in

Belajar dari Ismawati dan Impian Seorang Guru Ngaji

Setiap diri pasti punya mimpi. Apapun itu. Bagaimanapun itu. Besar, kecil, biasa, atau bahkan luar biasa. Karena semua orang hidup untuk impianya, baik mereka sangat menyadarinya atau tidak mengakuinya.

Mimpi selalu menjadi hal yang utama dalam proses pengajaran. Di rumah, sekolah, lembaga kursus, atau tempat belajar lainnya. Guru dan orangtualah yang menjadi muasal dari setiap diri untuk tumbuh, memilih, dan meraih mimpi. Lantas apa mimpimu? Sudahkah di sana? Atau kamu masih berjalan, berlari, dan berusaha terbang—sekalipun mustahil—untuk meraihnya.

Belajar dari yang tidak terpikir untuk dilihat

Ismawati mungkin sama seperti kamu dan juga saya, punya segudang mimpi yang menunggu keberanian dan usaha kita untuk meraihnya. Tapi dia sudah jauh lebih unggul. Bukan karena prestasinya yang berkaliber tinggi tapi karena pilihan mimpinya yang tidak semua orang bersedia memimpikannya.

Wati, saapan akrabnya, memilih mendedikasikan dirinya pada dunia pendidikan. Bukan guru sekolah negeri atau swasta yang banyak mengiklan tentang adopsi kurikulum luar negerinya. Ia ‘hanya’ seorang guru ngaji di lingkungan tempat tinggalnya. Guru ngaji rumahan. Bukan TPA (Taman Pendidikan Al-Quran) yang banyak diselenggarakan yayasan atau pengurus masjid dengan profesional.

Sebuah profesi yang sejatinya menjadi pembentuk akhlak setiap generasi baru untuk tetap berkualitas sebagai manusia dari sisi agama, namun selalu luput dari apresiasi.

Wati mengajar mengaji (dok. pribadi)

Berbekal niat yang kuat

Wati hanya menggunakan teras rumah sederhananya untuk mengajar baca-tulis Al-Quran. Tidak ada kursi dan meja, kecuali satu meja untuk membaca Iqro dan Al-Quran. Tidak juga beralas, semua dilakukan di lantai. Duduk dan menulis.

-muridnya pun tidak berseragam. Mereka menggunakan baju yang ada, asal sopan dan sesuai tuntunan agama. Pola ajarnya tidak memaksa, anak-anak dibebaskan menulis sambil mengobrol dan bermain. Bahkan banyak di antaranya sibuk mengunyah jajanan. Tidak ada peraturan baku dan ketat. Semua benar-benar alami dan sederhana.

Dengan segala peralatan mengajar yang seadanya, tidak menyurutkan caranya untuk memaksimalkan fungsi fitrah anak demi mengajaknya tidak buta Al-Quran. Ia menepis apa yang hanya akan memusingkan, karena modal utama pengajaran adalah kemauan dan gerak untuk mengajar tersebut, bukan peralatan lengkap dan tempat ajar memadai.

( Baca juga: Evi Lestari: “Kuliah di Negeri Panda Membuat Saya Membuka Mata” )

Murid-murid ngaji Wati (Dok. pribadi)

Terus melangkah melewati rintangan

Jika mendengar cita-cita mulia Wati, kita pasti menebak bahwa jalannya mulus dan menuai banyak dukungan. Tapi pada kenyataannya ia tidak memperoleh semua itu. Satu per satu kesulitan datang, entah tujuannya menguji niat baiknya atau memadamkanya.

Tolakan pertama justru lahir dari ayahnya sendiri, almarhum Ismail. Ayahnya yang seorang peternak dan pedagang ikan lele tidak senang anaknya menghimpun banyak anak-anak dan mengajarkannya mengaji.

Menurut penuturan Nurri Nurriah, tetangganya yang juga memasukkan anaknya mengaji di pengajian Wati, ayah Wati bahkan tidak segan mengusir anak-anak dan para ibu yang menunggui saat pengajian sedang berlangsung, “disiram juga pernah,” tambahnya.

Sikap ayah Wati yang tidak bersahabat dan terus memperlihatkan ketidaksukaannya membuat ia pindah rumah agar pengajian dapat berjalan bebas hambatan. Namun ternyata hal yang sama terjadi, Wati dan suami diminta untuk pindah karena pengajiannya dianggap mengganggu dan berisik.

Tempat selanjutnya adalah ruang kelas Paud Nururrahman yang tidak terpakai di sore hari. Ya, pengajian berpindah kesini. Ternyata pindah ke tempat yang kondusif membawa masalah lain. Uang iuran pengajian yang pada saat itu hanya lima sampai sepuluh ribu—dan tidak rutin dibayar juga tidak semua bersedia membayar—tidak dapat menutupi sewa ruang kelas setiap bulannya. Karena ia benar-benar mengajar dengan sistem seikhlasnya yang ternyata menjadi sumber masalah bagi dirinya sendiri dalam memberi pengajaran.

Saat ayah Wati meninggal dunia, ia pun memindahkan kembali pengajian ke rumah orangtuanya. Tapi takdir berkata lain, murid-muridnya justru semakin berkurang karena dibukanya dua TPA yang berada tidak jauh dari lingkungan rumahnya. Banyak orangtua murid yang memindahkan anak-anaknya ke sana. Namun itu tidak menghentikan langkahnya untuk terus mengajar mengaji.

( Baca jugaInilah SABS (Sekolah Alam Bengawan Solo), Sekolah yang Memberi Suasana Liburan Setiap Hari )

Berbuah kebaikan

Di balik semua rintangan yang datang seperti tidak mau berhenti, pengabdian Wati pada dunia pendidikan berbuah manis. Lamaran demi lamaran untuk mengajar diberbagai TK dan RA datang, termasuk dari Paud Nururrahman.

Sejak tahun 2011 Wati mengabdikan dirinya sebagai guru Paud di samping mengajar mengaji. Di sinilah ilmu mengajar Wati semakin berkembang, banyak komentar para orangtua murid yang merasa puas dengan pola ajarnya. Wati bukan hanya keibuan dan sabar dalam mendidik tapi ada banyak alternatif pola ajar yang diberikan kepada murid-murid.

Wati bersama murid-murid Paud (hari batik nasional)

Saat ditanya apakah dirinya sudah merasa puas dengan pencaiaannya sekarang, ia menjawab “saya belum puas, saya masih punya banyak mimpi. Saya berharap suatu saat nanti saya bisa membuat sekolah sendiri, atau minimal lembaga kursus. Saya juga bermimpi kelak anak-anak akan bisa menjadi orang yang sukses dan pintar dari segi agama, mungkin bisa menjadi qori atau qoriah, enggak perlu kelas nasional cukup di kampung sendiri saja. Saya bangga karena sayalah orang yang mengajarkannya ilmu dasar mengaji dan pendidikan sekolah.”

Outing class PAUD (Dok. pribadi)

Mengambil nilai positif dari kisahnya

Wati yang mengawali mimpinya dari seorang guru ngaji dengan segala keterbatasan penghasilan—yang ketika saya tanya apakah gajinya menjadi seorang guru ngaji dan paud mencukupi kebutuhan hidupnya, sedangkan suaminya hanya bekerja sebagai security perumahan—hanya tersenyum dan mengatakan “kebutuhan hidup saya terpenuhi dari keberkahan mengajar.”

Saya saat itu membetulkan dalam hati, Wati benar. Mungkin saya atau bahkan kita semua tidak akan memilih dan menekuni mimpi sepertinya. Gaji yang tidak melewati angka tiga ratus ribu rupiah setiap bulannya dan memberi tolerir bertahun-tahun pada banyak oranngtua murid yang hanya menitipkan anaknya mengaji jelas bukan profesi yang menjanjikan. Tapi di balik apa yang terasa pahit dari memilih dan menjalankan impian adalah banyaknya kekuatan yang ia punya tanpa ia sadari dan keberhasilan melewatinya.

Jika dari halang rintang itu Wati tetap merasa ada suka dari apa yang dikerjakan—yaitu saat melihat murid-muridnya di luar sekolah dan pengajian memanggilnya dengan sebutan ‘ibu guru’ dan citra dirinya yang dihormati karena profesinya—maka apakah kita yang mungkin jauh lebih baik darinya dalam mejalankan impian masih merasa perlu berhenti, berbelok, berbalik arah, atau bahkan menyerah.

Sampai atau belum, atau frontalnya tidak pernah sampai karena kamu berhenti—entah karena putus asa atau berpindah haluan—mimpi itu telah menjadikanmu orang yang berusaha dan kamu sangat tidak boleh tidak menghargainya. Saya, kamu, dan kita semua hanya perlu terus mencoba dan mencoba hingga sampai pada titik di mana kita menggenggam impian itu.

 

(Sumber gambar utama : Dokumen pribadi)

5 Manfaat Membaca yang Mungkin Belum Kamu Sadari

Lutvi: “Jadi Guru di Pedalaman Harus Multitalenta”