Belajar Menulis – Dulu, semasa awal-awal kuliah, saya begitu penasaran dengan teman-teman yang tulisannya tersebar di berbagai media massa. Satu pertanyaannya, apakah saya bisa seperti mereka? Pertanyaan itu terus muncul dan menghantui setiap malam-malam saya. Memang saya mulai akrab dengan dunia kepenulisan semenjak kuliah. Dan pertanyaan membuat saya penasaran dan memberanikan diri untuk menantang diri saya sendiri. Saya mencoba menulis sebuah artikel dan hasilnya adalah macet total. Tidak ada ide. Pena begitu sulit untuk digerakkan. Jari jemari tertahan di tuts keyboard sementara tatapan masih fokus memandang layar laptop. Dan semenjak itulah saya mulai berpikiran bahwa menulis itu tidak segampang yang saya kira.

Hari terus bergulir, sementara keinginan untuk menulis di media cetak begitu membara. Saya mulai mengalihkan perhatian kepada dunia buku. Karena saat itu saya memiliki alasan bahwa ketidakmampuan dalam menulis dikarenakan belum ada gagasan yang tersimpan di memori otak. Dan saya pun mulai membiasakan diri membaca buku serta surat kabar. Kebetulan waktu kuliah saya berlangganan koran Kompas. Jadi mau tidak mau saya membaca surat kabar tersebut. Kalau tidak dibaca, saya rugi. Begitulah kira-kira hitung-hitungannya mahasiswa kos-kosan. Selain itu, saya mulai mencoba untuk tidak menulis hal-hal yang serius. Saya alihkan perhatian saya untuk menulis catatan harian.

Pilihan Editor:

 

Belajar Menulis Melalui Buku Harian

Belajar Menulis Melalui Catatan Harian

Kenapa saya tiba-tiba menulis buku harian? Alasannya sederhana, saya pernah membaca sebuah buku, lupa judulnya. Intinya buku tersebut menjelaskan bahwa untuk menjadi seorang penulis maka biasakanlah menulis catatan harian. Dengan menulis catatan harian, maka kita akan terbiasa untuk berpikir, mengingat, merekam kejadian, menuangkan gagasan, dan mengikat serta mengingat kembali pengatahuan yang pernah dipelajari. Banyak manfaat yang akan diperoleh bagi kita yang terbiasa mencatat di buku harian. Termasuk pikiran kita akan berkembang dan daya ingat bisa meningkat. Karena setiap kejadian, momentum, ide, dan perasaan yang kita alami dicatat dalam buku harian kita.

Saya mencoba belajar menulis apapun dalam buku harian. Menulis di buku harian sangat jauh berbeda dengan menulis artikel atau jurnal ilmiah. Kita bebas mengungkapkan apapun yang kita pikirkan dan rasakan tanpa harus terikat dengan kaidah-kaidah kepunulisan ilmiah atau kaidah kepenulisan jurnalistik yang harus kita penuhi. Bahkan dalam buku harian kita bisa menggunakan bahasa kekinian yang lagi ngetren semisal ‘Pelakor’ (Perebut Laki Orang) atau semacamnya. Dalam buku harian juga kita bisa menumpahkan keluh kesah jiwa kita. Semisal jika kita jengkel atau marah dengan seseorang, bisa kita ungkapkan dengan mencatat di buku tersebut. Atau semisal perasaan kita sedang dilanda rindu yang menggebu kepada seseorang, kita bisa mencatanya. Selain itu, dalam buku harian kita bebas menuliskan apapun yang kita cita-citakan di masa yang akan datang.

Dicibir Karena Menulis Catatan Harian? Cuekin aja

Belajar Menulis Melalui Catatan Harian
Tetap Menulis

Setelah terbiasa menulis di buku harian, saya mulai menikmati dan mencintai aktivitas tersebut. Saya pun tidak mengambil pusing jika semisal ada yang meledek atau mencibir saya karena buku harian saya. Semsial ada yang bilang, “Cowo kok punya buku harian sih?” Jika memang ada yang bertanya semacam itu, maka saya akan menjawab bahwa saya sedang belajar menjadi penulis hebat. Setiap calon penulis hebat wajib menjaga pikiran positifnya agar tidak terjangkit virus negatif yang melemahkan semangat dan mentalitasnya.

Saya percaya bahwa tulisan itu abadi. Maka dari itu saya begitu menyenangi dunia kata-kata. Semenjak saya menyenangi aktivitas menulis, saya pun mulai menikmatinya. Tanpa terasa kegemaran itu mulai meningkat dari waktu ke waktu. Dan saya pun mencoba menulis di media massa. Salah satu surat kabar yang saya kirimkan tulisan adalah Radar Surabaya. Kala itu saya sedikit pesimis terkait pemuatan tulisan tersebut. Alasannya adalah saya adalah pemain baru, dan masih sangat awam dalam dunia tulisa menulis. Bahkan sampai sekarang pun juga masih awam sebenarnya. Karena saya masih tetap berusaha belajar dan berproses melalui catatan harian. Namun setidaknya saya telah belajar berani untuk memulai menulis. Ya, belajar berani menulis di buku harian. Selanjutnya saya mendapatkan kabar dari kawan bahwa tulisan saya diterbitkan. Betapa gembiranya saya. Dan semangat untuk menulis semakin melejit kala itu. Begitulah bagian kecil dari pengalaman saya.

Jangan Takut!

Bagi kawan-kawan yang ingin menerjuni dunia tulis menulis dan merasa tidak bisa menulis, percayalah itu hanya pikiran negatif. Ada yang bilang menulis adalah semacam bakat. Jadi ketika mereka beranggapan tidak berbakat, maka mereka berhenti menulis. Padahal saya berpandangan bakat hanya sepersekian persen dalam menentukan kesuksesan seseorang dalam dunia tulis menulis. Selebihnya adalah dikarenakan gairah, semangat, usaha, kedisiplinan, komitmen dan doa dari orang tersebut. Bisa menulis karena terbiasa menulis. Menulis sama halnya ketika dengan belajar mengendarai sepeda. Kita harus jatuh berkali kali untuk bisa mahir bersepeda. Dan salah satu cara untuk mahir menulis yaitu menulis di buku harian. Lihat saja ada beberapa intelektual sekaligus pemikir di masa silam yang juga memiliki buku harian. Siapa mereka? Contohnya, Soe Hok Gie dan Ahmad Wahib. Jadi, sekarang pertanyaannya adalah kapan kita mulai belajar menulis menulis di catatan harian? Percayalah, praktik langsung jauh lebih ampuh dibandingkan belajar teori menulis. Sama halnya kita belajar teori berenang tapi tidak pernah berani nyemplung ke kolam renang. Hasilnya ya kita tidak bakalan bisa berenang. Menulis sama dengan hal itu.