in

Motivasi Terbaik Itu Bernama Keluarga: Meraih Asa dengan Cinta

Keluarga sebagai motivasi terbaik

Masing-masing pribadi pasti punya mimpi setinggi langit, termasuk motivasi meraihnya. Semesta pun mendengar lalu menyeru angin menerbangkan mimpi-mimpi itu ke langit. Namun tak semua mimpi bisa sampai ke langit. Nah, kendalanya apa? Banyak. Salah satunya, malas dan tak punya motivasi.

Banyak dari kita hanya mengandai-andai akan terwujudnya mimpi, bukan melihat celah dan mengikhtiarkan untuk terwujud. Kerap kali, diri diracuni dari segi internal dan eksternal. Terlalu banyak godaan yang kini menjadikan diri bersikap apatis, bermalas-malasan, kurang motivasi, hingga tak produktif lagi berkarya. Harusnya, abaikan saja ‘racun-racun’ itu.

Namanya racun, tentu mudaratnya banyak. Jadi, jangan tinggal diam. Sila ditinggalkan. Temukan kegiatan penuh motivasi, yang mengiringi kita keluar terhindar dari racun-racun tadi. Bebas, terserah dari ingin kita. Ada yang ke kafe, taman, kamar tidur, perpustakaan, dan tempat manapun yang mampu membuat diri tenang dan berpikir buat eksekusi karya-karya keren.

Baca juga:

Keluarga menjadi Motivasi dalam Berprestasi

Semangat internal perlu dikencangkan kembali. Jangan biarkan kendor dalam waktu yang lama. Demikian adanya dengan semangat eksternal. Ia sering ditemukan dalam lingkup terdekat, sebut saja keluarga dan teman-teman. Bagiku, salah satu motivasi dalam berprestasi adalah keluarga. Family is my best supporting system. Padanya, ada damai dan sejuk yang kurasa. Padanya, ada tenang dan cinta yang kudapatkan. Padanya, ada doa dan harap yang kutangkap. Menatap mereka, binar mata semakin besar, yang kian lama kian menggenangi pelupuk mata. Jelas, padanya segala keluh dan kesah kutumpahkan.

Manusia mana pun, pasti pernah merasa berada di titik terendah, keadaan paling buruk hingga tak menyisakan pundi semangat untuk bangkit dan berkarya kembali. Seakan dunia miliknya sendiri ketika sudah terjebak dalam comfort zone. Tak menoleh siapa gerangan yang berada di sekitarnya, cukup dengan menikmati me-time lebih lama dengan tidur-tiduran, dirinya bahagia tak terkira. Gembiranya, tak sedikit dari kita yang mampu melerai dirinya dari posisi di titik terendah itu.

Seringkali, saya diperhadapkan pada kondisi tersebut. Rasanya sebal dan kecewa berhadapan dengan kondisi itu. Alasannya? Terlalu besar kekuatan magnet menarikku kembali jika aku berusaha untuk bangkit. Inginku tidak mau lagi bertemu dengannya, menyebalkan.

Semenit kemudian, lewat pertarungan akal dan hawa nafsu, saatnya hawa nafsu mengalah sebentar. Akalku amanah menyampaikan perintah. Neuron-neuron di otakku bekerja dengan sempurna menyampaikan impuls hingga ke saraf motorik sampai terbentuk reaksi. Akalku tegas memerintahkan kalau lagi terpuruk, ingat orang tua selalu. Mereka kerja berpeluh bahkan dengan  darah sekalipun. Nyatanya apa? Kerja tanpa malas, mengeluh, dan merintih. Kerja ikhlas, dari hati yang tulus untuk buah hati tercinta.

Mereka berjuang keras demi saya dan saudara. Mereka sering menceritakan kisah perjuangannya menggapai mimpi. Bagiku, terlalu berat untuk kutiru. Orang tuaku selalu punya semangat yang membara dalam melakukan hal positif, tidak pernah menyerah, dan bermalas-malasan. Mereka mendonorkan semangat kepada kami selaku anak-anaknya agar bisa terus berprestasi, berkarya, bermanfaat, hingga mimpi tercapai.

Begitulah manusia, kadang malas dan rajin, sehingga penting punya motivasi yang kokoh agar apapun rintangan yang Ia hadapi tidak lantas membuat dirinya roboh. Saya tersadar bahwa salah satu cara membalas segala kebaikan-kebaikan orang tua yakni dengan tidak berputus asa memperbaiki diri untuk terus berprestasi. Orang tua adalah salah satu jembatan menuju tempat keabadian kelak di surga.

Orang tuaku selalu memberikan contoh dan motivasi yang baik kepada kami, mendidik dengan sabar, menasehati dengan lemah lembut agar tetap berprestasi dunia akhirat. Saya merasa menjadi manusia paling tidak berguna, anak yang paling durhaka ketika saya difasilitasi dengan baik untuk terus berprestasi tapi saya sia-siakan, saya tidak menggunakan fasilitas itu dengan sebagaimana mestinya.

Ketika saya berada pada kondisi titik terendah, lelah dan bermalas-malasan, cara terbaik untuk bangkit kembali adalah dengan mengingat perjuangan orang tuaku. Telah banyak waktu dan tenaga yang mereka korbankan. Saya tidak boleh rehat terlalu lama, sebab kuyakin ketika saya sedang rehat, banyak orang di luar sana berjuang menggapai mimpinya juga. Saya tidak boleh tertinggal dengan mereka. Orang tuaku sudah berkorban terlalu banyak, saya harus membuktikan kepadanya.

Bagiku, Orang Tua adalah Segalanya

Selagi mereka masih diberi kesempatan hidup, saya ingin terus membahagiakannya, salah satunya dengan terus berprestasi, berkarya, dan bermanfaat. Walau terkadang mimpi-mimpi yang kuceritakan ke mereka sering tidak direstui, tapi saya tetap kukuh. Namun, saya tidak berani untuk membantah mereka dengan keras. Oleh sebab itu, saya tidak henti-hentinya memelas agar mimpi-mimpiku bisa disetujui dengan tetap bertutur lemah lembut dan sopan.

Bagiku, orang tua adalah segalanya. Ketika saya berlaku kasar kepada mereka, dengan refleks berpikir kehidupan orang lain yang sudah tidak punya orang tua lagi, yang walaupun mereka berprestasi, mereka tidak bisa membuktikan ke orang tuanya. Pengingat terbaik saya adalah hadits yang diriwayatkan oleh imam At-Tirmidzi, yakni “Ridha Allah tergantung pada ridha orang tua dan murka Allah tergantung pada murka orang tua”.

Prestasi yang saya raih selama ini kupersembahkan untuk orang tua tercinta. Bahagia tidak terkira melihat raut wajahnya tersenyum manis nan menawan ketika menunjukkan prestasi yang kuraih. Cinta yang mereka bangun sejak saya hadir di dunia, harus kubuktikan pula dengan menjadi anak yang berbakti, yaitu mendengar nasehatnya agar tetap berada pada koridor syariat Islam untuk terus mencetak prestasi.

 

Artikel ini merupakan artikel kiriman pembaca, isi artikel menjadi tanggung jawab penulis. Kamu juga dapat mengirimkan tulisanmu melalui link berikuthttps://bit.ly/2Cnatij . Ketentuan menulisnya dapat dibaca di link berikut :https://bit.ly/2FwQlNH

Comments

Leave a Reply
  1. Wahhh akhirnya diterbitkan jg tulisannya sangat menginspirasi buat saya yg sering malas2an
    Semoga nambah semangat untuk terus menulis ukhtii Ditunggu karya2 selanjutnya :))

  2. Hal yang indah untuk dibaca dan direnungi, mari bersama sama menebar hal positif yg berupa ajakan demi *masadepancerah* kita semua.
    Salam untuk adik ukhtycuu 🙂

  3. Finally,,
    Sangat menginspirasi deh pokoknya
    Tidak tau mau ngomong apa lagi
    Goodluck dan di tunggu yg se lanjut h selanjutnya

  4. Masya Alloh,,, sangat2 memotivasi khususx generasi2 muda yg sedang berada dititik lemah, akan sangat berguna meningkatkan semangatotivasi hidup jikalau membaca artikel diatas,,

    #Aku_tunggu ertikelx selanjutx,,
    #cetak prestasi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Loading…

0

Comments

0 comments

saat hidupmu rumit

Saat Hidupmu Terasa Rumit, Kamu Perlu Lakukan Ini

hal remeh kualitas hidup

Dianggap Remeh, 7 Hal Ini Berpengaruh pada Kualitas Hidupmu