in

Selain Nostalgia, Ada Apa di Balik #10yearChallenge di Media Sosial?

Media sosial sepertinya memang tidak pernah ‘kehabisan bahan’ untuk membicarakan sesuatu. Tentu saja, karena tangan-tangan netizen di baliknya. Tidak sulit rupanya membuat viral hal-hal yang sebenarnya receh tapi seru. Seperti yang beberapa hari ini ramai dibicarakan di jagat media sosial Instagram, yang tidak lain adalah sebuah nostalgia.

Orang menyebutnya dengan tanda pagar #10yearChallenge, yang mana mereka membandingkan dirinya dulu dan sekarang. Seperti apa sosok dirinya 10 tahun yang lalu, yakni tahun 2009. Tapi sebentar. Untuk sekadar menyegarkan memori, apakah kamu masih ingat beberapa peristiwa yang terjadi di tanah air dalam kurun waktu 10 tahun lalu? Apa saja yang terjadi di Indonesia pada tahun 2009 itu? tentunya banyak sekali peristiwa. Beberapa bencana, kampanye 100% Cinta Indonesia, sampai tahun politik—sebagaimana tahun 2019 ini.

Kampanye 100% Cinta Indonesia

Selain pemilu, tahun 2009 di Indonesia juga ada kampanye bernama “100% Cinta Indonesia”, yang mana tujuannya adalah untuk mempromosikan merek-merek asli Indonesia dan produk-produk lokal. Kampanye ini digagas oleh Kementerian Perdagangan RI.

Pemilihan Presiden (8 Juli 2009)

Pada tanggal 8 Juli 2009 pemilihan umum dilaksanakan untuk putaran pertama. Untuk memilih presiden dan wakil presiden Republik Indonesia. Kemudian  Komisi Pemilihan Umum (KPU) menggelar pilpres putaran kedua tanggal 8 September 2009. Dalam pemilu Presiden waktu itu, ada tiga pasangan calon yang dipilih oleh masyarakat yaitu, Soesilo Bambang Yudhoyono (SBY)-Boediono, Megawati Soekarnoputri-Prabowo Subianto, dan Jusuf Kalla-Wiranto.

Kemudian satu lagi, sepertinya kita pun ingat bahwa sepuluh tahun lalu, Jokowi masih menjabat sebagai Wali Kota Solo dan sedang sibuk menyelesaikan urusan relokasi para pedagang kaki lima. “Agar tidak kalah dengan pasar modern dan swalayan,” katanya.

Apakah kamu juga meramaikan #10YearChallenge itu?

Bahkan selebriti pun ikut mengunggah foto-fotonya dengan tagar yang sama. Ada-ada saja memang kelakuan netizen. Di Indonesia maupun di banyak negara lain di dunia dalam merespon tren #10yearChallenge ini. Ada yang cenderung ‘serius’ membandingkan dirinya sekarang dengan 10 tahun dari segi pencapaian. Ada yang sekadar ikut-ikutan biar asik.

Ada yang membandingkan tampilan wajahnya, dan ini paling banyak, khususnya para perempuan. Mulai dari anak-anak milenial sampai ibu setengah baya yang membandingan penampilannya 10 tahun yang lalu vs sekarang. Mereka yang memperlihatkan wajahnya yang awet muda, tentunya banyak mendapat pujian dari netizen lainnya, yang umumnya teman-temannya sendiri. “Eh kok nggak berubah sih, awet muda gitu rahasianya apa?” Apapun itu, sah-sah saja. Hanya untuk bersenang-senang. Biar seru saja.

Ada juga mereka yang sedikit nyeleneh, #10yearChallenge 2019 – 2029. Memasang foto diri sekarang dan disejajarkan dengan foto seorang artis terkenal. “Gue kan visioner, dan anti-mainstream! Haha.”

Atau malah ada yang seperti ini, bagaimana menurutmu?

Ilustrasi (Sumber: Ublik.id/Restia)

Mengapa Orang Suka Nostalgia?

Di balik keseruan #10yearChallenge ini ternyata ada satu hal melankolis yang kita rayakan bersama-sama. Challenge ini adalah tentang nostalgia. Yang menghadirkan sensasi perasaan yang campur aduk. 10 tahun bukan waktu yang sebentar. Tentu banyak sekali kejadian-kejadian suka duka yang dilalui. Ada banyak yang bikin bahagia dari kenangan, tapi kadang ada pula rasa sedih karena yang dikenang itu beberapa sudah entah ke mana.

Menurut sebuah artikel yang ditulis oleh Krystine Batcho ‘The psychological benefits – and trappings – of nostalgia’ yang dimuat di theconversation.com, nostalgia adalah pahit manis, kerinduan untuk masa lalu. Manis karena memungkinkan kita untuk menghidupkan kembali saat-saat menyenangkan; pahit karena kami menyadari bahwa saat-saat itu tidak akan pernah bisa kembali. Kerinduan akan masa lalu kita sendiri disebut sebagai nostalgia pribadi.

Meskipun nostalgia bersifat universal, penelitian telah menunjukkan bahwa nostalgia untuk masa lalu sangat mungkin terjadi selama periode transisi, seperti ketika mulai menjadi dewasa atau saat menemui masa penuaan, misalnya saat menjadi pegawai yang sudah pensiun.

Mengapa orang suka bernostalgia? Erica Hepper, seorang dosen di School of Psychology, Universitas Surrey pun mengatakan “nostalgia adalah perasaan hangat yang kita rasakan sewaktu kita memikirkan tentang kenangan-kenangan terindah dari masa lalu kita.”

Jadi mengapa orang-orang suka bernostalgia? Hal ini karena nostalgia membuat kita merasa senang, sedih, nyaman, dan rindu di saat bersamaan. Apalagi kalau selama beberapa tahun ke belakang mengalami momen-momen terberat dalam hidup.

“Kalau hari ini aku bisa cerita dengan tertawa bebas, berarti aku bisa melaluinya dengan baik,” seperti yang diucapkan seorang teman tentang bagaimana ia melewati perjuangan dalam hidupnya beberapa tahun terakhir. Ia pun bernostalgia sedemikian rupa. Membandingkan momen-momen ‘waktu itu’ dan ‘sekarang’. Berangkat dari kenyataan bahwa setiap orang memiliki kecemasan tertentu pada masa depan, tapi akhirnya bersyukur saat masa depan sudah menjadi ‘masa kini’ yang sudah berhasil ditaklukkan.

Ilustrasi (Sumber: Pixabay)

Yang Kita Pelajari dari Nostalgia #10yearChallenge

Banyaknya perbedaan yang terjadi pada diri 10 tahun lalu dibanding sekarang menunjukkan bahwa perubahan itu selalu ada. Sebagai bagian dari proses yang terus bergulir. Yang terlihat hebat pada masanya akan menjadi norak sekarang. Yang dulu tidak terpikirkan untuk bisa terwujud, kini menjadi bagian hidup kita.

Bukan hanya aktivitas nostalgia dengan pamer foto di media sosial sekaligus mengingat kembali suasana yang dirasakan saat itu, tantangan #10YearChallenge juga memiliki makna yang cukup mendalam. Bahwa menjadi makin dewasa dan tua menurut bilangan usia, adalah pengalaman positif. Saat kita berubah secara fisik maupun mental, itu menunjukkan bahwa perubahan adalah sebuah keniscayaan, sekaligus menjadi alasan lain untuk bersyukur.

Selain karena kemajuan-kemajuan di berbagai hal, kenyataannya adalah: tidak semua orang ‘beruntung’ bisa diberi kesempatan untuk menjadi tua. Sebab beberapa teman kita ada yang sudah mendapat giliran untuk berpulang ke pangkuanNya, di usia yang sangat muda.

Ilustrasi (Sumber: Pixabay)

Bagaimanapun perubahan diri kita selama kurun waktu 10 tahun itu, sebenarnya tidak ada yang ‘berhak’ mendefinisikan siapa kita, selain kita sendiri. Lebih dari urusan kenangan, #10yearChallenge banyak memperlihatkan perilaku orang yang bernostalgia cenderung membanding-bandingkan lalu membuat anggapan. Konon setiap generasi merasa bahwa generasinya lebih baik. Hal tertentu di zaman dulu dianggap lebih baik dari hal lain di zaman sekarang. Atau sebaliknya, yang sekarang dirasa jauh lebih baik daripada yang dulu. Entah terkait diri sendiri saja maupun menyangkut orang lain.

Nah, soal membandingkan keadaan dulu vs sekarang, selain perubahan-perubahan yang normatif, ada saatnya kita juga akan menemui orang yang mengungkapkan rasa penyesalan sekaligus kebanggaan pada waktu yang sama. Pernyataan untuk seseorang di masa lalu sebagai pelengkap foto diri yang dulu vs sekarang. Apa itu? Apalagi kalau bukan “Dear mantan, maafkan aku yang dulu…”

One Comment

Leave a Reply

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Little Seoul: Ketika Kota Seoul Korea Pindah ke Bandung

Zero Waste: Alternatif Gaya Hidup untuk Diri dan Bumi