in ,

Punya Tendensi Jadi Pelaku Body Shaming? Hati-hati Akibatnya

Pelaku body shaming kini bisa dikenai hukuman penjara lho!

Akhir-akhir ini istilah body shaming atau mengejek fisik seseorang ramai menjadi bahan pembicaraan. Hal ini terjadi karena adanya UU ITE (Undang-undang Informasi dan Transaksi Elektronik) yang mengatur tentang penghinaan dan pencemaran nama baik, di mana body shaming termasuk di dalamnya.

Dasar hukumnya antara lain: Kitab Undang-undang Hikup Pidana (KUHP), Kitab Undang-undang Hukum Acara Pidana (KUHAP), dan undang-undang No. 11 tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (UU ITE) yang telah diubah oleh undang-undang No. 19 tahun 2016.

Dilansir dari cnnindonesia.com, pelaku body shaming bisa dikenakan UU ITE pasal 45 ayat 1 dan pasal 27 ayat 3 dengan ancaman hukuman pidana 6 tahun. Kedua, bisa dikenakan pasal 310 KUHP dengan ancaman hukumannya 9 bulan. Kemudian hinaan yang dilakukan secara tertulis dalam bentuk narasi melalui transmisi di media sosial bisa dikenakan pasal 311 KUHP dengan hukuman 4 tahun. Duh, serem juga hukumannya, ya, Kawan…

Perilaku body shaming masuk ke dalam bentuk penghinaan dan pencemaran nama baik (Sumber gambar: wanita.me)

Kepala Biro Penerangan Masyarakat Divisi Humas Mabes Polri Brigjen Pol Dedi menjelaskan pada redaksi CNN Indonesia, bahwa sudah ada 966 kasus yang dilaporkan terkait kasus penghinaan dan pencemaran nama baik sepanjang tahun 2018. Dari 966 kasus itu, 374 kasus yang ada telah diselesaikan. Jika menyangkut ITE, ancamannya akan lebih besar karena apa yang diunggah di media sosial bisa saja menjadi viral dan memberi dampak yang lebih parah pula.

Baca juga: Bagaimana Hidup Tanpa Media Sosial Tanpa Ketinggalan Tren Baru?

Apakah kamu pernah jadi korban body shaming juga?

Nah, sebenarnya isu yang sedang hangat ini tentu akan disambut baik oleh para korban body shaming, yang merasa terganggu dengan hinaan atau ejekan yang dia terima dari orang lain. Apalagi jika penghinaan itu dilakukan di depan orang banyak atau linimasa. Bahkan yang bikin miris, biasanya orang-orang tidak menganggap perbuatan ini merugikan pihak lain. Para pelakunya menganggap wajar mengomentari citra tubuh orang lain tanpa memikirkan perasaan mereka.

Salah satu pesohor Indonesia yang kerap menjadi korban body shaming adalah Prilly Latuconsina. Artis berbakat itu sering menunjukkan kekesalannya ketika bentuk tubuhnya dikomentari negatif oleh warganet, terutama di akun Instagram miliknya. Mendengar kabar bahwa pelaku bisa dihukum pidana, aktris berusia 22 tahun itu justru menantang balik para pelaku dengan terang-terangan.

Selain Prilly Latuconsina, ada pula penyanyi terkenal jebolan American Idol, Kelly Clarkson, yang sering diejek ‘gendut’ oleh warganet. “Aku tidak terobsesi pada berat badanku, mungkin itulah salah satu alasan kenapa orang lain merasa bermasalah tentang itu,” ujarnya pada Redbook. Kelly diejek sebab dia tidak berusaha menurunkan berat badannya setelah melahirkan anak perempuannya pada tahun 2014.

Apakah kamu pernah jadi korban body shaming juga? Atau malah punya kecenderungan mengomentari fisik orang lain tanpa kita sadari? Mari kita ulas dampak yang ditimbulkan dari perilaku body shaming dan cara mengurangi kebiasaan buruk tersebut.

Baca juga: 7 Alasan Mengapa Kita Harus Sering Berinteraksi dengan Orang yang Berpikir Positif

Dampak Body Shaming

Korban body shaming kesulitan untuk menerima diri mereka apa adanya (Sumber gambar: saga.co.uk)

Jangan pernah anggap sepele akibat yang ditumbulkan oleh body shaming. Dikutip dari cnn.com, penelitian tahun 2017 menyebutkan perempuan yang kelebihan berat badan yang percaya tentang pesan negatif tentang citra tubuh mereka berada di risiko yang besar untuk terkena penyakit jantung dan diabetes daripada orang yang mempertahankan citra tubuh positif.

Penelitian yang ada juga mendukung fakta bahwa ketika orang merasa buruk tentang diri mereka sendiri, maka kesehatan fisik dan mental mereka bisa terganggu, kata penulis sekaligus asisten profesor psikologi di University of Pennsylvania’s Perelman School of Medicine, Rebecca Pearl, PhD. Bahkan, ketidaksukaan pada citra tubuh bisa mengarah ke depresi.

Baca jugaGenerasi Milenial Rentan Gangguan Kesehatan Mental, Fakta atau Mitos?

Pearl juga menambahkan bahwa orang yang obesitas sering digambarkan secara negatif di media, perundungan di sekolah, dan hubungan sosial. Orang-orang bahkan dihakimi oleh keluarga sendiri atau di tempat pelayanan kesehatan. Pesan-pesan negatif itu sangat susah untuk dihindari.

Kalau kita perhatikan di sekitar kita, Kawan, orang-orang memang suka sekali mengomentari bentuk tubuh orang lain tanpa memikirkan dampak yang ditimbulkan. Hal ini tidak hanya terjadi pada kasus berat tubuh, tetapi termasuk juga wajah dan warna kulit. Ketika melihat wajah teman yang berjerawat, kita berkata, “Ih, kok mukamu jadi jerawatan gitu?”. Tanpa melihat situasi bahwa dia bisa saja jadi malu sebab masalah yang ingin dia hindari justru diungkit di depan umum.

Ketika orang merasa tidak percaya diri dengan fisiknya, sebenarnya dia juga sedang mengalami pergolakan batin yang luar biasa. Kamu tidak tahu seberapa keras usahanya untuk terlihat ‘sempurna’ agar tidak diejek lagi. Atau bisa saja mereka jadi membenci diri sendiri dan putus asa, sehingga mengabaikan kesehatan fisik dan mentalnya. Bagi orang yang mengalami ejekan karena berat tubuh, hal itu bisa membawanya pada masalah pola makan seperti anoreksia.

Tips Supaya Kamu Nggak Jadi Pelaku Body Shaming

Jangan jadi pelaku body shaming ke diri sendiri dan orang lain (Sumber gambar: Getty Images)

Ada beberapa cara untuk menghindarkan kamu jadi pelaku body shaming, baik ke diri sendiri maupun orang lain, ditulis oleh Erika Vargas, MA, dokter di klinik Walden’s Braintree, dilansir dari waldeneatingdisorders.com:

1.Identifikasi siapa saja yang memiliki citra positif pada tubuhnya sendiri

Berteman dengan orang-orang yang tidak membenci tubuhnya dan tidak berkata buruk tentang fisik orang lain dapat membantumu untuk berusaha mencintai tubuhmu sendiri. Kamu bisa belajar untuk berpikir positif sekaligus mengurangi hal negatif dari sekitar.

Jika kamu orang yang suka mengomentari fisik orang lain, berteman dengan orang-orang yang berpikiran positif mungkin saja bisa mengubah perilaku buruk tersebut.

2.Hadapi dan diskusikan perilaku body shaming

Bila orang di sekitarmu melakukan body shaming, baik pada dirimu atau orang lain, dan kamu sudah mengerti perilaku itu tidak baik, maka ajaklah mereka bicara. Utarakan mengapa apa yang mereka ucapkan bisa memberi dampak buruk bagi orang lain. Bisa saja mereka tidak menyadarinya. Lakukan cara ini dengan baik-baik, ya.

3.Temukan hal yang kamu sukai tentang dirimu

Kalau kamu adalah pelaku body shaming pada diri sendiri, kini saatnya untuk tidak memikirkan kekuranganmu, dan perhatikan hal apa yang kamu sukai dari tubuhmu. Mungkin, meski kamu kurang puas pada ukuran tubuhmu, tetap cintai dirimu, misal kamu memiliki rambut yang indah. Temukan pula hal fisik atau non-fisik yang membuatmu bersyukur setiap hari.

Berhenti mengkritisi penampilan apalagi diri sendiri memang tak semudah membalikkan telapak tangan. Tetapi menghargai kelebihan yang sudah Tuhan berikan pada kita jauh lebih bermanfaat. Makanya, yuk kita mulai belajar mencintai diri sendiri dengan berhenti melakukan body shaming.

Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Loading…

0

Comments

0 comments

Mengapa Banyak Orang Suka Mengonsumsi Berita Negatif?

Agar Kita Bisa Ibadah Umroh di Usia Muda, Ini Tipsnya