Pernahkah terpikirkan bahwa cerita rakyat yang didengar saat kecil itu bisa mempengaruhi kehidupan saat dewasa? Jika kita mau menilik sejenak ke beberapa penjuru dunia di mana cerita rakyat atau dongeng (terutama yang sering didengar di masa kecil) bisa berpengaruh dengan karakter bangsa, maka teori McCelland seorang pakar psikologi sosial dari Amerika Serikat telah menemukan fakta empirisnya. Bahwa cerita atau dongeng yang diceritakan pada anak sangat berpengaruh terhadap suatu bangsa.

Sebagai contoh ialah studi kasus dalam tesisnya terkait dongeng di dua negara, Inggris dan Spanyol, yang mana Inggris mempunyai dongeng masa kecil yang mengandung unsur optimisme dan keberanian. Sebaliknya, dongeng Spanyol banyak berisi hiburan yang disisipi penokohan yang cerdik serta licik. Kemudian pengaruhnya adalah pada kondisi masyarakat bangsanya di kemudian hari yang terpengaruh pada esensi cerita rakyat yang didengar waktu kecil.

Pilihan Editor:

 

 

Dongeng Masa Kecil Memengaruhi Karakter ketika Dewasa

Adanya cerita atau dongeng masa kecil yang memengaruhi karakter ketika dewasa dibuktikan juga oleh tokoh bangsa lain, misalnya Hans Christian Andersen dan Saddam Husein. Saddam Husein, mantan presiden dan pemimpin besar Irak, terdidik dalam dongeng. Seperti tertulis dalam buku Man and The City yang ditulisnya sendiri, dirinya sangat terpengaruh cerita-cerita ibunya. Saddam menuturkan, dia kerap dipeluk ibunya sambil ibundanya bercerita tentang para leluhur.

Pengalaman serupa terjadi pada Hans Christian Andersen, seorang penulis cerita anak terkemuka abad 19 dari Denmark. Melalui autobiografinya, The True Story of My Life, menulis, “Setiap minggu ayahku membuat gambar-gambar dan menceritakan dongeng-dongeng”. Sementara ayahnya membacakan Arabian Nights, Ibunya pun melakukan hal yang serupa. Sang ibu mengenalkan dongeng-dongeng legenda rakyat. Kecemerlangan Andersen menyusun kisah dipengaruhi pengalaman batin masa kecil. Ketika dia menggambarkan dalam benaknya dongeng yang diceritakan orang tuanya.

Ilustrasi Kancil Mencuri Timun (Sumber: Upstation.id)

Berdasarkan pengalaman dua tokoh besar di atas, kita bisa mengatakan bahwa cerita atau dongeng ikut andil dalam pembentukan karakter anak. Lalu bagaimana dengan Indonesia? Kita tidak dapat serta merta mempersalahkan tradisi. Tetapi, alangkah lebih baik menelusuri sejenak: sudah idealkah cerita rakyat yang berkembang di masyarakat kita dan dituturkan turun temurun itu? Apakah dongeng Kancil mencuri timun, Bawang merah-bawang putih, legenda Malin Kundang, dan beberapa cerita rakyat lainnya itu memang sudah versi terbaik dari cerita yang disampaikan ke anak cucu? Apakah warisan budaya yang luhur sudah tersisipkan sedemikian rupa di sana, lantas jika belum (bahkan jika lebih banyak hal yang tidak konstruktif) adakah cara untuk mengubah paradigma itu?

Bagaimana dengan Cerita dari Indonesia?

Terlepas dari itu, komik Indonesia pernah menjadi tuan rumah di negeri sendiri pada masa R.A. Kosasih, Ardisoma, Teguh Santosa, Jan Mintaraga, dan Ganes TH. Namun selepas itu, sejak periode 1990-an, komik Indonesia kalah bersaing dengan komik impor asal Jepang, Prancis, dan Amerika Serikat. Maka hal ini setidaknya menjadi panggilan tersendiri bagi kita.

Ini pun bukan tentang seberapa banyak budaya yang kita punya, lalu kita abaikan, atau  folklor yang kita dengar, kemudian kita lupakan. Sebenarnya kita tidak akan kehabisan cara untuk sekadar membuktikan tiap generasi dalam suatu peradaban mempunyai hasil pemikirannya sendiri untuk dibagikan ke generasi berikutnya.

Modifikasi Cerita Rakyat

Untuk tetap bisa memperkenalkan cerita rakyat, seperti Kancil mencuri timun, Bawang merah-bawang putih, legenda Malin Kundang, dan beberapa cerita rakyat lainnya sebagai sarana untuk mengenalkan nilai-nilai luhur nenek moyang, maka cerita tersebut perlu dimodifikasi sedemikian rupa. Tujuannya adalah agar maksud pengenalan cerita tersebut tercapai. Dengan cara itu, maka diharapkan bahwa pemahaman anak terhadap karya turun temurun tersebut sesuai dengan maksud yang ingin dicapai.

Memang benar, modifikasi seperti itu akan dianggap sebagai sikap yang tidak setia kepada cerita rakyat yang ada di dalam masyarakat, bagi sebagian orang. Cerita tersebut dianggap jadi tidak ‘asli’ lagi. Bagaimanapun, dalam kasus ini, cerita rakyat hanya media untuk tujuan yang lebih baik, yaitu memperkenalkan nilai-nilai luhur kepada anak-anak. Barangkali tidak perlu merasa bersalah karena memperkenalkan cerita rakyat yang berbeda dari versi yang umum dikenal orang. Kalaupun versi ‘asli’ yang turun temurun itu memang penting untuk dimengerti, anak-anak bisa saja mengetahuinya ketika sudah remaja atau dewasa ketika mereka sudah mampu berpikir dengan matang dan membedakan benar salah.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.