sastra sebagai bahan ajar maksudnya adalah karya sastra yang baik secara etis dan estetis digunakan sebagai bahan ajar yang bisa menyadarkan dan membimbing peserta didik. Sementara itu, sastra digunakan sebagai pengelolaan proses pembelajaran mengandung artian bahwa guru atau dosen dituntut untuk aktif melibatkan peserta didik dalam mempelajari dan menghayati karya sastra.

peran sastra , pendidikan
Menghayati nilai-nilai yang terkandung dalam karya sastra (Sumber: Pixabay)

Pengajar juga perlu membimbing para peserta didik agar menemukan nilai-nilai yang terkandung di dalam karya sastra serta menghimbau untuk mengaplikasikannya dalam kehidupan sehari-hari. Sehingga melalui sastra peserta didik diharapkan menjadi anak-anak yang kreatif, cemerlang, dan memiliki mental serta kepribadian yang tangguh. Karena sebelumnya telah mempelajari potret kehidupan melalui sastra yang dibaca dan dihayatinya. Dengan begitu para pelajar atau mahasiswa tidak grusa-grusu dalam melangkah, namun penuh dengan pertimbangan yang matang.

Poinnya adalah pembelajaran dengan menggunakan sastra diharapkan bisa memperhalus budi atau perangai para peserta didik. Secara perlahan karakter bangsa akan terbentuk seiring dengan membaiknya budi pekerti para pemudanya. Semoga ke depan berbagai instansi pendidikan melihat peluang pembelajaran dengan sastra ini sebagai salah satu solusi alternatif dalam memperbaiki kondisi moralitas bangsa. Khususnya para generasi mudanya. Karena merekalah harapan kita di masa depan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Loading…

0
self love , mencintai diri sendiri

Bagaimana Kita Bisa Mencintai Diri Sendiri dengan Cara yang Tepat?

unicorn , startup

Selain Unicorn, Inilah 5 Istilah Lain dalam Bisnis Startup