in

Menjadi Petani Muda Milenial, Kenapa Tidak?

Saatnya petani melek teknologi, anak muda penggeraknya!

Menjadi petani? Bagaimana pendapatmu, Sahabat Ublik? Sudah kita ketahui bahwa negara kita dikenal sebagai negara yang subur. Negara kita juga dikenal dengan sebutan negara agraris, selain negara maritim tentunya. Sebagai salah satu negara dengan tingkat agrarianya yang tinggi, itu menjadikan Indonesia mayoritas pekerjaannya adalah bertani. Tapi, jika sahabat Ublik perhatikan, para petani itu kebanyakan adalah mereka yang usianya sudah tua.

Namun, tahukah sahabat Ublik, jika sebentar lagi Indonesia akan mengalami krisis regenerasi petani? Dilansir dari lanangindonesia.com, menurut data BPS Sensus Pertanian 2013 silam, petani di Indonesia ada di kelompok usia 45-54 tahun. Anak muda Indonesia semakin banyak yang enggan bertani, bahkan di kalangan mahasiswa lulusan pertanian itu sendiri. Meskipun tidak semuanya seperti itu. Perubahan gaya hidup modern dan industrialisasi dianggap lebih menjanjikan.

Baca juga;

7 Alasan Mengapa Sarjana di Indonesia Masih Banyak yang Menganggur
Generasi Milenial Rentan Gangguan Kesehatan Mental, Fakta atau Mitos?
Inilah yang Sebenarnya Dibutuhkan oleh Generasi Milenial

Sudah sahabat Ublik ketahui, meskipun ada sebagian dari orang tuanya bertani, tapi tidak serta-merta anaknya menjadi petani. Mungkin hal ini karena beberapa alasan, seperti pakaian berlumur tanah, kulit bermasker lumpur, rambut bau matahari, tubuh berpeluh, dan kulit bisa menjadi hitam. Barangkali itulah gambaran sosok petani.

Tapi, jika kita tersadarkan akan pentingnya peran seorang petani, kegiatan bertani pun bisa menjadi sangat menyenangkan. Ada unsur sosial dan solidaritas dalam bertani. Ya, bertani mengandung unsur kerja sama, saling berbagi, dan saling membantu. Lalu hal apa saja yang dapat menjadikan kegiatan bertani itu menyenangkan?

Tandur

Tandur yaitu kegiatan menanam bibit padi ke dalam sawah yang sudah siap untuk ditanami. Dalam kegiatan tandur ini, petani yang memiliki lahan sawah luas, terkadang bisa saja kekurangan bibit. Nah, dalam kondisi seperti inilah solidaritas muncul. Petani yang masih memiliki ketersediaan bibit akan mudah memberikan ‘sepocong’ bibit padi yang sudah diikat, untuk diberikan kepada petani yang kekurangan.

Menumbuk Padi

Apabila sudah musim panen, maka padi akan ditumbuk untuk dipisahkan gabahnya. Dalam kegiatan ini biasanya tidak dilakukan seorang diri, namun ditumbuk beramai-ramai. Maka di sinilah kerjasama terlihat.

Botram

Sisi lainya juga dapat dilihat dalam budaya botram (makan bersama). Ketika para petani membuka timbel (bekal), mereka akan makan bersama di pematang sawah. Biasanya para petani akan saling tawar kepada petani lain. Suasana inilah yang sekarang jarang ditemukan pada kehidupan kota. Selain makan bersama, tentu dalam suasana itu selalu diiringi obrolan dan candaan.

Selain itu, bertani sangat mengandung unsur kegiatan olah fisik dan bahkan bisa jadi pengendali psikis. Betul sekali, kegiatan bertani sangat memanfaatkan kinerja fisik. Seperti mencangkul, menanam benih, hingga panen yang semuanya melibatkan kerja fisik. Dan perlu diingat pula, bahwa olah fisik sarat akan manfaat kesehatan bagi tubuh petani itu sendiri. Tak heran kita jarang melihat petani mengeluh sakit.

Selain bermanfaat bagi fisik, ternyata bertani juga dapat mengontrol psikis. Jika kondisi kita lelah karena berbagai permasalahan hidup, makan akan teredam saat melihat pemandangan hamparan sawah yang indah. Namun, dari berbagai manfaat dan keasyikan bertani, nyatanya masih menjadi pekerjaan yang kurang menarik bagi para pemuda saat ini. Bisa jadi mereka lebih melihat pada tingkat gengsi untuk menjadi seorang petani.

Gengsi? Ya, oleh sebab itulah mungkin menjadi alasan kenapa anak muda sekarang tidak mau untuk bertani. Bahkan lebih memilih ke luar kota untuk bekerja di pabrik ataupun mall yang memberikan penghasilan pasti, yang tidak akan membuat kulit kotor berlumpur dan badan berpeluh. Dengan bekerja di pabrik-pabrik, mall-mall, atau perkantoran tentu akan menonjolkan penampilan menarik yang berkesan berkelas di masyarakat.

Tapi sahabat Ublik, sepertinya justru pada saat ini kita haruslah bekerja cerdas. Saat ini teknologi begitu berkembang pesat. Bahkan, seluruh sendi kehidupan sudah ‘dirasuki’ teknologi digital. Tak hanya bidang ekonomi, industri, dan kesehatan yang dijamah oleh pesatnya teknologi, Dunia pertanian pun sudah dirambahnya.

Lalu bagaimana cara memanfaatkan teknologi guna menjadi petani yang cerdas?

Tentu saat ini para petani harus menjadi cerdas dengan dukungan teknologi berupa jaringan internet, yang salah satunya sangat dibutuhkan dalam pengembangan internet of things.

Misalnya, ketika seorang petani berminat mengembangkan mentimun, ia berkonsultasi dulu kepada pakar pertanian. Menanyakan kondisi lahan, pengaruh cuaca, curah hujan, dan ketersediaan air, serta prediksi hama dan bagaimana penanganannya. Maka hal seperti itu akan mudah sekali didapat jika memanfaatkan internet of things.

Jadi, suatu saat nanti, jangan heran apabila menyemprot tanaman, menyiram, pemupukan, bahkan ketika panen akan dikerjakan oleh sebuah teknologi yakni robot. Pengolahan tanah bukan lagi dibajak oleh hewan seperti kerbau, tapi menggunakan traktor virtual yang dikendalikan dari jarak jauh.

Dengan begitu pemeliharaan tanaman semakin mudah. Hasilnya pun bisa diprediksi. Tentu hal ini dikarenakan adanya agriculture technology (agtech), teknologi digital untuk pertanian cerdas. Inilah yang menjadi celah bagi anak muda milenial.

petani , sawah
Hamparan sawah petani

Tapi mengapa harus kita, anak milenial? Alasannya sederhana;

Pertama, membaca data

Data yang dikumpulkan oleh sensor harus dibaca dan ditelaah. Kualitas tanah, misalnya, penting guna menentukan tanaman pilihan. Kondisi cuaca, misalnya, perlu untuk mengantisipasi gagal panen. Data-data tersebut lebih mudah dibaca oleh petani generasi milenial dibanding yang sudah tua.

Kedua, mengontrol kualitas

Kinerja staf, efisiensi peralatan, kemajuan pertumbuhan tanaman, atau kesehatan ternak, semuanya dapat dikontrol lewat smartphone dan aplikasi pertanian cerdas. Petani yang gagap teknologi dan ‘gegar informasi’ maka keteteran. Maka di sinilah peran anak muda seperti kita.

Ketiga, menata produksi

Berkat sensor internet of thing, petani dapat memperkirakan hasil dan kualitas produksi, serta merencanakan distribusi produk. Petani akan tahu persis berapa banyak hasil yang akan dipanen, termasuk kualitas dan kuantitasnya.

Keempat, mengelola smartphone

Dengan otomatisasi proses maka efisiensi bisnis pertanian akan meningkat. Masalahnya, otomatisasi proses dilakukan melalui smartphone. Lewat perangkat hape pintar, petani dapat mengotomatisasi proses di seluruh siklus produksi. Sebut contoh irigasi, pemupukan, atau pengendalian hama.

Nah, keempat hal di atas memastikan pentingnya keberadaan petani milenial. Jika gengsi yang membuat anak muda enggan menjadi petani, cobalah lirik agtech-nya. Jika kotor yang ditakuti anak muda sehingga malas bertani, selamilah bertani dalam ruangan (indoor farming).

Oleh karena itu, penulis berharap kita tidak abai di dunia pertanian. Karena pekerjaan petani merupakan pekerjaan yang begitu vital dalam kehidupan. Selain itu, revolusi industri terus berjalan. Kita tidak boleh berleha-leha. Bagaimanapun caranya, generasi milenial harus dipikat dan ditarik agar melirik dunia pertanian dengan cerdas.

Bisa bertani hidroponik, bisa bertani akuaponik, bisa juga bertani dalam ruangan. Maka dari itu, orang tua tak perlu merasa cemas apabila putranya sibuk mengulik handphone. Siapa tahu minat dan bakatnya di teknologi digital, lalu terpikat mengembangkan pertanian cerdas berbasis internet of thing.

Petani bukanlah profesi rendahan justru sebaliknya petani adalah pekerjaan vital. Anak muda milenial bertani, kenapa tidak?

Ditulis oleh Fakhri Fauzan Azhari

Aku adalah seorang hamba yang mengabdi kepada illahi lewat sebait puisi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Nikmati Proses Hidupmu Selepas SMA dengan 7 Tips Ini

andreas , wisuda

Andreas Rony: Anak Petani dari Klaten yang Lolos 5 Beasiswa S2 Luar Negeri