in

Menjadi Perfeksionis, Kelebihan atau Kekurangan?

Sahabat Ublik, apakah kamu sering mendengar kata ‘perfeksionis’? Istilah ini berkaitan tentang pola pikir yang cenderung mempunyai standar tinggi dan sempurna atas segala hal. Individu yang mempunyai pola pikir perfeksionis itu mungkin bisa kita temukan di lingkungan pertemanan kita. Seperti yang tertera dalam Kamus Lengkap Bahasa Indonesia karya Amran Y.S Chaniago bahwa perfeksionis adalah orang yang mendambakan segalanya dapat sempurna.

Sikap perfeksionisme pada diri seseorang biasanya tercermin dari caranya berpenampilan, polanya dalam bekerja, dan sikapnya menjalin hubungan dengan orang lain dalam kehidupan sosial. Alih-alih menginginkan segalanya sempurna, apakah perfeksionisme adalah suatu kekurangan, atau justru suatu kelebihan? Hmm… Mari terlebih dulu kita telaah satu demi satu kecenderungan yang ada pada diri perfeksionis.

1.Ambisius, Namun Lebih Fokus pada Hasil

Untuk bisa mencapai tujuan, kita membutuhkan motivasi yang kuat dalam melakukan segala hal, salah satunya agar tak mudah ‘berhenti di tengah jalan’ ketika menemui rintangan. Karena menginginkan kesempurnaan, perfeksionis menjadi sangat ambisius. Ia tak ingin setengah-setengah dalam melakukan sesuatu, selalu berupaya melakukan yang terbaik agar mendapatkan hasil yang sempurna.

Bukankah bekerja sepenuh hati dan secara total adalah hal yang sangat diperlukan untuk mencapai suatu tujuan? Ya, hal tersebut bisa menjadi kelebihan. Namun seringkali itu menjadikan perfeksionis jauh lebih mementingkan hasil daripada prosesnya. Terkadang ia lupa menikmati detik demi detik proses yang dilalui, memaknai suka duka perjuangan dalam perjalanan mencapai tujuan. Apalagi ketika hasil akhirnya tak sesuai dengan yang diharapkan, perfeksionis bisa sangat kecewa, merasa tak berguna dan segala proses yang dilalui dirasa sia-sia.

perfeksionis , ambisius
Perfeksionis dan ambisius! Fokus pada hasil maksimal

2.Selektif Namun juga Menuntut

Dalam urusan asmara, perfeksionis menetapkan standar yang tinggi baik dalam memilih pasangan maupun pola mereka menjalani hubungan. Standar yang tinggi membuatnya mempunyai kriteria pasangan yang tidak biasa. Ia menjadi pemilih dan sangat selektif. Bukan hal buruk, karena itu memicunya untuk menjadi sosok yang berstandar tinggi terlebih dulu. Namun terkadang dalam menjalin hubungan, perfeksionisme yang tak bisa dikendalikan bisa membuatnya terlalu banyak menuntut orang lain, bukan hanya menuntut dirinya sendiri. Orang lain bisa menjadi tidak nyaman ketika tak diberikan ruang untuk menjadi dirinya sendiri, dipaksa menjadi yang terbaik menurut standar si perfeksionis.

3.Penuh Persiapan Namun Kerepotan

Sebelum melakukan sesuatu, perfeksionis selalu berupaya mempersiapkan segalanya dengan baik. Hendak pergi keluar kota menghadiri suatu acara selama beberapa hari, mempersiapkan segala hal mulai dari runtutan waktu perjalanan dari berangkat, saat acara berlangsung hingga pulang, padu padan pakaian yang disesuaikan setiap sesi acara, serta barang-barang bawaan. Ya, mempersiapkan segala hal adalah baik, seperti kata Sherina dalam film Petualangan Sherina, “Gak ada salahnya menghadapi segala kemungkinan, toh?” Namun, ketika kadarnya berlebihan seperti membawa barang A sampai Z untuk mengantisipasi kejadian yang tidak diinginkan, bukankah membuatmu justru kerepotan? Terlalu memikirkan banyak hal yang belum tentu terjadi.

4.Detail Namun Boros Waktu

Dalam lingkup pekerjaan, perfeksionis adalah individu yang sangat detail. Dalam mempersiapkan bahan presentasi, misanya. Ia kerap kali begitu terinci akan gaya presentasi, teknik presentasi hingga format laporan seperti jenis huruf, ukuran font, warna huruf hingga ukuran garis! Hmm… sangat memperhatikan hal-hal ‘sepele’.

Menjadi pribadi yang detail memang terlihat rapi dan sangat menarik, tapi terkadang untuk mengerjakan laporan dengan standar seorang perfeksionis membutuhkan waktu yang lebih lama. Dicek berulang kali karena tak mau ada kesalahan sedikit pun padahal sekali dua mungkin sudah cukup. Juga, seringkali Ia tak hanya cermat mengevaluasi kinerja mereka sendiri, Ia juga berharap hal yang sama itu ada pada orang lain, membuatnya cenderung mudah mengkritik, apalagi terhadap sesuatu yang menurut mereka tak layak alias tak sesuai standar dirinya sendiri.

5.Kritis Namun Overthinking

Perfeksionis adalah pribadi yang kritis, tak mudah merasa puas. Selalu mencari tahu sebelum mengambil kesimpulan suatu hal. Ketika dihadapkan pada dua atau beberapa pilihan, ia akan sangat memperhitungkan baik buruknya, untung ruginya. Sikap tak tergesa-gesa membuatnya menjadi pribadi yang mengagumkan. Namun terkadang mereka juga butuh waktu lama untuk mengambil keputusan. Karena baginya, kesalahan dalam mengambil keputusan adalah kegagalan. Ia akan merasa stres jika salah dalam bertindak menurut standar dirinya. Ia suka dipuji, namun sekaligus tak suka dikritik. Terkadang ketika diberikan masukan positif, akan sulit menerima jika menurut dirinya sendiri tindakannya yang paling benar.

perfeksionis
Apakah rekan kerja kamu juga perfeksionis?

6.Tidak Asal-Asalan Namun Menunda-Nunda

Motivasi untuk mencapai kesempurnaan dan standar yang tinggi membuat perfeksionis tidak asal-asalan dalam mengerjakan sesuatu. Misalnya ketika ia mengerjalan skripsi, ia berpikir untuk membuat skripsi yang tak hanya asal jadi, berencana membuat skripsi yang berbeda dibanding yang lain mulai dari wilayah kajian, fokus penelitian hingga memilih dosen pembimbing. Bukan hal yang buruk selama ia mampu mengerjakannya.

Namun, alih-alih menjadi idealis, tak mau membuat skripsi yang biasa-biasa saja malah membuatnya kesulitan sendiri dalam mencari referensi, mengolah data ataupun berkomunikasi dengan pembimbing. ‘Semua (sempurna) atau tidak sama sekali!’ adalah prinsipnya dalam mengerjakan sesuatu. Hal tersebut bisa memicu perfeksionis untuk menunda mengerjakan, bahkan menjadi ragu untuk memulainya karena takut hasilnya menjadi tak akan sempurna.

7.Konsisten Namun Tidak Fleksibel

Salah satu kelebihan perfeksionis adalah ia seorang yang konsisten. Untuk dapat meraih kesuksesan, konsistensi memang sangat dibutuhkan, menjadi hal yang berharga di dunia kerja. Konsistensi pada perfeksionis juga tercermin dari sikapnya yang sangat taat aturan, ia sangat ketat terhadap waktu. Mengatur jadwal harian sedemikian rupa agar segalanya berjalan sesuai rencana. Menjadi terencana adalah baik, asalkan tak membuat sesorang malah kaku dan saklek. Ada satu jadwal yang tak sesuai rencana, perfeksionis cenderung menganggapnya sebagai suatu kesalahan fatal. Padahal mungkin bagi yang lain itu hal biasa, hal yang lumrah, tak perlu terlalu dipikirkan dan merasa cemas.

Setelah membaca tujuh kecenderungan seorang perfeksionis, kita jadi memahami kalau perfeksionisme itu bak pedang permata dua. Ia dapat menjadi kawan, namun bisa juga menjadi lawan. Bahwa terlahir menjadi seorang perfeksionis tidak buruk. Perfeksionisme bisa menjadi kelebihan ketika ditempatkan sesuai porsinya, namun bisa juga menjadi kelemahan ketika porsinya berlebihan yang mengakibatkan kerugian pada diri sendiri dan orang lain. Bagaimana menurutmu, sahabat Ublik?

Ditulis oleh Widya Imrani

Perempuan berkepribadian ISFP yang suka membaca, menulis dan bernyanyi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

online course , skill

Ingin Meningkatkan Skill? Inilah 7 Online Course yang Bisa Kamu Coba

Cara mengetahui passion

4 Cara Menentukan Passion agar Tidak Salah Jurusan