Apakah kamu ingat kapan pertama kali merasakan jatuh cinta dengan seseorang? Dan bagaimana awalnya, mengapa bisa suka dengan orang tersebut? Ketika bertanya dengan teman-teman, tidak sedikit dari mereka yang kemudian menjawab ‘tidak tahu’, ‘itu terjadi begitu saja’, atau ‘ya pokoknya suka aja sama dia’.

Para ilmuwan dari beragam bidang ilmu mulai dari antropologi hingga neuroscience pun mengajukan pertanyaan yang sama. Adakah penjelasan ilmiah dari urusan cinta dengan lawan jenis? Ilmu sains seperti apa yang bisa menjelaskan kondisi seseorang yang sedang jatuh cinta?

Pilihan Editor;

Indeks Kebahagiaan dan Kabar Baik bagi Kaum Jomblo Indonesia
Inilah 7 Alasan Mengapa Entrepreneur Muda Adalah Menantu Idaman
Jembatan Cinta Pring Wulung, Destinasi Epic di Purbalingga dengan Beribu Cinta Menggoda Hati Para Jomblo

Dari Mana Asalnya: Otak atau Hati?

Pertama-tama kita cari tahu dulu dari mana perasaan itu berasal. Benarkah dari mata turun ke hati? Padahal istilah ‘hati’ itu sendiri akan menjadi rancu jika kita mengaitkan perasaan dengan organ di dalam perut sebelah kanan itu. Buat yang tidak mendalami Biologi, mungkin bisa membuka kembali pelajaran di sekolah dulu bahwa fungsi hati (liver) antara lain; untuk menghasilkan empedu yang diperlukan untuk membantu mencerna makanan, menyimpan kelebihan nutrisi dan mengembalikannya sebagian ke aliran darah, memecah lemak jenuh dan menghasilkan kolesterol, menghasilkan protein darah yang membantu koagulasi, pengangkutan oksigen, dan fungsi sistem kekebalan tubuh. (hellosehat.com)

Coba ingat-ingat seperti apa saat kamu bertemu seseorang yang kamu sukai? Mungkin gugup, jari-jari gemetar, salah tingkah, dan detak jantung berdebar lebih cepat. Khusus mengenai yang berdebar itu, banyak yang salah kaprah menyebutnya hati yang berdebar. Tidak heran bahwa sejak dahulu orang menganggap cinta (dan sebagian besar hal-hal emosional lain) muncul dari hati. Padahal yang berdebar adalah jantung, dan ternyata, cinta adalah bersumber dari otak. Ketertarikan pada lawan jenis sebagai sebuah emosi kompleks itu pusatnya ada di pikiran. Segala bentuk perasaan yang berkecamuk, termasuk cinta, diatur oleh organ otak yang beratnya sekitar 1,5 kg itu.

Ilustrasi hati (Sumber: Pixabay)

Situasi mental seperti ini mungkin dialami oleh semua orang di dunia. Meskipun sudah tidak terhitung jumlah karya seni dibuat dengan topik percintaan, masih saja hal itu kompleks dan tidak mudah dijelaskan. Barangkali karena itulah mengapa dahulu orang di zaman Yunani memiliki nama yang berbeda-beda untuk cinta; ‘agape’ untuk cinta pada Tuhan, ‘storge’ untuk cinta keluarga, ‘philia’ untuk cinta terhadap teman, dan ‘eros’ untuk romansa.

3 Kategori untuk Cinta

Menurut tim ilmuwan yang dipimpin oleh Dr. Helen Fisher dari Centre for Human Evolution Studies, Rutgers University, cinta romantis dapat dipecah menjadi tiga kategori: nafsu (lust), ketertarikan (attraction), dan keterikatan (attachment). Attachment juga bisa diartikan sebagai kasih sayang dan ikatan emosional antar sahabat, atau dua individu yang sudah ada komitmen pernikahan.

Setiap kategori dipengaruhi oleh sekumpulan hormon-hormon tertentu yang berasal dari otak. Testosteron dan estrogen mendorong nafsu. Nafsu dan ketertarikan mematikan prefrontal cortex otak, yang terkait dengan perilaku rasional. Hipotalamus otak memainkan peran besar dalam hal ini, merangsang produksi hormon seks testosteron dan estrogen dari testis dan ovarium. Dopamin, norepinefrin, dan serotonin menciptakan daya tarik. Oksitosin dan vasopresin memicu attachment yang kuat. Dopamin yang diproduksi oleh hipotalamus, dilepaskan ketika kita melakukan hal-hal yang terasa baik bagi kita, termasuk menghabiskan waktu dengan orang yang dicintai. (sitn.hms.harvard.edu)

Ilustrasi couple (Sumber: Pixabay)

Tingginya kadar bahan kimia ini membuat kita energik dan gembira, sekaligus linglung. Bahkan mengarah pada penurunan nafsu makan dan insomnia. Itulah mengapa sering kita jumpai teman kita yang sedang jatuh cinta ia akan susah tidur dan tidak enak makan. Saat ditanya “kamu kenapa?” lalu jawabannya “Gak apa-apa kok” dan besoknya ia mengaku kalau itu terjadi karena gebetan lama balas chat. Hmm.

Mungkinkah Jatuh Cinta pada Pandangan Pertama?

Untuk jatuh cinta pandangan pertama, menurut riset yang dilakukan Arthur Aron dkk pada tahun 1995, dua orang asing yang belum kenal pun bisa memiliki ketertarikan satu sama lain dengan menjawab 36 pertanyaan personal yang dibagi menjadi 3 set. Setelah menjawab pertanyaan, mereka diberi kesempatan untuk saling menatap mata selama 2-4 menit untuk memastikan mereka mulai ada ketertarikan. Tapi masih relevankah teori itu? Mungkin kamu perlu mencobanya langsung ya. Berani?

Sebagian orang bisa jatuh cinta pada orang lain ketika baru pertama kali bertemu, tapi ada juga yang mengalami tumbuhnya perasaan seiring dengan intensitas kebersamaan. Kata orang Jawa, witing tresna jalaran saka kulina. Pada saat tersebut, hormon dopamin dan oksitosin meningkat begitu melihat lawan jenis yang menarik. Hormon ini bisa memberi efek nyaman, tenang, sekaligus kecanduan.

Ilustrasi pasangan kakek nenek (Sumber: Pixabay)

Disadari atau tidak, saat mengalami jatuh cinta, khususnya pada usia remaja, penilaian pada ‘si dia’ jadi tidak rasional, sehingga ketika harus membuat keputusan terkait dengan orang yang disukai, keputusan itu tidak objektif. Pada level tertentu, ada kesediaan untuk berkorban demi orang tersebut. Ya, memang ini adalah hal yang wajar dan menjadi bagian dari proses pendewasaan. Lalu seberapa lama perasaan ini berlangsung? Hormon dopamin dan oksitosin meningkat di masa-masa awal ketertarikan, dan tidak bisa dihindari. Tapi, ketika sudah ‘terpuaskan’, dalam arti ketika orang yang disukai itu sudah menjadi pasangan yang resmi, maka secara bertahap hormon tersebut normal kembali.

Nah, pertanyaannya apakah efek nyaman dan tenang itu tidak berlangsung selamanya? Kenyataanya memang begitu. Sebagai hal yang kompleks dan seringkali misterius, penjelasan sains tampaknya belum menjelaskan keseluruhan proses yang lengkap. Fase jatuh cinta yang penuh sensasi itu memang berlangsung hanya sementara waktu. Bahkan sebagian besar orang tidak mampu mendefinisikan cinta yang terjadi pada diri mereka sendiri. Sampai pada titik tertentu, tentang peristiwa jatuh cinta kita akan meyakini bahwa: falling in love is easy, but staying in love is a choice. Bagaimana menurutmu?