Pada tahun 2020 – 2030, Indonesia mendapatkan bonus demografi di mana banyak anak muda produktif yang hidup pada tahun-tahun tersebut. Bonus demografi adalah istilah yang sering digunakan di Indonesia dan di dunia internasional, istilah yang lebih sering digunakan adalah Dividen Demografi (Demographic dividend). Menurut UNPF (United Nations Population Fund), Dividen Demografi adalah “the economic growth potential that can result from shifts in a population’s age structure, mainly when the share of the working-age population (15 to 64) is larger than the non-working-age share of the population (14 and younger, and 65 and older)”.

Menurut Badan Pusat Statistik, bonus demografi terjadi pada keadaan jumlah penduduk usia produktif lebih banyak dibandingkan dengan jumlah penduduk usia nonproduktif atau rasio ketergantungan di bawah 50. Hasil Survei Penduduk Antar Sensus (SUPAS) 2015 menunjukkan angka beban ketergantungan sebesar 49,2 yang berarti setiap 100 penduduk usia produktif (15 – 64 tahun) menanggung beban sebanyak 49,2 penduduk usia nonproduktif (kurang dari 15 tahun dan 65 tahun ke atas). Dengan kata lain, orang-orang yang lahir antara tahun 1980 – 1995 lah yang sedang berada pada usia produktifnya. Nah, sebagaimana kita tahu generasi yang lahir pada rentang tahun 1980 – 1995 disebut sebagai generasi milennial.

Pilihan Editor;

Apa Makna Bonus Demografi untuk Pembangunan Bangsa?

Bonus demografi bukan hanya bicara soal jumlah yang besar, yakni jumlah penduduk usia produktif yang mencapai 2/3 dari total jumlah penduduk. Apa artinya kalau sumber daya manusia (SDM) melimpah tanpa diimbangi dengan kualitas? Sementara itu, pada ranah yang lebih besar, keberhasilan pembangunan sebuah bangsa, salah satunya, ditentukan oleh kualitas SDM yang dimiliki oleh bangsa tersebut.

Karea faktor SDM jadi salah satu faktor yang paling menentukan, sehingga harus disiapkan. Yang perlu diperhatikan sejak awal adalah aspek kesehatan dan pendidikan sebagai prasyarat dari produktivitas. Setiap anak berhak atas perlindungan, tempat bertumbuh kembang tanpa kekerasan, serta akses kesehatan dan pendidikan sehingga mereka bisa berkembang dengan baik. Setelah itu, yang tidak kalah penting adalah tersedianya lapangan kerja.

Bonus Demografi dan Pertumbuhan Ekonomi

Bonus demografi seperti pedang bemata dua. Satu sisi adalah berkah jika kita berhasil mengambil manfaatnya. Satu sisi lainnya berarti musibah jika kualitas manusia Indonesia tidak dipersiapkan dengan baik. Presiden Jokowi pun mengatakan “Bisa jadi masalah jika kalau tidak disiapkan kualitas SDM-nya, ada kesempatan kerja tapi tidak bisa masuk sehingga nganggur, kalau 1-2 orang tidak masalah, kalau banyak jadi masalah besar.” Kesadaran akan kompetisi global pun harus dimiliki karena perkembangan di berbagai bidang berlangsung cepat sekali.

Terkait dengan proses penyelenggaraan negara, melimpahnya jumlah SDM usia produktif bisa menjadi hal positif yang membantu pertumbuhan ekonomi. Tapi, jumlah usia produktif yang banyak itu juga berpotensi untuk meningkatkan jumlah pengangguran dan permasalahan lain yang mengikuti. Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) adalah indikator yang digunakan untuk mengukur tingkat penawaran tenaga kerja yang tidak terserap oleh pasar kerja. TPT pada Agustus 2016 sebesar 5,61%, dan sebanyak 69,02 juta orang (57,03%) penduduk bekerja di kegiatan informal. Tapi itu bisa diatasi, jika semua pihak mempersiapkannya dengan baik.

Bagaimana Solusinya?

Seperti diungkapkan oleh mantan Kepala BKKPN Sugiri Syarief, “Kalau jumlah penduduknya bertambah maka akan berdampak pada kebutuhan pangan yang besar.” Jadi apa yang perlu dilakukan? Secara umum, solusi strategisnya bisa dimulai dari pemerintah. Hal utama yang perlu dilakukan pemerintah antara lain; meningkatkan fasilitas kesehatan masyarakat, membuka lapangan kerja untuk angkatan kerja baru, investasi di bidang pendidikan dengan kompetensi yang meningkatkan kualitas tenaga kerja, melindungi penduduk yang sudah bekerja untuk dapat terus bekerja, memfasiliasi penduduk yang sudah bekerja untuk memiliki produktivitas yang tinggi, menyiapkan angkata kerja baru agar kompetitif dan sesuai kebutuhan pasar, fokus pada kebijakan ekonomi prosedur investasi yang sederhana dan meningkatkan jumlah produksi yang lebih besar daripada tingkat konsumsi.

Belajar dari China

Bagaimana Cara Mengoptimalkan Bonus Demografi untuk Pembangunan Bangsa?
Chinese labor (Sumber: Pixabay)

Masih tentang solusi menyikapi bonus demografi, kita bisa belajar dari negara lain yang berhasil memanfaatkan bonus demografi, contohnya ‎China yang fokus dengan pemerataan ekonomi sampai ke daerah-daerah. Itu bisa terlihat dari penciptaan industri rumah tangga yang memproduksi berbagai komponen-komponen peralatan elektronika. Sehingga tiap daerah mempunyai spesifikasi industri sendiri dan yang beda-beda kemudian disatukan dalam satu produk menjadi produk nasional. Langkah itu bisa menciptakan lapangan pekerjaan yang sangat luas di negara dengan penduduk lebih dari 1,3 miliar itu.

Melalui Pendidikan, Tingkatkan Wawasan Global

Bagaimana Cara Mengoptimalkan Bonus Demografi untuk Pembangunan Bangsa?
Ilustrasi Pendidikan (Sumber: Pixabay)

Agar bonus demografi menjadi keuntungan tersendiri untuk pembangunan bangsa, tentu tidak bisa hanya mengandalkan kuantitas SDM. Pengetahuan dan keterampilan yang ada pada SDM kita menjadi modal utama untuk menghadapi era bonus demografi. Institusi pendidikanlah yang berperan penting membangun manusia-manusia yang berkualitas, dan mendukung adaptasi generasi muda dalam menghadapi tantangan di masa depan.

Jika berpikir lebih jauh ke depan, dalam 30 tahun mendatang, menurut UNESCO, akan lebih banyak siswa lulus sekolah daripada jumlah siswa yang telah lulus sepanjang sejarah. Seperti diungkapkan oleh Sir Ken Robinson pada TED talks, hal itu disebabkan karena banyak faktor seperti loncatan populasi, kemajuan teknologi, faktor demografis, dll. “Tiba-tiba saja, gelar tidak berarti apa-apa. Dulu, kalau kita lulus perguruan tinggi maka kita akan mendapat pekerjaan. Sekarang banyak anak yang telah lulus S1 lalu pulang ke rumah dan melanjutkan bermain video game. Karena pekerjaan yang dulu membutuhkan lulusan sarjana sekarang telah mensyaratkan pascasarjana, karena begitu banyaknya lulusan strata satu dan dengan kualitas biasa-biasa saja.”

Menyikapi bonus demografi dengan segala plus minusnya, barangkali kita tidak bisa berbuat banyak untuk sesuatu yang tidak bisa kita kendalikan. Tapi, bukan berarti menghilangkan optimisme masing-masing individu. Yang pasti, keluarga tetap berperan penting dalam membangun karakter dan mental positif generasi muda.  Sudah seharusnya setiap orangtua ikut berperan memperbarui prinsip-prinsip dasar pendidikan anak-anak, agar mereka mampu menghadapi masa depan yang penuh tantangan. Agar mereka dapat memperoleh dan menciptakan manfaat di masa depan yang akan mereka lewati itu.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.