in

Ketika Orang Cerdas menjadi Pelaku Bullying, Apa Partisipasi Kita?

Tidak hanya yang ‘kuat’, yang punya otak juga bisa mem-bully!

Ilustrasi perisakan (pixabay.com)

Bullying bukan isu isapan jempol belaka, pun tak semudah membalikkan telapak tangan untuk menyelesaikannya. Seperti dirangkum di Buku Panduan Melawan Bullying (2015) yang dirilis oleh ‘Sudah Dong’, suatu gerakan antiperisakan, bahwasanya korban bullying lebih mungkin mengalami pelbagai problem sosial, misalnya menjaga hubungan baik dengan orang tua, persahabatan jangka panjang, dan dalam lingkungan pekerjaan. Mereka yang ditindas juga berpotensi menjadi pelaku bullying terhadap diri sendiri yang pada akhirnya membahayakan dirinya atau bahkan turut terlibat menjadi pelestari budaya dendam dan kekerasan.

Mirisnya, intelegensia – yang memiliki manfaat besar bagi kehidupan pemiliknya dan orang banyak, kecuali Anda adalah villain yang dibutakan oleh ketamakan dan ingin menguasai dunia seperti lazim diceritakan di kisah-kisah superhero – justru bisa menjadi senjata yang kuat untuk membuat mereka jadi pelaku bullying. Kok bisa?

( Baca jugaPunya Tendensi Jadi Pelaku Body Shaming? Hati-hati Akibatnya )

Ketika ‘Yang Tahu’ Menyerang ‘Yang Tidak Tahu’

Saat orang mudah menindas dengan kecerdasan (Sumber: Pixabay)

Pada dasarnya, perundungan adalah penyalahgunaan kekuatan, yang tentu saja tak terbatas pada fisik, mengingat definisi kekuatan itu sendiri amatlah luas; kekuatan intelegensia pun bisa menjadi bekal dari bullying atau cyberbullying. Tengoklah apa yang terjadi saat Liza Zabri memberikan komentar di YouTube mengenai penyebab kehamilan. Ia menjadi viral sekaligus target perundungan netizen secara bersamaan setelah menyatakan wanita bisa hamil tanpa hubungan badan. Sebab, dari informasi yang ia akui didapatkan dari dosen ahli ilmu fikihnya, sperma pria bisa masuk lewat pori-pori tubuh wanita jika kebetulan keduanya berada di dalam air seperti kolam renang.

Liza lantas mengaku stres, karena ia terus dirisak kendati telah meminta maaf pascakejadian tersebut. “Aku baca sekitar 800-an komentar. 20 persen bilang aku bodoh, 70 persen menyalahkan dosenku, dan 10 persen membelaku,” katanya pada cewekbanget.id. Dalam wawancara itu pula, Liza menyatakan kalau dirinya memang tidak mendapatkan juga memperkaya diri dengan pendidikan seks yang baik dan cukup, sehingga ia mempercayai ‘teori’ kehamilan yang keliru itu dan dengan percaya diri mengutarakannya di ruang publik.

( Baca jugaHati-hati, Hoax Tak Hanya Tahan Bibir Tapi Juga Tahan Jempol )

Kecerdasan Kolektif

Ilustrasi kecerdasan (Sumber: Pixabay)

Soal ini, penulis menilai perlu meninjau kembali pemikiran Henry Jenkins, yang mengembangkan argumen Pierre Levy. Pakar ilmu komunikasi dan media itu mengemukakan konsep collective intelligence (kecerdasan kolektif) sebagai kekuatan komunitas virtual yang berasal dari pengetahuan dan keahlian anggota mereka. Mereka berkumpul secara sukarela dan cenderung bersifat temporer, tetapi memiliki satu ketertarikan atau keterikatan emosional yang sama. Implementasinya pun luas, dari forum belajar daring sampai aktivitas spoiler seperti yang dikupas Jenkins di bukunya, Convergence Culture: Where Old and New Media Collide (2006).

Pada dasarnya, segenap warganet bisa dibilang merupakan anggota dari komunitas kecerdasan kolektif ini. Sifat internet yang terbuka dan mempersilakan setiap orang menjadi produser informasi atau kontenlah pintu masuknya. Tak cuma di media sosial seperti Facebook atau YouTube, kolom komentar media daring pun biasa menjadi wadah pengumpulan sekaligus persilangan pengetahuan para netizen.

Kasus dirundungnya Liza hanya karena yang bersangkutan tak terpapar informasi seakurat dan sebanyak pengguna internet lain adalah contoh pemanfaatan kecerdasan kolektif yang tak elok. Para warganet yang merundung Liza lupa bahwasannya mereka juga sama seperti Liza, yaitu orang-orang yang membutuhkan ruang maya tersebut untuk urusan informasi, hiburan, bahkan mencari teman. Internet sebagai medium kecerdasan kolektif harusnya bisa menjadi tempat untuk saling berbagi dan belajar, tanpa perlu terlibat dalam pusaran pelanggeng perisakan. Seperti kata Pierre Levy, “Tidak ada seorang pun yang mengetahui semua hal, (tetapi) setiap orang mengetahui sesuatu, semua pengetahuan bersemayam di kemanusiaan.”

( Baca juga7 Alasan Mengapa Kita Harus Sering Berinteraksi dengan Orang yang Berpikir Positif )

Apa Partisipasi Kita?

Jadi, apa partisipasi kita? (Sumber: Pixabay)

Namun, seperti yang telah penulis singgung di awal, menyelesaikan atau memutus rantai bullying di dunia maya perlu komitmen dan partisipasi yang luas dari segenap individu. Tanpa terlalu mengandalkan usaha dari pengelola platform untuk menciptakan lingkungan siber yang nyaman, menjadi warganet yang aktif dalam memberikan literasi terkait hal-hal yang kita kuasai atau sedang pelajari ialah cara paling sederhana yang bisa kita tempuh. Sudah banyak yang mencontohkan hal ini, sebut saja Ivan Lanin dari segi kebahasaan, Prof. Mahfud MD yang doyan berdialog tentang hukum dan ketatanegaraan, atau Pinot (Wahyu Ichwandardi) dari bidang kesenian.

Selain itu, dengan menyadari status kita sebagai bagian dari komunitas kecerdasan kolektif, maka kita selayaknya juga bisa menempatkan diri sebagai seseorang yang wawas diri. Bahwasannya, pengetahuan yang kita miliki sekarang mungkin masih membutuhkan kepingan informasi dari orang lain untuk melengkapi dan memperkayanya. Walaupun internet bukan budaya Indonesia, semangat kecerdasan kolektif yang dibawa oleh internet ini sangat sesuai dengan prinsip gotong-royong yang sudah menjadi DNA masyarakat kita.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Ternyata Taman Nasional Terbesar se-Asia Tenggara Ada di Papua!

Sempat Dikira Penyakit Mental, Inilah Uniknya Kepribadian Introvert