Bagi generasi yang hidup di era sebelum milenium 2000 (baca: era 1980-an, 1990-an, hingga awal era awal dekade 2000), lagu anak merupakan konsumsi sehari-hari bagi kalangan anak berumur lima hingga memasuki usia akhir di bangku Sekolah Dasar. Mengapa hingga bangku Sekolah Dasar? Karena pada tahapan anak memasuki Sekolah Menengah Pertama (SMP), di sanalah mereka mengalami masa transisi dari anak menuju jenjang remaja atau dengan kata lain mereka memasuki masa awal pubertas.

Tak heran jika pada masa jayanya setiap hari sewaktu sekolah, sepulang sekolah sambil bersenda gurau, bermain, hingga malam suara riuh rendah anak-anak meramaikan suasana. Adakalanya di waktu tertentu mereka seolah dimanjakan menjadi artis dalam satu hari, suara mereka mengudara melalui siaran radio yang diadakan oleh stasiun RRI yang memang memiliki program khusus bagi anak-anak TK menyuarakan karyanya.

Pilihan Editor:

 

Anak-anak juga dimanjakan dengan beberapa media hiburan yang memang dikhususkan untuk anak usia TK hingga SD. Kaset pita berisi album anak pun menjadi hadiah terindah bagi anak-anak seangkatan kami ketika mereka berprestasi ataupun ulang tahun. Maklum di masa kami internet dan Youtube tidak semegah sekarang. Tidak jarang pula mereka saling pamer koleksi kaset anak terbaru, atau sekadar mendengarkan dan menyanyikan bersama di salah satu rumah kawan ketika sepulang sekolah atau kala hari libur tiba.

Kini, setelah belasan tahun berlalu lagu anak pun ikut berlalu ditelan angin. Anak-anak era digital seolah tidak tahu, bahkan enggan untuk mengetahui lagu yang seharusnya mereka dengar. Terbukanya akses terkadang justru berbalik membuat mereka tertutup akan dunia anak sebenarnya. Para anak dicekoki lagu dewasa yang dengan fasih mereka hafal, dan mereka menjadi dewasa sebelum waktunya. Pada titik inilah, odong-odong muncul menjelma menjadi media alternatif dalam menghidupkan kembali lagu anak yang mati suri.

Perihal Anak

Perihal anak secara harfiah, Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) mendefinisikannya sebagai keturunan orang tua (KBBI: 1990). Sementara UNICEF mendefinisikan anak yakni penduduk yang berusia 0 (nol) sampai 18 tahun. Perihal definisi anak memang masih banyak perdebatan di sana-sini. Hal ini salah satunya dapat kita lihat dalam tulisan Veven SP. Wardhana berjudul “Anak dalam Kacamata Retak: Relasi Anak dalam (Sinema) Televisi Indonesia”. Dalam tulisannya, Veven memaparkan tentang pijakan definisi anak dan macam apa “sosok” anak tersebut. Bagi sebagian orang anak adalah manusia praremaja. Namun secara administrasi dan berdasar undang-undang kependudukan yang berlaku di negara kita, anak adalah mereka yang belum berumur 17 tahun (ditandai dengan kepemilikan KTP bagi sang anak) atau yang belum menikah (Wardhana: 2013). Perdebatan ini pun seolah tidak ada habisnya.

Ketidakjelasan batasan anak sejatinya membuat kita menjadi rancu, manakah hiburan yang cocok untuk anak dan mana yang belum cocok bagi mereka. Pada tulisan ini, penulis menempatkan posisi anak sebagai seseorang usia pra sekolah atau ketika memasuki Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD), Taman Kanak-kanak (TK), hingga Sekolah Dasar (SD). Atau jika dihitung secara umur adalah, sesorang yang memasuki usia lima hingga duabelas tahun.

Peran Media dan Matinya Lagu Anak

penyelamat lagu anak Indonesia
Sampul kaset lagu anak indonesia era 90an (via sampulkasetanak.blogspot.com)

Peranan media sejatinya sangat besar dalam mempengaruhi khalayak dan masyarakat luas, tak terkecuali anak-anak. Hal tersebut senada dengan apa yang dikemukakan oleh McLuhan bahwa media secara langsung untuk membentuk dan mengorganisasikan sebuah budaya. Pun demikian dengan Jean Baudrillard memaparkan bahwa media berperan sebagai agen yang menyebarkan imaji kepada masyarakat (Sukmono: 2014). Pada titik inilah anak menjadikan media sebagai bahan tidak hanya untuk dilihat dan didengar, namun juga mempengaruhi pola pikir mereka seperti apa yang dikemukakan oleh McLuhan dan Baudrillard. Ketika mereka melihat dan mendengarkan tentang sesuatu yang sesuai dengan usia anak, maka mereka akan bertindak layaknya anak seusianya. Namun ketika mereka dihadapkan pada pilihan orang dewasa inilah yang seolah menjadi persoalan.

Salah satu persoalan di atas adalah keberadaan lagu pop dewasa yang semakin menggerus lagu anak. Jika di masa kecil kita dahulu, pilihan lagu anak nan menarik sangatlah beragam tetapi kini keberadaan lagu anak ini menjadi minim bahkan tidak ada. Lagu pop merupakan senjata ampuh di era industrial yang berbasis digital dengan akses yang semakin mudah dalam membentuk budaya baru di masyarakat. Bagi Adorno, mengapa musik pop menjadi senjata ampuh dalam membentuk budaya masyarakat (dalam hal ini pop culture) terletak pada dua proses yakni standardisasi dan individualisasi semu. Standardisasi mengandung pengertian bahwa lagu pop makin mirip satu sama lain baik dari segi nada maupun bait lagu. Sementara proses individualisasi semu ialah menyamarkan kesamaan lagu tersebut dengan berbagai variasi dan berlainan satu sama lain (Strinatri: 2016).

Merujuk pada titik pijak Adorno tersebut tidak heran musik pop yang sering kita dengar saat ini adalah jenis musik yang mudah didengar atau easy listening. Dari segi nada pun band-band pop cenderung sama, hal ini juga dapat kita lihat pada musik dangdut terutama dangdut koplo. Bait yang dibawakan pun seputar masalah percintaan. Sedangkan individualisasi semunya adalah bagaimana si musisi mengaransemen lagu mereka secara menarik bagi semua yang mendengarnya. Standardisasi yang sama dan easy listening inilah yang membuat anak semakin mudah menghafal secara fasih lirik lagu cinta.

Individualisasi semu diantaranya adalah penampilan dan suara khas dari sang penyayi atau musisi itulah yang membuat anak mudah mengingat dan hafal siapa yang membawakan lagu tersebut. Semakin nyentrik dandanan dan suara pelantun lagu itulah yang disukai oleh anak saat ini. Dan ini diperparah peran media sebagai pembentuk budaya masayarakat semakin kurang bahkan tidak selektif dalam menghadirkan hiburan mana yang layak bagi anak maupun tidak. Sehingga anak tidak punya pilihan lain selain menonton dan mendengarkannya.

Adorno juga mengemukakan bahwa musik pop dapat menawarkan relaksasi dari kesibukan aktivitas kerja manusia (Strinatri: 2016). Hal inilah yang pada akhirnya membuat musik pop seolah menjadi konsumsi bagi sebagian arus masyarakat, terutama arus bawah untuk mendapatkan hiburan secara murah mengingat karakternya yang easy listening semisal lagu dangdut atau band populer lainnya. Dikotomi akan genre musik juga masih terdapat dalam masyarakat, semisal musik Jazz yang diasosiasikan dengan orang kaya dengan penonton yang rapi jali. Ini tentunya bertolakbelakang dengan keberadaan musik pop yang siapapun bisa mendengarkannya tanpa mengenal dikotomi mapan atau tidaknya masyarakat. Keadaan demikian menurut Adorno akan mengikis kebiasaan lama masyarakat yang dahulunya mendengarkan musik lama (tradisional), begitupula yang terjadi pada anak-anak, mereka akan meninggalkan kebiasaan para anak pendahulunya mendengarkan lagu yang sesuai dengan usia mereka karena dianggap terlalu kuno.

Odong-odong dan Lahirnya Sang Penyelamat

penyelamat lagu anak Indonesia
Odong-odong penyelamat lagu anak Indonesia (Sumber: Pinterest)

Mati surinya lagu anak dapat dipengaruhi oleh banyak faktor, seperti adanya varian media digital baru yang seolah “menutup” akses terhadap lagu anak yang berganti ke arah lagu populer yang sedemikian rupa seperti yang dikemukakan Adorno diatas. Peran lingkungan dan orang sekitar anak juga menjadi faktor yang tak kalah penting dalam mematikan lagu anak, orang tua bahkan lebih senang jika anak mereka fasih menyanyikan lagu band macam ST.12 ketimbang lagu anak seperti lagu dari Tasya.

Semakin mirisnya lagi ada pula orang tua yang menjadikan anak sebagai pundi-pundi rupiah dengan mengorbitkannya menjadi penyanyi untuk lagu yang tidak seharusnya mereka nyanyikan bagi anak seusianya. Kita mungkin masih segar ingatan pada kasus lagu Lelaki Kardus, lagu tersebut secara lirik atau bahasa memang tidak pantas dinyanyikan bagi anak yang belum dewasa dan mengerti atas fenomena dari isi lagu tersebut. Dan yang lebih miris ialah media juga mengambil peran dalam mengorbitkan lagu sarkastis itu. Lantas, muncullah pertanyaan…adakah juru selamat bagi lagu anak?.

Mungkin pertanyaan itu terdengar simpel namun juga sulit ditemukan jawabannya. Beberapa mantan artis cilik pun menggalakkan program #Savelaguanak. Namun jauh sebelum penggalakan program #Savelaguanak itu disadari atau tidak, di tengah ingar bingar meredupnya pamor lagu anak, para pengayuh odong-odong secara tidak langsung menjadi media dalam menyelamatkan lagu anak ditengah gempuran arus utama. Ini cukup beralasan, karena mereka (pengayuh odong-odong) menarik minat anak dan memanjakan para penikmat odong-odong yang notabene anak dengan lagu anak-anak yang seharusnya mereka dengar macam lagu Balonku dan sebagainya. Dengan gemerlapan lampu seadanya, anak-anak seolah menikmati dunia mereka yang seolah terempas gempuran lagu dewasa.

Melihat kisah para pengayuh odong-odong ini mengingatkan kita pada sosok Shane dalam film koboi. Shane adalah sosok berandalan kota yang terkenal di arus masyarakat yang kacau. Dia datang untuk membereskan kota dari gangguan para bandit yang membuat kota jadi kacau, dan ia akan kembali ke dunianya yang liar di luar masyarakat saat masyarakat tidak membutuhkannya. Kisah sosok Shane dalam film koboi adalah gambaran eufimistik dari pengayuh odong-odong yang menyelamatkan lagu anak kala para anak-anak sedang kacau, menangis membutuhkannya sebagai hiburan, dan akan meninggalkan jalanan kala mereka telah tenang kembali. Odong-odong adalah Shane, sang juru selamat musik dan lagu anak Indonesia. Viva la odong-odong..!!

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.