Bagaimana Mulai Menulis? (Gambar: Pixabay)

Memulai adalah problem besar bagi para penulis. Bejibun ide yang menggelayut di benak bukan faktor determinan seseorang mampu menulis. Sebelum ide diwujudkan ke dalam rangkaian kalimat, tulisan akan tetap menjadi bayangan abstrak. Menulis, karenanya, merupakan tindakan simultan antara ide dan laku. Tanpanya, menulis sekadar sebatas keinginan kosong.

Tahun kedua mengenyam pendidikan strata satu, seorang profesor bernama Suminto A. Sayuti memprovokasi: kunci menulis itu hanya tiga, yakni menulis, menulis, dan menulis. Penjelasan imperatif itu mengindikasikan betapa modal menulis serupa sebuah laku terus-menerus. Guru besar FBS UNY, itu mensimplifikasikan aspek fundamental keterampilan menulis.

Pilihan Editor;

Jamak orang mengalami kesulitan menemukan kalimat pertama dalam tulisan mereka. Berpikir keras menggayung ide dan meneroka diksi barangkali langkah paling sulit. Sekalipun demikian, hambatan konvensional ini acap didramatisasi berlebihan. Bahkan, alasan tersebut dikambinghitamkan sebagai alasan klasik kenapa calon penulis berhenti di tengah jalan.

Tentang Melawan Diri Sendiri

Tulisan tak pernah selesai muncul dari kemalasan internal manusia. Sikap malas itu kemudian dikamuflasekan di balik dalih suasana hati (mood). Hal ini terus diulang oleh mereka yang menyerah di tengah proses menulis. Tak heran bila seorang Eko Triono, cerpenis berpengaruh di era milenial, mengatakan, “Menulis itu melawan.” tentu maksud Eko di situ adalah melawan diri sendiri.

Premis menulis adalah tindakan (praktik) menulis bisa dipahami dalam dua perspektif. Pertama, kecakapan memulis membutuhkan latihan rutin tanpa mengenal kata final. Esais sekaliber Goenawan Mohamad mampu produktif menulis Catatan Pinggir, kolom mingguan Majalah Tempo, secara jernih, tegas, dan runtut niscaya diimbangi oleh banyak membaca.

(Sumber: Pixabay)

Goenawan mendapatkan inspirasi untuk tulisan-tulisannya dari jagat teks yang dibacanya secara rutin. Tanpa dorongan membaca yang kuat, Goenawan mungkin akan kesulitan membangun gagasan kreatifnya. Ia mendapatkan inspirasi, salah satunya, dari bahan bacaan. Baik lewat buku, jurnal, laporan jurnalistik, dan pelbagai sumber referensi lain.

Mantan bos Tempo itu membuktikan kesimbangan antara membaca dan menulis. Dua hal ini berpaut erat bila diteropong melalui kedudukan dua keterampilan berbahasa itu. Membaca ialah kecakapan reseptif, sedangkan menulis merupakan kompetensi produktif. Tanpa asupan membaca, dorongan kreatif untuk mengemukakan gagasan tertulis terasa sia-sia.

Pandangan Goenawan melengkapi Daoed Joesoef. Mantan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Kebinet Pembangunan III Era Soeharto itu menjelaskan menulis sebagai keterampilan reflektif. Baginya, menulis merupakan alat ukur untuk memahami kekurangan manusia.

Seseorang bisa mengukur sejauh mana pengetahuannya dengan menulis. Bila tak tahu-menahu apa yang ditulis maka sesungguhnya ia tidak mempunyai konstruksi pengetahuan mengenai sesuatu. Sementara mereka yang mengucur lancar selama menulis, berarti ia memiliki bangunan pengetahuan. Dengan demikian, membaca adalah katalis seseorang untuk menulis.

Premis kedua berkelindan dengan keberanian diri untuk menuangkan tulisan secara langsung. Terlalu banyak pertimbangan justru menghambat, bahkan memperlambat, produktivitas penulis. Hal ini juga berpengaruh signifikan terhadap durasi menulis. Semakin lama ia memikirkan gagasan maka semakin lama pula tulisan selesai. Demikian pula sebaliknya.

Sebuah Proses Kreatif

Dua premis di atas menunjukan peran dan fungsi menulis sebagai sebuah potret konstruksi berpikir seseorang. Dengan mudah bisa ditarik kesimpulan antara sistematika tulisan dan pola berpikir menyiratkan satu garis lurus. Kendatipun di situ masih dipengaruhi variabel pragmatik dan semiotik bahasa, baik lisan maupun tertulis.

Membangun gagasan secara sistematis dan komprehensif adalah acuan ontologis kenapa menulis itu penting. Sayangnya dunia pendidikan formal masih mensubordinasikan pelajaran bahasa Indonesia, terutama untuk keterampilan menulis. Pelajaran berbasis hitam-putih yang diwujudkan ke dalam soal pilihan ganda masih pula menghegemoni.

Proses Kreatif (Sumber: Pixabay)

Andaikata pelajaran menulis diposisikan primer di sekolah dasar hingga menengah barangkali siswa akan terdorong untuk terus berkreativitas. Menulis, dengan demikian, adalah proses kreatif seseorang untuk menuangkan segenap potensi pikiran dan intuisinya dalam rangka mengonstruksi ide. Rajin menulis berarti menandakan spirit berkreativitas.

Tidak mudah membangun tradisi menulis. Banyak variabel terikat yang mendasari suatu masyarakat rela melakukan “kerja sepi”—term lain untuk menyebut keterampilan menulis. Hiruk-pikuk sosial lebih difungsikan sebagai bahan diskusi lisan ketimbang duduk menyepi menggerakan jemari di atas papan ketik.

Apalagi, kondisi sosiologi bangsa Indonesia, menurut segelintir pengamat linguistik, adalah penduduk berbasis budaya lisan. Tapi bukankah lisan ialah versi lain dari tulisan? Yang tertulis sebetulnya merupakan yang diujarkan? Kenyataan demikian masih diperdebatkan oleh mereka yang mengaku sebagai ilmuan sosial maupun linguis.

Di tengah peredebatan itu terdapat iktikad akademik untuk meneroka kecenderungan bangsa Indonesia: kenapa lisan lebih dominan? Meskipun demikian, asumsi tersebut hanya satu versi dari sekian kemungkinan realitas bahasa di Indonesia. Jagat linguistik memang terbuka terhadap eksplorasi para peneliti tanpa mengenal kata henti. Selama pikiran terdorong untuk terus bertanya, selama itu pula manusia tergerak untuk mencari. Menulis adalah ejawantah dari ekspresi pencarian itu.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here