in

6 Pesan dari Alm. Nukman Luthfie tentang Bermedia Sosial dengan Bijak

Tidak berlebihan kiranya, kita menyebut bahwa media sosial menjadi bagian hidup kita. Seolah-olah dunia ada di genggaman. Tapi apakah yang sebenarnya kita lakukan melalui keaktifan di media sosial itu? Sudahkah kita menyebarkan kabar baik, menjalin pertemanan yang sehat, menangkal hoax, dan memproduksi konten positif?

Lebih dari urusan bersenang-senang, efek bermedia sosial bahkan sudah menyangkut ke hal penting terkait kehidupan pribadi maupun profesional. Bahkan terlalu banyak notifikasi pun bisa menjadi sebab berkurangnya produktivitas. Lalu bagaimana cara bijak bersosial media? Pesan-pesan dari Nukman Luthfie berikut yang dirangkum dari berbagai sumber ini bisa kita simak.

Nukman Luthfie (Sumber: Instagram.com/nukman)

Sebelumnya, tak lupa agar kita sejenak mengirim doa untuk sosok yang sering dijuluki ‘bapak media sosial’ di Indonesia itu agar beliau mendapat tempat terbaik di sisi Tuhan Yang Maha Kuasa. Pada Sabtu malam kemarin tanggal 12 Januari 2019, Nukman Luthfie meninggal dunia di Yogyakarta setelah sempat dirawat di RS Bethesda Yogyakarta. Keesokan harinya pemakaman dilakukan di TPU Grabag, Langenharjo, Kabupaten Kendal, Jawa Tengah.

Selepas kepergian Nukman, tentu saja banyak pihak yang berduka. Selama ini, Nukman banyak mendedikasikan hidupnya untuk mengajak orang memanfaatkan internet dengan bijak, untuk membangun ruang publik, khususnya media sosial di Indonesia jadi lebih baik.

Sebelum berkecimpung di dunia internet khususnya media sosial, Nukman Luthfie sempat memulai karirnya sebagai jurnalis, mendirikan Virtual Consulting, dan kemudian kerap menjadi pembicara dalam acara-acara bertema seputar internet di Indonesia.

Nukman Luthfie pada sebuah sesi berbagi (Sumber: Instagram.com/nukman)

Melalui penulusuran redaksi ke sejumlah sumber, termasuk akun instagram pribadinya @nukman dan blognya sudutpandang.com, inilah 6 pesan dari Alm. Nukman Luthfi tentang bermedia sosial dengan bijak.

1.Personal Branding di Media Sosial

Di era digital ini, pihak lain relatif mudah membangun persepsi mengenai siapa kita. Hanya dengan melihat jenis postingan apa yang mengisi beranda media sosial. Jika kita adalah orang yang sudah cukup dikenal oleh publik dan layak untuk diberitakan, maka image dan persepsi tentang diri kita dibangun oleh media arus utama melalui artikel atau berita yang ditulis/disiarkan. Tapi jika kita ‘belum layak media’, tulis Nukman di postingan terakhir blognya, teman-teman kita yang menulis apapun mengenai kita di akun media sosial mereka.

“Dengan personal branding melalui media sosial, persepsi publik mengenai kita tidak lagi didominasi oleh apa yang dikatakan oleh pihak luar, tetapi kita juga ikut mengisinya sesuai personal brand yang ingin kita bangun. Kita sendiri yang menanam konten-konten yang ikut membangun personal brand kita melalui akun media sosial kita secara tekun, setiap hari, setiap pekan, setiap bulan, tanpa lelah, bahkan dengan hati riang.” (sudutpandang.com)

2.Etika dalam Memberitakan Musibah

Pernahkah mengamati berita tentang musibah? Di sana ada konten yang cenderung tidak pantas untuk disebarluaskan ke publik. Misalnya gambar dan video kekerasan atau kecelakaan, khususnya menyangkut kondisi korban yang berdarah-darah.

Media-media arus utama di dunia, tentunya termasuk Indonesia, selalu berusaha menjaga kepantasan ini. Sesekali coba amati berita-berita atau tayangan televisi mengenai hal ini. Apakah mereka memberitakan secara masif disertai foto korban dengan posisi tidak nyaman dilihat? Tentu tidak.

3.Tentang Konsumen yang Menggunakan Hak Bersuara

Ada saatnya konsumen komplain dengan layanan yang kurang maksimal terkait produk dan/atau jasa yang dibelinya. Meskipun bisa menggunakan hak bersuara itu, tapi konsumen tetap perlu hati-hati dalam melakukannya. Keluhan yang disampaikan dengan tidak tepat justru bisa membuat konsumen terjebak ke dalam kasus pencemaran nama baik berdasar pada Pasal 27 ayat 3 UU ITE.

Inilah pentingnya komunikasi di era digital antara konsumen dan produsen, yang mana kuncinya yang terpenting itu ada pada masalah komunikasi, bukan pada persoalan hukum. Yang tak boleh dilupakan konsumen adalah untuk selalu menyampaikan komplain tersebut berdasarkan fakta, bukan opini, dan lengkapi fakta-fakta itu dengan bukti (entah itu foto/video/scan dokumen).

4.Dari Clikbait Berganti menjadi Share-bait

Artikel maupun berita dengan judul bombastis di media online, tentu akan lebih membuat kita tertarik untuk membukanya. Mengklik untuk membaca, maupun membagikannya. Kita mungkin sudah sangat akrab dengan judul-judul clickbait sebagai pancingan untuk mengklik berita), tapi ternyata kini trennya sedikit berubah. Sekarang perilaku user media sosial berubah. Bukan lagi sekadar clikbait tapi share-bait.

Apa itu share-bait? Saat menemukan tautan (link) berita di media sosial, tidak dibaca dulu isinya dan bahkan judul lengkapnya tidak dibaca semua. Yang penting share dulu. Itulah mengapa berita hoax yang ada di dunia maya seperti tidak terbendung. Nukman menilai bahwa hal itu ada pengaruhnya karena tingkat literasi (kemampuan memahami dan mendekonstruksi) yang masih rendah terhadap informasi, media, hingga media sosial.

Kepada Reporter KBR, Nukman pernah mengatakan “Sebenarnya, balik lagi ke soal pendidikan. Pendidikan kita tidak mengajarkan untuk membaca yang benar, membaca yang kritis. Tidak mengajari kita untuk mendekonstruksi konten, dan lain-lain. Dari kecil begitu. Pola pendidikan kita tidak mengajarkan itu. Makanya gampang tertelan sama konten yang tidak keruan.”

5.Media Sosial sebagai Jendela Kecil untuk Menafsir Siapa Kita

“#socialmedia itu jendela kecil untuk menafsir siapa kita. Rawatlah demi masa depan yang lebih baik.” Demikian kata-kata yang dituliskan di profil Instagram @nukman yang sepertinya begitu related dengan riuhnya kehidupan netizen.

Kenyataannya, kita tidak selalu bisa mengenali sosok dan karakter asli orang di balik akun media sosial. Baik akun pribadi yang banyak dibumbui pencitraan sampai ke fenomena banyaknya akun samaran, akun anonim, sampai akun palsu yang jadi alat untuk ‘mengais rezeki’ dari pertikaian orang lain, khususnya pada tahun politik di negeri ini.

Yang cukup legendaris, selain akun gosip Lambe Turah di Instagram, adalah akun Twitter TrioMacan2000, yang dulu terkenal sebagai akun pengungkap kebobrokan pejabat yang jarang dibuka oleh media arus utama.

Untuk urusan sepele pun, media sosial juga bisa mempengaruhi hidup kita. Misalnya kesalahan tafsir saat membaca update status teman di media sosial. Kadang, karena buru-buru menafsir, dan memberikan komentar yang melenceng, karena kurang sabar memahami konteks, lalu berujung pada konflik yang sebenarnya tidak perlu terjadi.

Maka dari itu, sebelum menilai sesuatu di media sosial hanya berdasarkan update status atau konten yang diunggah orang, usahakan untuk membaca seutuhnya, bukan sekadar kepingan-kepingan screencap tanpa konteks. Adapun komponen konteks itu adalah; 1. Kapan update status itu dilakukan? 2. Di mana updatenya? (bisa terlihat jika check-in) 3. Apa yang melatarbelakangi update statusnya itu. Tak lupa bahwa pada beberapa unggahannya, Nukman Luthfie memakai tagar #sekadarmengingatkan untuk sejumlah konten edukasi kepada netizen. Misalnya yang ini : #sekadarmengingatkan bahwa hidup yang indah-indah di Instagram itu statusnya TERLIHAT indah.

6.Bijak Bermedia Sosial di Lingkungan Kerja

Banyak perusahaan di Indonesia yang menerapkan aturan-aturan dalam penggunaan media sosial untuk karyawannya. Mulai dari yang melarang, membatasi, maupun yang membebaskan. Jika sudah bekerja, baca dan pahamilah peraturan perusahaan mengenai media sosial itu. Kalau perlu, tanyakan ke bagian human capital atau divisi HRD terkait peraturan ini. Sebisa mungkin jaga baik-baik batasan saat berinteraksi di media sosial. “Selamat berselancar di #mediasosial dan semoga 2019 kita lebih banyak memetik manfaatnya,” demikian yang ditulis @nukman pada tanggal 31 Desember 2018.

Demikianlah  6 pesan dari Alm. Nukman Luthfi tentang bermedia sosial dengan bijak. Setelah mengucapkan selamat jalan dan melepas kepergian beliau dengan doa, mudah-mudahan kita menjadi ‘warga media sosial’ yang lebih baik.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

resep membuat papeda, cara membuat papeda

Resep Membuat Papeda, Makanan Eksotis khas Papua

papeda khas Indonesia

Papeda, Sajian Nikmat Kebanggaan Timur Indonesia