in

Mengenal Toxic Positivity, Niat Baik yang Berbahaya

Sebelum memberikan respon positif, kenali dulu toxic positivity

Hari ini mungkin menjadi hari yang buruk, namun bukan berarti hidup ini buruk bukan? Maka ketika hari ini ada temanmu yang mengeluhkan betapa sulit dan beratnya hari yang ia lalui, alih-alih menyemangatinya dengan memberikan saran positif yang justru membuatnya merasa tidak pantas untuk mengeluh, cobalah untuk berempati dan mendengarkan keluhannya dengan baik. Terkadang, niat baik untuk memberikan solusi dapat menjadi toxic positivity yang ternyata berbahaya kepada orang lain.

Sahabat Ublik, pernah mendengar istilah toxic positivity? Istilah ini mengacu pada situasi ketika seseorang memberikan dorongan positif secara terus menerus kepada orang lain yang mengeluhkan kondisinya tanpa mengetahui atau mempertimbangkan perasaan orang tersebut. Dalam kondisi ini terkadang orang yang mengeluh tersebut tidak diberi kesempatan untuk meluapkan perasaannya, karena ‘terlanjur’ disarankan untuk berpikir positif. Padahal, mengeluh dan emosi negatif lainnya bukanlah sebuah hal yang harus dihindari. Sebaliknya, emosi negatif tersebut harus dikeluarkan oleh seseorang agar tidak menumpuk dalam pikiran. Tak heran jika emosi negatif yang menumpuk tersebut nantinya dapat memicu stres dan sakit psikis lainnya.

Kapan kata-kata positif menjadi toxic positivity?

Coba kita menempatkan diri pada situasi ini.

Kamu sedang merasa sedih karena dimarahi oleh atasanmu karena pekerjaanmu tidak sesuai dengan yang diinginkan. Padahal pekerjaan tersebut sudah kamu lakukan sampai tidak tidur. Lalu kamu menceritakan hal tersebut pada temanmu. Respon seperti apakah yang kamu inginkan?

“Wah, ambil sisi positifnya aja. Setidaknya selesai kan pekerjaanmu walaupun harus direvisi lagi?”

atau:

“Wah, parah banget sih bosmu? Tidak tahu apa bahwa kamu sudah mengerjakannya sampai tidak tidur.”

Pasti lebih nyaman mendengar respon yang kedua bukan? Respon yang memvalidasi perasaanmu bahwa kamu sudah berjuang dan pantas untuk bersedih karena tidak sesuai dengan hasil. Sikap validasi inilah yang dapat membedakan kalimat positif yang toxic atau bukan.

Baca Juga: Cara Mengatur Pola Pikir agar Hidup Lebih Bahagia

Lebih lanjut mengenai validasi, sikap ini merupakan bentuk empati yang ditujukan kepada seseorang untuk menunjukkan bahwa apa yang ia rasakan merupakan hal yang nyata dan dapat dipahami. Pada dasarnya memang setiap orang yang mengeluh dan menceritakannya kepada orang lain hanya butuh didengar, bukan meminta solusi. Maka sebelum memberikan kalimat positif dan dukungan, cobalah untuk memvalidasi perasaannya terlebih dahulu dan memberikan saran ketika memang ia membutuhkan.

Berpikir positif tidak selamanya baik

Dulu mungkin seorang motivator akan menyampaikan kepada audiensnya untuk senantiasa berpikir positif. Mensugestikan mereka dengan berbagai peristiwa baik yang akan terjadi jika terus berpikir seperti ini. Padahal, bagi sebagian orang yang menilai rendah diri mereka, hal positif seperti ini terkadang terlalu sulit untuk dilakukan. Terlebih lagi jika ternyata realitas dan ujian kehidupan yang dilalui begitu berat terasa.

Di sisi lain, toxic positivity juga dapat dirasakan oleh diri sendiri ketika sugesti positif dilakukan secara terus menerus. Hal ini dilakukan sebagai bentuk penolakan dari emosi negatif mereka. Kata-kata seperti “tidak apa-apa dia marah padaku, mungkin saya memang kurang seru” atau “saya orang yang sabar, makanya diberi ujian kehidupan seperti ini”, ternyata dapat membuat mereka yang menilai diri rendah secara tidak sadar melabeli sendiri sikap mereka berdasarkan pernyataan tersebut.

Baca Juga: Agar Kamu Tidak Lagi Merasa Minder dan Mengerdilkan Diri

Dengan melakukan hal tersebut, ia akan terus menyalahkan dirinya atas emosi negatif yang ia rasakan dan lakukan kepada orang lain. Padahal, tidak ada salahnya untuk jujur pada perasaan sendiri bahwa memang kita memiliki sisi tersebut dan hal itu wajar! It’s okay to be not okay.

Maka dari itu, daripada terus menyalahkan diri sendiri atas emosi tersebut, lebih baik menerimanya dan menjadikan peristiwa tersebut sebagai pelajaran agar tidak terulang kembali.

Dampak Toxic Positivity

Mungkin toxic positivity masih merupakan hal yang tabu di masyarakat karena menganggap hal tersebut wajar dilakukan. Nasihat untuk lebih memperbaiki ibadah dan hubungan dengan Tuhan sebagai solusi menjadi salah satu respon yang diberikan ketika mengeluh. Padahal, emosi negatif tidak hanya karena rohani yang lemah, namun dapat disebabkan oleh kondisi fisik juga. Terkadang, seseorang yang terlihat baik-baik saja dari luar, ternyata memiliki masalah kesehatan mental karena ia terus dilihat sebagai seseorang yang positif. Bukan karena rohaninya yang lemah, namun ekspektasi orang-orang yang membebaninya membuatnya harus terus bersikap seperti itu.

Baca Juga: Terjebak di Lingkungan Teman Toxic, Harus Bagaimana?

Tanpa disadari, beban pikiran tersebut pun dapat memicu depresi yang mengganggu psikis. Depresi yang muncul, berupa perasaan cemas, gelisah dan takut bisa jadi karena kadar serotonin dalam otak berkurang. Serotonin sendiri merupakan zat dalam tubuh yang berfungsi untuk mengatur suasana hati, seperti perasaan cemas dan bahagia. Ketika gejala depresi tersebut muncul dan berulang, maka harus segera ditangani lebih lanjut oleh dokter untuk diberi penanganan khusus.

Sayangnya, isu kesehatan mental seperti depresi masih dilihat sebagai kondisi yang ‘kurang iman’ karena tidak mengetahui adanya faktor serotonin ini. Bahwa tidak semua hal yang berkaitan dengan depresi dan kesehatan mental berasal dari lemahnya rohani. Ketika mengalami hal inipun, orang-orang akan memilih untuk menutup diri karena malu memiliki penyakit ini dan menyimpan segala perasaannya sendiri agar tidak membebani orang lain. Padahal, jika diperhatikan, isu ini bisa berdampak serius jika tidak segera ditangani dengan baik.

Apa yang bisa dilakukan?

Setelah mengetahui berbagai informasi mengenai toxic positivity, maka apa yang Sahabat Ublik bisa lakukan? Berikut beberapa hal yang bisa kamu lakukan agar tidak termasuk perbuatan toxic positivity.

  1. Jadilah pendengar yang baik bagi temanmu yang sedang menceritakan isi hatinya. Dengarkan dan berikan perhatian penuh pada setiap ceritanya agar ia merasa bahwa kamu menghargainya.
  2. Validasi perasaannya terlebih dahulu dengan memberikan pernyataan berupa empati pada temanmu. Yakinkan padanya bahwa kamu memahami perasaannya dan tidak apa-apa jika ia bersikap seperti itu. Kalimat seperti, “hal ini pasti berat bagimu”, sudah cukup membuatnya merasa bahwa ia sudah cukup kuat menghadapi masalah ini.
  3. Hindari menceritakan pengalamanmu yang mungkin lebih buruk dari ceritanya. Jika memang ceritamu lebih buruk dan berniat untuk memotivasi, percayalah, tidak ada yang suka jika dibandingkan. Selain itu, sikap tersebut akan menunjukkan bahwa kamu meremehkan kondisinya.
  4. Tanya terlebih dahulu apa keinginannya. Setelah mendengarkan dengan tuntas cerita temanmu, maka sebelum memberikan respon, tanyakan dahulu apa yang ia butuhkan. Apakah sebuah solusi, bantuan, atau cukup sebagai seorang pendengar saja.
  5. Terakhir, hiburlah temanmu dengan menepuk-nepuk punggungnya, memeluknya, atau mungkin mengajaknya keluar mencari udara segar setelah ia puas menceritakan masalahnya.

Sahabat Ublik, dengan melakukan ke lima langkah di atas, meskipun tidak dapat memberikan solusi secara langsung kepada temanmu, setidaknya kamu telah mengizinkannya untuk meluapkan emosi negatif yang ia rasakan. Harapannya, hal tersebut dapat membantunya merasa lebih baik dan dapat melalui masalah tersebut dengan lebih tenang.

Ditulis oleh Izzati Robbi Hamiyya

A full time mother called Ibun.
A blog enthusiast who's trying to learn more about life through stories and experiences.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

bermain , ponsel

Jangan Bermain Ponsel Saat Sedang Bekerja, Ini Alasannya

perempuan muda , ponsel

[Ruang Fiksi] Tentang Perempuan Muda dan Hidup yang Diimpikan