in

Merasa Minder? Kita Istimewa dengan Apapun yang Kita Punya

Ada banyak hal istimewa yang dimiliki oleh setiap orang. Tetapi di zaman keterbukaan dan media sosial seperti sekarang ini membuat kita jadi kurang percaya diri. Terlebih dengan kebiasaan kita yang suka melihat orang lain. Membuat kita cemas dan merasa minder, atau bahkan menghakimi diri sendiri kalau kita tidak punya hal istimewa seperti mereka. Padahal kita mengetahui bahwa pada diri masing-masing ada passion, ada keunikan, ada keistimewaan yang berbeda dari yang lain. Sayangnya hal ini tidak disadari ketika kita berkaca pada kehidupan orang lain.

Abraham Maslow mengemukakan bahwa setiap manusia memang memilliki lima kebutuhan dasar, yaitu kebutuhan fisiologis, keamanan, cinta atau kasih sayang, harga diri (penghargaan), dan aktualisasi diri. Kelima kebutuhan dasar ini diperkenalkan oleh Abraham Maslow dalam makalahnya, A Theory of Human Motivation di Psychological review pada tahun 1943 dan digambarkan dalam piramida seperti di bawah ini:

Kita Istimewa dengan Apapun Yang Kita Punya
Merasa minder? Coba cek piramida kebutuhan di atas

Kebutuhan paling dasar yang harus dipenuhi oleh setiap individu adalah kebutuhan fisiologis, seperti sandang, pangan, dan papan, dan kebutuhan yang harus dipenuhi untuk mempertahankan hidup secara fisik.

Selanjutnya kebutuhan akan rasa aman, kebebasan dari rasa takut, perlindungan, yang membuat seseorang merasa tenang. Misalnya seorang anak yang memperoleh kebutuhan rasa aman ini ketika dekat dengan ibunya, dengan orang tuanya. Pernah kan merasakannya? Kebutuhan rasa aman ini juga mengarah pada dua bentuk, yaitu kebutuhan keamanan jiwa dan kebutuhan keamanan harta.

Ketika dua kebutuhan tadi sudah terpenuhi, seseorang akan menuntut untuk pemenuhan kebutuhan yang lainnya, seperti munculnya kebutuhan akan rasa cinta, rasa memiliki, kasih sayang dari orang-orang sekitar. Biasanya ini dalam hal sebuah hubungan dengan orang lain, bisa keluarga, teman, kekasih, sahabat, dan yang lainnya. Pada intinya seseorang membutuhkan pengakuan atau penghormatan dari orang lain.

Kebutuhan yang lebih tinggi lagi adalah kebutuhan akan penghargaan. Esteem needs ini mengarah pada keinginan untuk memperoleh harga diri dan juga agar tidak lagi merasa minder. Seseorang ingin diapresiasi atas pencapaian atau prestasi yang telah didapatkan agar orang lain menghargai hal ini.

Kebutuhan tertinggi yang harus dipenuhi oleh manusia menurut Maslow selanjutnya adalah aktualisasi diri. Seseorang ingin menggunakan potensi dan mengaktualisasikannya dalam bentuk pengembangan diri. Hal ini ditunjukkan dengan pekerjaan atau sesuatu yang dilakukan yang jauh dari hanya sekadar rutinitas. Tapi juga lebih menantang dan penuh dengan kreativitas tingkat tinggi. Karya-karya yang luar biasa dan merasa sangat patut untuk dihargai orang lain.

Beberapa orang mungkin akan berada pada tingkatan yang berbeda. Kali ini mungkin kita akan lebih spesifik untu membahas pada esteem needs, kebutuhan akan penghargaan.

Lembaga Pengetahuan Indonesia (LIPI) menjelaskan bahwa kebutuhan akan penghargaan ini dibagi menjadi dua, yaitu kebutuhan akan kekuatan, penguasaan, kompetensi, percaya diri, dan kemandirian. Kedua yaitu kebutuhan akan penghargaan dari orang lain, status, ketenaran, dominasi, kebanggaan, serta dianggap penting dan diapresiasi orang lain. Hal ini yang akan mendorong seseorang untuk mempunyai prestasi, kemampuan, kecakapan, yang dengan hal itu akan membuat seseorang lebih percaya diri dan berharap orang lain akan menghargai apa yang telah diusahakan ini. Pada intinya prestasi ini akan membentuk prestige dan status sosial seseorang dan memperoleh penghargaan dari lingkungan sosial sekitarnya.

Definisi prestasi sendiri menurut saya bukan hanya soal angka, juara, berbagai pencapaian, dan hal-hal lainnya yang bisa kita lihat dan dengarkan saja. Dulu aku melihat orang yang banyak prestasi itu hebat ya, prestasi dalam hal akademik di sekolah, di kampus, di organisasi, di masyarakat, dan orang-orang yang telah menemukan passion-nya dan menggunakan hal itu untuk sesuatu yang  wow keren banget gitu kalau orang lain lihatnya. Tapi seiring berjalannya waktu, aku mulai sadar bahwa makna prestasi yang sebenarnya bukan tentang itu. Ya memang tidak sepenuhnya salah, tapi ada yang kurang tepat dengan cara pandang kita memahami prestasi ini.

Setiap orang itu unik, dan nggak bisa disamakan satu dengan yang lainnya. Mungkin orang-orang yang memiliki banyak prestasi tadi adalah salah satu dari banyak cara yang mereka gunakan untuk mengoptimalkan kemampuannya. Dan nggak semuanya bisa melakukan hal itu. Misalnya, ada temen yang udah jadi sarjana lomba menang di mana-mana, dan kita nggak pernah ikut lomba dan menang. Kita jadi merasa diri kita ini nggak punya prestasi sama sekali. Padahal ada banyak jalan untuk memperoleh penghargaan, bukan hanya melalui sebuah perlombaan.

Hmm mungkin kita akan bahas secara lebih sederhana bagaimana caranya agar kebutuhan akan penghargaan ini bisa kita dapatkan. Yuk, simak dulu tipsnya berikut ini.

Penerimaan Diri

Kita mengakui bahwa setiap orang itu selalu memiliki keunikan. Kenalilah diri sendiri dan terima bahwa kita memang terlahir seperti ini. Hal-hal yang memang sudah tidak bisa kita ubah maka terimalah dengan sepenuh hati. Misalnya masa lalu, pengalaman buruk, kemampuan yang tidak seperti orang-orang kebanyakan, jangan merasa rendah diri. Kita bisa menggunakan analisis SWOT untuk lebih mengenal diri kita lebih baik. Sepertinya ada artikel ublik yang lain yang menjelakan soal ini atau mungkin sumber referensi lain. Semakin kita mengenal diri kita, semakin kita tahu bagaimana menempatkan diri dalam segala situasi. Nggak mudah iri atau tersaingi dengan pencapaian orang lain. Kita punya jalan masing-masing untuk berprestasi, jadi tidak perlu merasa minder lagi. Penghargaan dari orang lain itu akan sejalan jika kita juga bisa menghargai diri sendiri. Tenanglah, semua akan baik-baik saja.

Fokus 

Orang-orang yang telah mengenal dirinya dengan baik pasti akan menemukan potensi dan mengoptimalkan apa yang yakini ini dengan terus berlatih dan berproses setiap waktu. Kalian pasti tahu bahwa tidak ada yang instan di dunia ini. Setiap orang yang mau berproses, dialah yang akan menemukan definisi sukses.

Ada satu buku menarik yang menggambarkan tentang kekuatan fokus ini. Dalam buku ‘Anak-Anak Langit’ yang ditulis oleh Mohd Amin MS ada seorang murid bertanya pada gurunya,

Pak, saya Satria. Saya mau menanyakan tentang kemampuan yang besar dan bagaimana berfokus dengannya?”

“Baiklah! Anak-anakku, kalian adalah anak-anak langit yang memiliki kekuatan yang sangat besar. Potensi kalian luar biasa. Kalian ibarat matahari yang memiliki panas kuat untuk menyinari alam semesta. Matahari juga menjadi pusat edar dan tempat planet melakukan thawaf. Ia menjadi sumbu, begitu hebatnya, begitu kuat posisinya. Bahkan suhunya sampai 6000 derajat celcius. Tapi, tahukah kalian, kadang matahari dapat dikalahkan oleh api buatan manusia? Ya, ada saatnya matahari dapat dikalahkan . Matahari dapat dikalahkan oleh api tukang las dengan panas yang mungkin hanya 500 derajat celcius, kurang dari 10%nya. Kenapa? Itu karena sinar api tukang las itu fokus. Ia menjadi sangat kuat. Sama seperti sinar laser yang mampu menembus baja. Sedangkan matahari, sinarnya menyebar, tidak fokus. Banyak turis yang sengaja membakar tubuhnya di bawah terik matahari dan tak apa-apa. Malah menikmatinya. Sebaliknya, ketika api itu fokus, maka besi pun dapat ditembusnya. Coba kalian lihat rintik hujan. Begitu banyak, begitu deras menghujam, dari jarak jauh di angkasa sana. Tapi hujan tak berpengaruh pada batu, tanah, dan atap. Tapi coba lihat tetesan air di atas batu. Hanya kecil, tapi titiknya fokus. Granit yang keras pun lama-lama akan bolong dibuatnya. Nah, begitulah kekuatan fokus.”

Dari dua hal yang coba aku sampaikan tadi, aku hanya ingin menitikberatkan pada rasa kepercayaan diri yang harus kita bangun terlebih dahulu. Hal yang paling penting setelah itu, fokus pada apa yang kita miliki saat ini. Optimalkan apa saja yang bisa kita lakukan. Orang bisa karena biasa. Kalau kita merasa belum menemukan potensi dalam diri, cari, gali itu. lakukan setiap hari secara continue. Misalnya kita belum bisa menulis, tapi mungkin ada ketertarikan untuk itu. Maka, kita hanya perlu waktu untuk expert dalam menulis. Semua butuh waktu, keseriusan, dan ketekunan. Lagi-lagi, kesuksesan tidak diraih dengan berpangku tangan pada keadaan. Kita juga harus berusaha.

Butuh Waktu Agar Tidak Lagi Merasa Minder

Terkait dengan penghargaan, tak selalu apresiasi dari orang lain membuat diri kita bahagia. Terlalu berharap pada manusia bukannya sudah sering berakhir kecewa? Eh, malah curhat. Maksudku untuk pemenuhan kebutuhan penghargaan ini, bisa kita mulai dulu pada diri sendiri. Coba hargai setiap usaha yang telah kita lakukan. Segala hal baik akan mengikuti setelahnya. Kita istimewa dengan apa yang kita punya.

Selamat bertumbuh, lukamu pasti akan sembuh. Merasa minder saat ini tidak apa-apa. Berproses setiap hari untuk menjadi pribadi yang lebih baik lagi.

Semangat sahabat Ublik 🙂

Report

What do you think?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Langkah Penting Untuk Membangun Success Mindset

Menyembuhkan Luka Inner Child, Berdamailah dengan Masa Lalumu