in

Mengapa Anak Muda Merasa Kesepian dan Bagaimana Mengatasinya?

Pernahkah mengalami yang seperti ini: merasa kesepian di dalam keramaian?

Pernahkah kamu mengalami yang seperti ini: melakukan aktivitas setiap hari, dikelilingi oleh banyak orang hampir sepanjang hari, tapi masih merasa kesepian? Khususnya saat tinggal di perantauan dan jauh dari keluarga. Alhasil, media sosial sering jadi ‘teman baik’ untuk mengobati kesepian.

Terlepas dari apakah efek dari bermain media sosial itu baik atau tidak. Kadang, bukannya mendapatkan informasi yang menghibur, yang ada justru perasaan tidak enak karena melihat kehidupan orang lain yang terlihat lebih baik. Agar tidak terlalu meluas, alangkah baiknya kalau kita fokus saja pada hal-hal tentang kesepian dan bagaimana menyikapinya.

Banyak orang di dunia yang merasa kesepian, dan banyak pula yang peduli tentang hal ini. Sudah banyak temuan dari peneliti dan praktisi lain dari sejumlah lembaga di dunia yang bekerja untuk mengkaji masalah kesepian yang ternyata menjadi hal yang berdampak lebih besar daripada yang kita bayangkan. Pada saatnya, kita akan sampai pada kenyataan bahwa menghadapi hari tua sendirian itu adalah sesuatu yang ditakuti banyak orang.

Apakah Kesepian Segawat Itu?

Sebab Tuhan memberi kita anugerah berupa rasa penasaran, banyak dari kita pasti pernah bertanya-tanya: apa hubungannya antara kondisi fisik dan perasaan di dalam diri? Ketika fisiknya sakit, kaki tersandung batu misalnya, maka perasaan jadi tidak enak. Begitupun sebaliknya, ketika perasaan sedang tidak bahagia, semua jenis perasaan itu bisa saja memengaruhi kesehatan fisik. Lalu apakah merasa kesepian juga berpengaruh pada kesehatan?

“Life could be wonderful if people would leave you alone.” (Charlie Chaplin)

Urusan kesepian, walau terkesan hal receh buat sebagian orang, ternyata tidak sebercanda kata-kata komedian seperti di atas, karena ternyata ini ada kaitannya dengan kenaikan tekanan darah, gejala depresi, kadar kolesterol tinggi, penurunan kemampuan kognitif, dan penyakit alzheimer. Kurangnya koneksi sosial juga bisa menjadi faktor risiko yang sebanding untuk kematian dini, dan lebih buruk bagi kita daripada faktor risiko lain seperti obesitas dan kurangnya aktivitas fisik.

Mana yang Lebih Merasa Sepi: Orang Tua atau Anak Muda?

Saat kita menggambarkan tentang kondisi kesepian, stereotipnya sering kali adalah golongan orang-orang yang lebih tua dan hidup sendirian akan lebih kesepian daripada anak muda. Dalam ‘Eksperimen Kesepian’ dari BBC (BBC Loneliness Experiment), 40% dari anak muda 16 hingga 24 tahun yang menjadi objek, mereka mengaku sering merasa kesepian dibandingkan dengan golongan yang lebih sepuh, 75 tahun ke atas yang hanya 27%.

Ini menimbulkan pertanyaan: mengapa begitu banyak anak muda yang mengatakan bahwa mereka merasa kesepian? Mungkin saja karena mereka lebih ‘siap’ untuk mengakui perasaan kesepiannya, daripada orang tua yang lebih merasa perlu menekankan kemandirian mereka.

Dari eksperimen yang dipimpin oleh Claudia Hammond itu terlihat bahwa ketika semua orang ditanya pada titik mana dalam kehidupan mereka mereka merasa kesepian, jawaban yang paling umum diberikan adalah ketika mereka masih muda.

kesepian , sibuk
Apakah kamu merasa kesepian walau sibuk dengan orang-orang?

Mengapa Anak Muda Kesepian?

Kita mungkin cenderung menganggap bahwa usia 16-24 itu adalah momen ‘kebebasan baru’ untuk bersenang-senang, setelah lulus dari pendikan formal dan memiliki kendali lebih besar atas kehidupan sendiri. Tapi itu juga merupakan ‘masa transisi’ yang menantang.

Momen-momen pindah dari rumah, memulai pekerjaan baru, dan menghadapi pilihan-pilihan penting tanpa ada lagi teman-teman yang dari dulu tumbuh bersama. Ke mana mereka? Mereka berpencar, memulai hidup masing-masing, dan bisa jadi mereka pun mengalami sepi yang sama. Pada saat inilah, anak-anak muda akan berusaha mencari tahu siapa dirinya dan di mana mereka harus menempatkan diri.

Bagaimana dengan di sekitar kita? Atau lebih spesifiknya, bagaimana dengan dirimu sendiri? Lalu bagaimana caranya untuk berhenti merasa kesepian?

Mulai dari Menyadari dan Menerima

Pertama-tama, perhatikan bagaimana perasaanmu, entah itu kekosongan di dada, sedikit kegelisahan, atau berat badan yang berkurang. Jika ada saatnya merasakan kesedihan, biarkan dirimu menangis tanpa menahan diri. Biar lepas saja dulu. Setelah itu pastikan ada penerimaan dari diri sendiri.

Banyak orang mencoba lari dari kesepian. Kadang-kadang mereka mungkin mencoba mengalihkan perhatian mereka dengan kesibukan-kesibukan. Mereka sibuk tapi tidak benar-benar menikmati semuanya, justru merasa kosong dan mati rasa.

Jadi harus bagaimana? Sadari dan terima saja ‘segala kondisi’ yang ada saat ini dan hindari menyalahkan, termasuk menyalahkan diri sendiri: mengapa tidak pandai bergaul, mengapa memilih merantau jauh, dan seterusnya.

Lihat Kecenderungan Individu

Setelah menyadari dan menerima, lihat kecenderungan individu. Apakah ia seorang ekstrovert atau introvert, karena itu akan berpengaruh pada caranya ‘mengisi ulang’ energi dirinya. Orang ekstrovert jelas akan lebih bersemangat lagi dengan aktivitas bersama orang banyak, karena itu mereka tidak merasa kesepian. Sebaliknya, orang introvert akan lebih nyaman di dalam ketenangan. Berada di kamar sambil menonton film pun bisa jadi momen menyenangkan untuk membunuh sepi, dan mereka melakukan itu sendirian. Kadang tidak masalah apakah secara fisik dia sendirian atau bersama orang banyak, yang penting adalah seberapa kuat dirinya merasa terkoneksi dengan sesuatu atau seseorang selain dirinya.

Aktivitas Baru, Teman Baru

kesepian , komunitas
Ikut komunitas hobi bisa menghilangkan sepi

 

Gagasan tentang mencoba hal baru sepertinya cukup sering kita dengar, khususnya sebagai motivasi agar kita tidak bosan dan agar kita lebih kreatif. Tapi, mencoba sesuatu yang baru, lebih tepatnya berkegiatan dengan orang baru, itu bisa memperluas lingkaran sosial kita. Dari sekian banyak orang baru yang ditemui itu, mungkin saja di sana ada yang sangat nyambung kalau ngobrol, bisa ‘satu frekuensi’ dalam banyak hal, dan ternyata punya mimpi yang sama. Alhasil, teman baru itu segera jadi teman dekat. Bergabung dengan komunitas yang melakukan kegiatan-kegiatan seru pastinya akan lebih menarik untuk dicoba. Bagaimana menurutmu?

Jadi Lebih Berarti saat Merasa Dibutuhkan

Walau tidak selalu ada teman yang hadir menemani, ternyata masih ada alasan untuk tidak kesepian. Itu adalah saat seseorang dibutuhkan, saat itulah ia merasa lebih berarti. Dibutuhkan di sini lebih dari sekadar diperhatikan oleh orang lain. Bisa jadi ini terkait dengan minat dan pandangan mereka, juga pengalaman hidup yang pernah mereka hadapi, lalu ada orang lain yang membutuhkan cerita tentang itu.

Ambil contoh dirimu sendiri. Bagaimana perasaanmu saat bisa membantu orang lain melakukan sesuatu? Meskipun itu hal sederhana, misalnya menjadi pendengar cerita teman melalui telepon. Lalu dia senang dan seolah mendapat pencerahan dari kata-katamu.

‘Terkoneksi’ dengan Diri Sendiri

Jika kamu memiliki orang-orang yang mendukungmu dalam suka duka, hubungi mereka. Coba telepon untuk mengirim pesan pendek, jika perlu minta dukungan dalam bentuk apa pun yang kamu butuhkan. Membiarkan dirimu benar-benar terhubung dengan orang lain tentu akan membantu dirimu untuk merasa lebih kuat secara emosional dan tidak terpengaruh oleh kesendirian.

Tapi kalaupun memang sedang tidak memungkinkan terkoneksi dengan siapapun, setidaknya bisa tetap ‘terkoneksi’ dengan diri sendiri. Kita boleh saja mengalami fase penuh kesendirian, melangkah di jalanan sepi, memikirkan tentang diri sendiri, dan hal-hal kurang menyenangkan dari semua itu, lalu menatap keramaian jalan raya dengan khayalan yang liar.

Tapi kita juga bisa berjalan dengan rasa syukur atas keragaman orang yang bisa kita saksikan di sana, lalu diam-diam berharap kesehatan yang baik dan keberuntungan, dan tersenyum pada setiap orang yang kita temui. Sepertinya akan menyenangkan, meskipun kadang-kadang kita harus mengingatkan diri sendiri, untuk melatih diri, dengan sengaja melatih diri. Melatih untuk apa? Untuk tidak membiarkan pikiran berlarut dalam sepi yang diciptakan sendiri. Jangan-jangan kesepian hanya ada di pikiran kita sendiri.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Mengapa Harus Belajar Parenting Bahkan Sebelum Menikah? 

teman toxic , lingkungan

Terjebak di Lingkungan Teman Toxic, Harus Bagaimana?