Jika di Jepang punya objek wisata hutan bambu Sagano yang terkenal, maka Indonesia pun memiliki beberapa objek wisata hutan bambu. Sebut saja misalnya hutan bambu Desa Panglipuran (Bali), taman wisata Boon Pring (Malang), hutan bambu Keputih (Surabaya), hutan bambu Magelang, Lumajang, dan masih banyak lagi.

Suasana teduh dan suara gesekan daun bambu yang merdu tentunya akan membuat betah orang-orang yang berada di sana. Tapi bagaimana kalau ada pasar di tengah hutan bambu? Pernahkah kamu bayangkan sebelumnya?

Pilihan Editor:

Namanya Pasar Papringan. Sesuai namanya, pasar ini memang berada di daerah yang ditumbuhi banyak pohon bambu. Dalam bahasa Jawa bambu disebut dengan pring. Nah, hutan bambu ini dikenal dengan papringan. Pasar Papringan Ngadiprono ini digelar di atas lahan bambu seluas 2.500 meter persegi.

Sejak zaman dahulu, pohon bambu sudah dikenal sebagai tanaman yang banyak manfaat. Mulai dari akarnya yang berfungsi sebagai penahan erosi untuk mencegah bahaya banjir. Batangnya berfungsi untuk beragam kebutuhan seperti furnitur, pagar, hiasan rumah, hingga mainan. Daunnya berfungsi sebagai alat pembungkus makanan kecil seperti wajik dan uli.

Konsep Wisata yang Unik

Keberadaan pasar di tengah-tengah kebun bambu yang satu paket dengan keindahan alam desa ini menjadi magnet yang bisa menarik orang-orang. Bukan hanya berwisata, tapi juga untuk datang kembali ke desa. Sebagaimana setiap desa memiliki potensi yang bisa dikembangkan sesuai kearifan lokalnya masing-masing, begitu juga dengan papringan. Pasar Papringan beralamat di Dusun Ngadiprono, Ngadimulyo, Kedu, Temanggung, Jawa Tengah. Konsep membangun pasar di bawah rumpun bambu ini sebenarnya terispirasi pasar papringan yang sebelumnya pernah ada di Dusun Kelingan, Desa Caruban, Kecamatan Kandangan. Pasar di tengah hutan bambu ini memiliki konsep wisata yang unik.

Pedagang di Papringan (Sumber: wisatane.com)

Bukan hanya memindahkan orang kota ke desa seperti objek wisata desa pada umumnya, tapi juga mengajak agar masyarakat (khususnya yang asli Temanggung) kembali pada yang mereka miliki, mengembangkannya, sekaligus menjual komoditas yang mempunyai nilai produk tinggi. Di pasar Papringan tersedia kuliner tradisional seperti; sego jagung, pepes, klepon, cenil, dawet ayu, dan gethuk yang bahan-bahannya asli hasil tani setempat.

Ada lagi yang menarik di pasar ini. Di sini pengunjung tidak memakai uang rupiah untuk transaksi. Yang dipakai sebagai alat tukar transaksi jual beli adalah mata uang bambu. Setiap keping mata uang bambu setara dengan nilai nominal Rp 2.000,00.

Koin ‘pring’ untuk transaksi (Sumber: Wisatane.com)

Siapa yang Menggagas Pasar Papringan?

Mereka yang aktif di Komunitas Mata Air dan komunitas Spedagi adalah orang-orang berjasa yang menggagas konsep Pasar Papringan di Temanggung. Semua yang ada di pasar tersebut dikelola oleh beberapa pemuda yang tergabung dalam Komunitas Mata Air, di bawah pembinaan komunitas Spedagi. Komunitas ini juga melibatkan para warga dusun setempat. Cita-cita yang sangat mulia dari dua komunitas tersebut adalah mengurangi jumlah urbanisasi sekaligus menggerakkan perekonomian berbasis kerakyatan.

Kuliner tradisional (Sumber: curugsewu.com)

Ketua Komunitas Mata Air yang merupakan penggagas pasar papringan di Dusun Ngadiprono, Imam Abdul Rofik mengatakan “Tidak hanya sebagai upaya konservasi alam, terutama vegetasi tanaman bambu, pasar papringan juga ditujukan untuk mengangkat segala kearifan lokal masyarakat sekaligus merangsang pertumbuhan ekonomi warga.”

Adanya pasar ini juga memberi keuntungan yang berarti dalam hal aktivitas perekonomian masyarakat. Rata-rata pedagang yang berjualan di Pasar Papringan bisa mendapat untung sekitar Rp 500.000,00 dalam sehari. Sejak dibuka, Pasar Papringan Temanggung bisa dikatakan tidak pernah sepi pengunjung. Ada sekitar lima ribu orang yang mengunjunginya setiap hari pasaran. Sebagai informasi, pasar ini hanya dibuka setiap hari dan pasaran tertentu, yaitu Minggu Wage dan Minggu Pon mulai pukul 06.00 hingga 12.00 WIB.

Mereka Juga Menjaga Kelestarian Alam

Para pedagang yang berjualan di Pasar Papringan tidak hanya mencari keuntungan materi dari hasil jualannya, tapi mereka juga menjaga kelestarian alam. Para pembeli pun diajak untuk bersama-sama mencintai lingkungan. Di Papringan, seluruh dagangan tidak menggunakan bahan plastik. Itulah upaya kreatif yang dilakukan oleh komunitas bersama masyarakat, agar kebun bambu di Dusun Ngadiprono tersebut tetap nyaman, memberi manfaat, dan membanggakan.

Karena itulah, ketika kita ke sana, ikutlah menjaga agar bisa menjadi objek wisata yang berkelanjutan (sustainable), dan tidak menghilangkan kearifan lokalnya. Sayang sekali jika kearifan lokal itu hilang, maka pasar di tengah hutan bambu hanya tinggal kenangan.

 

(Sumber gambar utama: Instagram @pasarpapringan)