in

Pahlawan di Jalan Raya untuk yang Suka Bepergian Sendiri

“Kalau ponselku tidak berdering waktu itu, entah apa jadinya. Aku menyadari di kemudian hari, bahwa sudah sedekat itu aku dengan mara bahaya! Untung saja, ‘pahlawan di jalan raya’ itu menelepon dengan cepat. Kalau terlambat sedikit saja, aku tidak bisa membayangkan hal mengerikan apa yang mungkin bisa terjadi padaku yang suka pergi ke mana-mana sendiri…”

Apakah kamu termasuk orang yang suka bepergian sendiri? Kalau iya, ada baiknya kita simak lanjutan dari penggalan cerita seorang sahabat yang berdasarkan kisah nyata di atas. Mudah-mudahan ada pelajaran penting yang bisa kita petik.

Sebut saja dia Er. Baru selesai kuliah tahun lalu. Ia suka ke mana-mana sendiri. Bepergian ke luar kota naik kendaraan umum di malam hari sudah biasa. Meski orang tuanya sering mengkhawatirkan setiap kali anak gadisnya itu pergi jauh, jiwa mudanya yang memberontak selalu ingin membuktikan. Saat kembali ke rumah, ia bisa berkata “aku baik-baik saja, tidak perlu khawatir”.

Untuk cerita selengkapnya, kita persilakan Er untuk ‘mengambil alih’, biar dia bercerita sendiri kepadamu.

Hallo Sahabat, Aku mau bercerita sekaligus bertanya: Kira-kira apa sih satu hal yang ingin kamu lakukan mumpung masih muda? Apapun itu, kamu bebas memilih. Tentu setiap pilihan ada konsekuensinya. Kalau aku, salah satu hal yang sangat kusukai adalah solo traveling alias bepergian sendiri. Ke manapun tujuannya, melakukan perjalanan sendiri itu selalu memberi kesan spesial. Bukannya individualis atau bagaimana, entah mengapa senang saja rasanya merenung sendiri di kendaraan, memotret lanskap kota-kota, menemui hal-hal tak terduga. Di setiap kendaraan yang mengantar ke perjalanan, entah itu kereta, bus malam, taksi, sampai ojek online, semuanya ada cerita.

Yang menyenangkan dari perjalanan tidak selalu tentang tujuannya, tapi perjalanan itu sendiri. Aku tidak sedang meromantisasi keadaan, bahkan mungkin ini agak aneh. Kalau teman-teman seumuranku menyukai kombinasi kopi dan senja, memilih menjadi pejuang matahari terbit di puncak gunung, aku suka mengamati kehidupan urban. Tepatnya, suasana jalan raya di sore hari. Aku suka menghirup udara kota di sore hari. Kotor sih memang, tapi ada semacam aroma perjuangan di sana.

Perjalanan memang menyediakan apa saja yang tidak ada di rumah. Anak-anak kecil yang menjual tisu, remaja tanggung yang jadi pengamen di lampu merah, penjual koran yang sepertinya tidak khawatir tentang masa depan media cetak, atau bapak-bapak pengemudi ojek online yang tiba-tiba bisa jadi teman ngobrol seru. Di jalanan, segalanya jadi tak terduga!

Aku, sebagaimana kalian yang masih muda, mungkin akan menikmati setiap detil peristiwa saat bepergian jauh dan sendirian. Ada banyak nama orang baru yang akan berkesan. Tapi, orang tua ingin anaknya selalu dalam keadaan aman tenteram. Ya, memang beralasan kok. Setelah melewati perdebatan panjang, akhirnya luluh juga.

“Kamu boleh pergi-pergi sendiri, asal pakai duit kamu sendiri, dan jangan sembarangan memilih kendaraan umum,” kata ibuku suatu hari. Yes! Setidaknya kalau ibu sudah memberi lampu hijau, bakal lebih gampang urusannya. Ibuku memang tipe orang tidak tegaan, sekaligus suka memberi tantangan.

Jiwa muda dan petualangan sepertinya tidak bisa dipisahkan. Aku sangat ingin bebas pergi-pergi ke manapun, ingin seperti orang-orang modern lainnya, tahu cara belanja pakai HP, menggunakan aplikasi taksi online, dan melakukan hal seru lainnya yang susah dibayangkan sepuluh tahun lalu.

Kalau mau jadi lebih mandiri dan tangguh, cobalah bepergian sendiri, entah di dalam maupun luar negeri. Nanti kau akan temukan orang-orang baik di setiap persinggahan.

“Tapi ingat, jangan gampang percaya sama orang!” Entah ke berapa kali ibuku berpesan begitu.

Perkataan ibu ada benarnya. Ada yang berbeda kemarin sewaktu aku sedang dalam perjalanan singkat karena ada urusan yang mengharuskan ke kampusku di bumi Arema dan naik bus malam di bulan Juli itu. Tepatnya saat perjalanan pulang. Singgah sebentar di terminal Tirtonadi Solo, sebelum pulang ke rumah.

Baca Juga: 12 Tips Traveling yang Aman Saat Kamu Harus Pergi Sendirian

Waktu itu pukul 02.20 dini hari. Di ruang tunggu, suasana terminal cenderung sepi. Aku tenang dan santai saja. “Ini bukan ibukota.” Pikirku. Kukira tidak alasan untuk mencemaskan apa-apa. Sudah sudah, tak usah berpanjang kata. Langsung saja ke inti cerita. Jadi begini, dini hari itu aku turun dari bus malam jurusan Surabaya Purwokerto. Tapi, turun di Solo.

Saat turun dari bus dan menenteng tas ukuran sedang, di samping kananku ada bapak-bapak setengah baya yang juga terlihat membawa tas. Tadi sepertinya dia tidak naik bus yang sama, kok tiba-tiba muncul dan seperti mengikuti langkahku? Seperti ada yang tidak beres juga dari cara jalannya. Kenapa ya dia? Entah, sejak kapan aku suka mengamati hal kecil dari orang tak dikenal begini.

Saat beberapa menit duduk di ruang tunggu, dia tiba-tiba ikut duduk di sebelahku. Wajahnya terlihat lelah dan sepertinya sedang gelisah. Sekilas sempat menengok ke arahku, tanpa mengatakan apa-apa. Bapak itu segera merogoh saku jaket dan membuka-buka tasnya. Dengan tangan kosong, ia tutup kembali tasnya.

“Nyari apa, Pak? Mungkin ada yang bisa dibantu?”

“Eh ini mbak, HP saya kayaknya hilang. Padahal mau lanjut perjalanan ke Purwokerto.” Jawabnya dengan logatnya yang khas. “Dompet saya juga nggak ada.”

“Duh. Terus ini bapak sendiri dari mana? Rencananya mau naik bus apa dan jam berapa Pak?”

“Dari Madiun mbak, tadi malam. Ini mau ke rumah saudara saya dulu sebenarnya, di Klaten. Tapi mau menghubungi dia, HP dan uang nggak ada. Mau naik bus, bayar pakai apa?”

Kondisi terdesak membuatnya mendadak gampang bercerita tentang seluk beluknya. Raut wajahnya juga sedikit mengingatkanku dengan salah satu guru teladan di zaman sekolah dulu. Dengan mudahnya bapak itu bercerita. Semua mengalir begitu saja.

Agak aneh juga. Apa iya aku ‘berbakat’ dalam membuat orang mau membuka rahasianya? Tiba-tiba dia malah cerita panjang soal rumah tangganya yang kandas, keluarganya yang meninggalkan di saat terpuruk, tentang pengalamannya gonta ganti pekerjaan dari usaha properti sampai driver ojek online.

“Tapi sekarang sudah berhenti mbak, sejak kecelakaan waktu itu…” ah bayanganku jadi ke mana-mana “dan di saat kondisi sulit malah keluarga saya tidak banyak yang peduli. Bayangkan mbak, saya merasa sendiri di dunia ini. Saya hanya hapal nomor HP saudara saya yang di Klaten itu.”

Seolah tidak bisa mendengar apa-apa selain suaranya, aku terus menyimak dengan sungguh-sungguh. Tadinya aku agak mengantuk setelah menempuh perjalanan jauh dan ingin rehat sebentar, tapi batal.

“Terus ini jadinya bapak bagaimana?”

Hingga tiba saatnya, satu kalimat tanya mengubah suasana malam menjelang pagi itu.

“Mbak ada uang lima puluh ribu? Atau kalau nggak ada ya dua puluh ribu aja.” Ekspresi mukanya mendadak berubah. Tidak sama seperti saat bercerita soal keluarganya.

“Kebetulan sedang tidak aca cash ini Pak.”

“Ya sudah kalau begitu, pinjam HP-nya boleh mbak? Buat menghubungi saudara saya.”

“Iya boleh sih Pak.”

Beberapa detik kemudian, dia mengetikkan nomor telepon. Tapi sebelum itu…

“Sebentar Pak, saya isi pulsa dulu.”

“Oh, silakan mbak.” Selesai membeli dengan GoPulsa, aku persilakan bapak paruh baya yang aku pikir sedang bernasib Malang itu.

“Lho kok teleponnya nggak di sini saja Pak? Kenapa dibawa ke luar terminal?”

“Eh nganu mbak cari sinyal yang bagus,” jawabnya sambil berjalan-jalan seperti orang gelisah menunggu kepastian. Tapi jalannya kok tidak seperti tadi ya? Sekarang terlihat biasa saja. Lama-lama aneh nih orang.

Tak lama berselang, datang orang baru dari arah belakangku dan menepuk pundakku. Perempuan yang mungkin masih tiga puluhan tahun itu meminta tolong.

“Mbak bisa antar aku ke ATM? Mau transfer uang darurat nih.”

“Eh, itu Mbak lurus aja ke sana ATM-nya kelihatan kok.”

“Masalahnya saya sedang nggak bawa ATM, tapi adik saya ada keperluan mendadak. Jadi transfer pakai ATM-nya mbak, nanti saya ganti pakai cash.”

“Berapa sih mbak transfernya?”

“Enggak banyak Mbak. Cuma tiga ratus ribu.” Jawabnya sambil menggeser posisi duduk. Kini ia ada di samping kananku.

Sesaat kemudian, bapak-bapak tadi mau pinjam HP lagi. Jadi aku diapit dua orang asing, yang satu pinjam HP, yang satu minta tolong transfer. Mulai aku rasa gelagat tidak beres dari dua orang ini.

Di tengah situasi mencurigakan ini, lihat layanan ojek online Gojek  yang aplikasinya terinstall di HP-ku jari-jariku langsung reflek pesan ojek online GoRide untuk perjalanan pulang ke rumah. Batal istirahat sejenak di terminal. Tidak masalah walau jaraknya lumayan jauh, untung harganya masih ramah di kantongku yang sebenarnya cukup banyak terkuras beberapa hari ini.

“Mbak boleh pinjam HP lagi? Mau hubungi saudara saya lagi. Tadi ada yang kelupaan.” Belum sempat menjawab, orang di kananku berkata lagi.

“Jadi gimana Mbak boleh nggak kalau minta tolong transfer?”

“Ehm, coba saya cek dulu, masih ada berapa saldo saya.”

“Jadi saya boleh pinjam HP ya Mbak?” bapak itu duduknya juga bergeser beberapa cm ke arahku dari sebelah kiri. Aku jadi risih, tapi berusaha tidak panik.

Sebelum HP berpindah ke tangannya atau aku yang bergerak ke ATM, dering telepon mengalihkan fokusku. Untung HP-ku sedang tidak dalam mode diam. “Hallo Mbak, ini saya dari Gojek. Penjemputannya sudah sesuai aplikasi ya? Saya sudah sampai di depan terminal ini.”

“Hallo Pak. Selamat malam, eh pagi. Baik, saya ke situ.”

Dalam hatiku lega. Segera aku menolak baik-baik permintaan dua orang asing yang mencurigakan itu.

Untungnya driver Gojek itu datang tepat waktu. Kalau beberapa detik saja terlambat, aku tidak sanggup membayangkan kemungkinan yang lebih buruk. Feeling-ku mengatakan bahwa cerita dan kejadian dua orang asing itu fiktif semua. Benar kata ibuku, walau orang baik itu di mana-mana, tapi orang baik yang khilaf juga banyak. Jangan mudah percaya orang asing.

Di sepanjang perjalanan, driver sempat bercerita.

“Hati-hati lho Mbak kalau keluar malam-malam sendiri, saya dengar beberapa minggu lalu ada orang kena hipnotis di terminal itu,”

Aku tercekat sekaligus bersyukur dan berterima kasih kepada pahlawan jalan raya yang menjemputku ini. Semoga selalu jadi pilihan ojek online di Indonesia.

Ditulis oleh Redaksi

Tim Redaksi Ublik yang kece2

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

tipe belajar

5 Tipe Orang dalam Belajar, yang Mana Gaya Belajarmu?

Mengenal Uni Wulan, IRT Penulis Pendiri Wonderland Family