in

Mengapa Banyak Orang Suka Mengonsumsi Berita Negatif?

Mungkin kamu pernah bertanya-tanya mengapa berita negatif begitu cepat menyebar? Sampai berkembanglah adagium yang terkenal itu, bad news is a good news. Semakin sensasional suatu berita, maka semakin berpotensi untuk menjadi viral. Tidak jarang, sensasi dalam berita itu hanya karena judulnya saja.

Apakah kamu sepakat dengan bad news is a good news? Padahal ketika orang terlalu banyak terpapar informasi negatif, itu akan berpengaruh pada kesehatan mental. Bukan hanya berita di media arus utama, status politis di Facebook, komentar nyinyir di Instagram, sampai debat antar teman tentunya bukanlah hal positif. Tapi kenyataannya, hal-hal seperti itu mudah sekali dijumpai hanya dengan men-scroll layar ponsel.

Sebelum Era Clickbait

Jauh sebelum meluasnya tren berita atau artikel di internet dengan judul yang membuat jari-jari gatal untuk mengklik, ada orang-orang yang memang gemar mencari-cari cerita sensasional. Saat sejumlah media mulai memberikan porsi besar kepada berita baik, manusia cenderung lebih penasaran dengan berita dan cerita bermuatan negatif daripada yang positif. Mengapa begitu?

Sebuah laporan penelitian tentang reaksi manusia pada hal-hal negatif ini barangkali bisa memberi gambaran sekilas, karenan memang ada bukti bahwa orang-orang cenderung lebih cepat merespons kata-kata negatif.

Sebentar, kita pahami dulu keuntungan dari judul berita yang sensasional itu. Logika sederhananya begini, semakin besarnya sensasi berita, maka akan terkesan semakin dramatis dan disukai orang. Itulah yang membuat rating melonjak. Rating berbanding lurus dengan iklan. Iklan berarti laba komersil. Begitulah.

Semakin Related, Semakin Disukai

Disadari atau tidak, kita cenderung tertarik membaca atau berbagi konten yang terkait dengan pengalaman pribadi, yang seolah mewakili diri sendiri. Sebut saja, orang yang berasal dari daerah X, akan dengan cepat mengklik info : pejabat pemerintah daerah X terlibat kasus korupsi. Ia tahu betul bahwa itu bukan berita baik, penasaran mengapa bisa terjadi, apa pengaruhnya pada daerahnya, apa yang bisa dilakukannya sebagai pihak yang terwakili, dan seterusnya. Meskipun sebenarnya informasi itu tidak begitu berpengaruh bagi kehidupannya. Memangnya apa efeknya kalau ia tidak tahu info tersebut?

Seseorang yang memiliki keberpihakan pada kelompok atau bahkan brand tertentu, jika menerima informasi yang sesuai dengan apa yang ia percayai, maka keinginan untuk melakukan pengecekan terlebih dahulu jadi berkurang. Seolah-olah ada ikatan emosional. Berlaku juga untuk sosok yang dianggap ideal. Bahkan jika kurang hati-hati, orang bisa percaya hoax jika informasi yang diterimanya sesuai dengan nilai yang diyakini.

Hati-hati hoax (Sumber: Pixabay)

Mengapa bad news disukai dan apakah itu penting?

Kembali ke adagium yang klasik di dunia jurnalistik, bad news is a good news, apa pengaruhnya bagi tren pemberitaan di berbagai media? Untuk tetap menilai secara objektif, bad news itu ternyata juga dibutuhkan dalam kadar tertentu sebagai kontrol sosial (society’s watchdog). Tapi kesan yang muncul kemudian adalah seolah-olah dunia ini hanya berisi peristiwa yang tidak beres. Kisruh politik, bencana, kemiskinan, kriminalitas, kelaparan, dsb.

Saat pemberitaan negatif itu mengudara, mungkin saja hal positif di luar sana sedang terjadi dan tak kalah penting untuk disiarkan. Kenyataannya adalah bahwa kabar baik dilaporkan setiap hari; Ilmuwan Indonesia mengembangkan halal science, mahasiswa memenangkan penghargaan internasional, atau pemuda lulusan SMP membuat karya yang laku di Eropa, dan masih banyak lagi. Apakah itu cukup menarik dan memiliki urgensi untuk diketahui?

Seperti pendapat Tom Stafford, Ph.D, pengajar psikologi dan sains kognitif dari Universitas Sheffield, yang dikutip The Guardian dan Tirto.id, berita negatif secara umum lebih menarik perhatian. “…itu mengindikasikan ada sesuatu yang layak kita khawatirkan, sesuatu yang membuat kita harus mengubah arah hidup kita, atau bertindak dengan cara tertentu. Itulah mengapa kita memberi perhatian lebih pada berita negatif, yang mengindikasikan keadaan tidak berjalan dengan baik, karena itu kita mungkin harus bertindak.”

Pakar psikologi juga menemukan efek lain dari hal ini terkait berita buruk, misal tentang terorisme dan bencana. Berita-berita itu tidak semata-mata menambah wawasan dan membentuk pola pikir, tetapi juga memengaruhi tindakan keseharian. Dr. Pam Ramsden dari University of Bradford, UK, menyatakan bahwa sebagian orang yang mengonsumsi berita tragedi cenderung mengalami post-traumatic stress, bahka harus menjalani perawatan khusus.

Ilustrasi orang sedang online (Sumber: Pixabay)

Bijak dalam Menerima Informasi

Pada beberapa situasi, berita negatif ternyata penting bagi pembaca. Jika ada potensi bencana di sebuah daerah, itu memang bukan kabar baik, tetapi Anda perlu mengetahui tentang hal itu. Jika ada kasus kriminal di lingkungan Anda, tidak diragukan lagi bahwa itu bukan kabar baik, tetapi media memberi tahu Anda hal-hal yang perlu diketahui, demi membuat keputusan yang terbaik dan tetap aman. Saat orang ingin tahu tentang berita semacam itu, bagaimanapun, itu masih lebih baik daripada tidak melek informasi.

Untuk tetap mengapresiasi pekerja media, di sana ada orang-orang yang memilih dan memutuskan hal-hal yang penting untuk Anda ketahui. Hari-hari ini, dengan meningkatnya persaingan antara sumber berita dan alat yang lebih akurat untuk mengukur minat pembaca, pilihan terkait konsumsi berita sering dipengaruhi oleh pembaca sendiri. Jika tidak mungkin mengurangi konsumsi berita negatif, setidaknya bijaklah dalam menerima informasi.

Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Loading…

0

Comments

0 comments

Waspada Sambaran Petir! Beberapa Cara Ini Bisa Menghindarinya

Punya Tendensi Jadi Pelaku Body Shaming? Hati-hati Akibatnya