in

Benarkah Pendidikan di Indonesia Ranking Terbawah di Dunia?

Sebuah research mengungkapkan bahwa pendidikan di Indonesia masih ‘long way to go’…

Halo, sahabat Ublik. Sebagai orang yang berkecimpung dalam dunia IT di bidang pendidikan (ICT in education), saya ingin berbagi pandangan tentang pendidikan di Indonesia. Sebenarnya, berbicara soal pendidikan di Indonesia merupakan hal yang cukup kompleks dan membutuhkan pembahasan yang lebih mendalam. Kali ini saya akan menelaah tentang fakta pendidikan di berbagai negara di dunia, termasuk pendidikan di Indonesia. Saya juga akan membahas lebih dalam tentang permasalahan pendidikan di Indonesia, kemudian saya lanjutkan pada artikel bagian dua tentang ‘Investasi SDM melalui Peningkatan Kualitas Pendidikan’.

We have 21st century learners taught by 20th century teachers in 19th century classrooms.

Saya merupakan warga negara Indonesia yang lahir pada tahun 90an (1990-1999), atau saya sebut Generasi 90-an. Generasi 90-an adalah generasi yang saya anggap memahami dan mengalami perubahan teknologi informasi mulai dari zaman teknologi telepon masih sangat jadul, masih monophonic, kemudian berkembang ke polyphonic, hingga sekarang ada smartphone dengan berbagai kecanggihannya. Dari zaman di mana handphone belum ada kameranya, hingga sekarang smartphone dengan kamera canggihnya.

Generasi 90-an pun mengalami zaman di mana orang hanya menggunakan satu email untuk segala hal, namun generasi sekarang memiliki beberapa email untuk keperluan yang berbeda-beda. Generasi 90-an sangat tepat untuk menjadi jembatan antara generasi milenial dengan orang tua ataupun para pendidik yang baru mengerti teknologi. Mereka adalah aset untuk melakukan transformasi di dunia pendidikan.

pendidikan di indonesia , teknologi
Teknologi informasi dan transformasi pendidikan di Indonesia

Keterampilan tenaga pendidik dalam mengelola teknologi informasi ataupun literasi digital masih menjadi masalah di dunia pendidikan di Indonesia. Masih banyak pendidik yang menggunakan sistem era abad 20-an untuk mengajar dan belum memahami teknologi informasi, namun harus mengajar murid yang lahir di era abad 21 yang memiliki karakteristik unik dan lebih familiar dengan teknologi. Walaupun sistem pendidikan sudah dipersiapkan sebaik mungkin untuk menghadapi tantangan dunia ke depan, namun masih banyak tenaga pendidik ataupun masyarakat yang tidak menyadari tantangan tersebut. Alhasil, produk pendidikan hanyalah sebatas ijazah dan lulus, tanpa dibekali skill abad 21.

Kita membutuhkan 21st-century school, 21st-century education, 21st-century teaching & learning, 21st-century teacher dan juga 21st-century skills jika ingin benar-benar mempersiapkan generasi di masa depan agar tidak menjadi pekerja ataupun pelayan di negeri sendiri dan menjadi negara yang kuat bermartabat dan berdaya saing tinggi.

~ Hardika Dwi Hermawan

Saat ini, dunia pendidikan memang tak dapat dilepaskan dari campur tangan teknologi. Era industri 4.0 menuntut setiap sektor mengalami perubahan dan transformasi. Di banyak negara, penerapan ICT in education sudah begitu canggih dan digunakan untuk mendukung persiapan anak didik untuk bersaing di masa depan.

Menurut PISA worldwide ranking tahun 2015-2016, Indonesia masih masuk dalam ‘Top’ negara dengan kemampuan matematika, science, and reading terendah di dunia. Bahkan Indonesia kalah jauh dengan rekan se-regionalnya, Vietnam, yang berada di level atas, dan Singapore yang berada di puncak ranking tertinggi! PISA tidak hanya mengukur subject mata pelajaran tersebut, namun juga menggunakan soal yang melatih critical thinking siswa.

Baca juga:

7 Alasan Mengapa Sarjana di Indonesia Masih Banyak yang Menganggur

Inilah 10 Skill yang Paling Dibutuhkan di Tahun 2020, Kamu Sudah Memilikinya? 

Ketika Pekerjaan Tak Butuh Ijazah, Haruskah Kita Kuliah?

Harus Disesuaikan dengan Kondisi Bangsa

Singapore, Hong Kong, Korea Selatan, Taiwan, serta Finlandia merupakan beberapa negara dengan ranking tertinggi dalam PISA. Namun sistem pendidikan di Finlandia berbeda dengan negara-negara di Asia tersebut. Sebagai contoh, siswa di Korea Selatan memiliki jam belajar yang sangat padat dan belajar 6 hari dalam seminggu dari pagi hingga malam. Berbeda dengan sistem yang diterapkan oleh Finlandia, di mana siswa memiliki waktu belajar lebih singkat. Dalam beberapa tahun ini, peringkat Finlandia turun menjadi peringkat 6 dan Singapore menjadi yang terbaik di dunia, diikuti Hong Kong, dan Korea Selatan.

Pengembangan kurikulum memang harus disesuaikan dengan kondisi bangsa, karakteristik masyarakat, budaya, dan kehidupan sosial masyarakat di suatu wilayah. Kita tidak langsung dapat mengadopsi sistem Finlandia ataupun Singapore secara langsung. Sebagus-bagusnya sistem di Finlandia, apabila tidak sesuai dengan karakteristik masyarakat Indonesia, akan menjadi boomerang tersendiri di kemudian hari. Hal tersebut juga disampaikan oleh Hannamiina Tanninen, yang merupakan Finish native and Asia correspondent yang pernah mengalami pendidikan di dua negara tersebut. Dalam TEDx Talks dia justru mengatakan bahwa Finlandia memang negara dengan sistem pendidikan terbaik di dunia, terutama jika dikaitkan dengan kualitas pendidiknya, namun dia juga mengungkapkan bahwa negaranya harus belajar dari sistem pendidikan di Asia timur jika masih ingin pendidikannya relevant.

pendidikan di Indonesia , ranking
Indeks Pendidikan Dunia untuk Masa Depan 2018 (Sumber: https://educatingforthefuture.economist.com/)

Berdasarkan Woldwide Educating for the Future Index yang dikeluarkan oleh Yidan Prize tahun 2018, mengukur kesiapan pendidikan pada sebuah negara dalam mempersiapkan generasi mudanya di masa depan, di sana terlihat bahwa dari 50 negara, Indonesia berada pada ranking 43 dan hanya lebih baik 1 peringkat dari Ethiopia. Hal tersebut tentunya sangat memukul, di mana secara kuantitas kita berada pada peringkat 4 dunia, namun secara kualitas dalam mempersiapkan SDM di masa depan, kita salah satu peringkat terbawah.

Research tersebut juga mengungkapkan bahwa Indonesia masih long way to go jika tidak benar-benar melakukan reformasi ataupun transformasi dalam dunia pendidikan. Yidan Prize mengukur skills yang dibutuhkan anak muda saat ini di masa depan, di antaranya adalah kemampuan leadership, entrepreneurial, interdisciplinary, digital & technical, creative & analytical dan juga global awareness & civic education.

Memang tantangan pendidikan di Indonesia berbeda dengan negara lain. Indonesia memiliki populasi yang sangat besar dan bentang alam yang berbeda dengan negara lain. Indonesia memiliki lebih dari 17.000 pulau. Kebijakan pendidikan di Indonesia pun masih dinilai kurang baik dan lingkungan pengajaran juga belum begitu dapat mempersiapkan siswa untuk siap dengan kebutuhan di masa depan.

Sebanyak 75 persen sekolah di Indonesia belum memenuhi standar layanan minimal pendidikan dan dalam hal pemerataan kualitas pendidikan Indonesia berada di peringkat 49 dari 50 negara yang diteliti. Apalagi di wilayah timur Indonesia, gap kualitas pendidikan dengan wilayah barat sangat terasa, masih banyak ditemui anak SMP di bagian timur Indonesia yang kesusahan dalam membaca naskah sederhana dan menghitung sederhana.

Terdapat Ketidakadilan dalam Hal Pendidikan yang Berkualitas

Hal itu memperlihatkan fakta bahwa terdapat ketidakadilan dalam memperoleh pendidikan di Indonesia yang berkualitas. Tenaga pendidik dan pengelola pendidikan di bagian timur pun masih banyak lulusan SMA serta memiliki kualitas yang berbeda dengan bagian barat, terutama di pulau Jawa. Masalah pemerataan pendidikan dan kualitas pendidikan masih menjadi permasalahan di Indonesia dari dulu hingga sekarang.

Pemerintah memang sudah berupaya menerapkan program-program seperti SM3T dan talent scouting untuk mengirimkan fresh graduate ke daerah-daerah pelosok dan tertinggal di Indonesia ataupun mengisi kekosongan guru. Gerakan ‘Indonesia Mengajar’ yang diinisiasi oleh Anies Baswedan pun menjadi salah satu pintu yang baik untuk melakukan pemerataan. Hal ini merupakan hal baik dan dapat kita dorong terus walaupun tantangan di lapangan pun sangat beragam, mulai dari tantangan sosial, infrastruktur dan juga budaya.

Bersambung ke bagian 2.

Ditulis oleh Hardika Dwi Hermawan

Enthusiast in Information Technology in Education. MSc in ITE, the University of Hong Kong melalui beasiswa LPDP. Penulis buku Yakin mau Kuliah di Luar Negeri? Peraih Alumni Award LPDP 2019 untuk Bidang Pendidikan. Seorang pembelajar yang menyenangi bidang pendidikan, teknologi dan sosial kemasyarakatan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

puisi , aksara

[Ruang Fiksi] Aksara yang Berhenti Sejenak di Persinggahan

investasi , pendidikan

Bagaimana Investasi SDM Bisa Meningkatkan Kualitas Pendidikan?