in

Mengenal Ophuijsen: Bahasa Melayu Sekolahan

Tentang Ophuijsen, Bahasa Melayu, dan hubungannya dengan Bahasa Indonesia

Apa itu Ophuijsen dan Bahasa Melayu ‘sekolahan’? Apa pengaruh dan hubungannya dengan Bahasa Indonesia? Setelah mencari dari beberapa sumber di internet, ternyata pembahasan mengenai sejarah awal mula pembentukan dan akar Bahasa Indonesia masih sangat minim. Begitu pula ketika di bangku sekolah. Barangkali belum banyak dari kita yang mengetaui apa itu Ophiijsen dan siapa itu van Ophuijsen. Kita hanya diajarkan mengenai peribahasa, Ejaan Yang Disempurnakan (EYD) yang kini berubah jadi Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia (PUEBI), dan lain-lain. Pada mata pelajaran Sejarah pun, saya kira tidak ada pembahasan mengenai asal mula Bahasa Indonesia. Paling jauh hanya membahas mengenai Sumpah Pemuda. Akan tetapi, asal mula Bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan sendiri sangat minim pembahasannya.

Ophuijsen merupakan ejaan Melayu yang lahir dari niat seorang pemerintah Belanda yang bernama Charles Adrian van Ophuijsen. Maka dari itu, Charles Adriaan van Ophuijsen merupakan tokoh penting dalam tonggak perkembangan bahasa Indonesia. Ejaan Ophuijsen lahir untuk menengahi banyaknya variasi bahasa melayu kala itu. Selain itu juga, bertujuan untuk melenggangkan kolonialisasi Belanda di Nusantara.

Dulu, bahasa Melayu yang menjadi cikal bakal untuk Bahasa Indonesia ini ditulis menggunakan huruf Jawi. Huruf Jawi adalah huruf Arab Melayu atau sering disebut dengan Arab Gundul. Meskipun bahasa melayu yang ditulis dengan arab gundul ini tetap hidup di dalam masyarakat, namun menurut Belanda bahasa melayu tidak sesuai jika ditulis menggunakan huruf Arab. Hal itu dikarenakan penulisan huruf vokal seperti e, i, o akan ditulis sama seperti ketika ingin menggunakan sebuah kata yang berhuruf vokal a dan u. Biasanya masyarakat Riau atau yang pernah mempelajari Arab Melayu, akan mengerti apa yang saya maksud.

Baca juga;

Peran Sastra dalam Pendidikan Karakter Anak Bangsa
Tentang Sejarah dan Wujud Cinta terhadap Masa Depan: Belajar dari Ardian Nur Rizki
Yakin Bahasa Indonesia Kamu Sudah Benar?

Selain karena alasan di atas, alasan lainnya adalah demi kepentingan Belanda itu sendiri. Belanda merasa terancam dengan militansi umat Islam. Hal itu membuat Belanda merasa perlu untuk mengurangi pengaruh Islam dan Arab di Nusantara. Salah satunya ialah dengan mengubah bahasa. Mulai dari tulisan hingga ejaan yang digunakan. Dengan demikian, posisi Belanda menjadi tidak terancam oleh keberadaan Islam. Nah, di sini kita mengetahui bahwa bahasa berhubungan erat dengan kekuasaan yang ada. Kekuasaan mempengaruhi bahasa.

Ada faktor lain yang menyebabkan ejaan baku Ophuijsen ini diresmikan oleh Belanda. Pada saat itu, Belanda sedang menjalankan praktik politik etisnya di Nusantara. Praktik politik etis tersebut di antaranya dengan membuat sebuah kebijakan untuk membuka kesempatan menempuh pendidikan bagi kaum ningrat di Nusantara. Karenanya Belanda merasa perlu untuk membuat sebuah standar bahasa yang akan digunakan untuk kegiatan belajar mengajar. Sebab, jika Bahasa Melayu yang beraneka ragam tidak distandarkan, proses pendidikan pasti akan terhambat.

Ejaan Melayu Ophuijsen ini kemudian memiliki kitab yang dibuat oleh sang empu bahasa, yakni Charles Adriaan van Ophuijsen. Sepanjang perjalanannya menjadi seorang inspektur pendidikan untuk kaum Bumiputera (ulayat), van Ophuijsen membuat Kitab Logat Melayu: Woordenlijst voor de spelling der Malaisch taal met Latijnch karakter (Perbendaharaan Kosakata: daftar kata untuk ejaan bahasa Melayu dalam huruf Latin). Kitab tersebut lahir di Jakarta, dulu Batavia, pada 1901 dan berisi kata Melayu dengan prinsip ejaan baru, yakni ejaan belanda. Kata-kata dengan ejaan baru tersebut berjumlah 10.310 kata.

Kitab di atas merupakan salah satu usaha pemerintah kolonial untuk menetapkan standar bahasa saat menduduki Nusantara. Hal ini dilakukan tentu saja agar pemerintah kolonial dapat menguasai Nusantara dengan lebih leluasa. Pemerintah Belanda menerapkan bahasa ini mulai dari sekolah-sekolah Bumiputera. Oleh karenanya, Bahasa Melayu Ophuijsen ini seringkali disebut sebagai “Bahasa Melayu Sekolahan”. Kemudian Melayu Opuhijsen ini marak digunakan oleh cendekiawan Nusantara. Apalagi semenjak Belanda mendirikan sebuah penerbitan bernama Balai Poestaka (sekarang: Balai Pustaka). Artinya, dengan politik bahasa yang dilakukan oleh Belanda melalui pemerintah kolonialnya, berhasil menjadikan bahasa (Melayu) Indonesia sebagai standar bahasa di Nusantara yang bahkan masih berlaku hingga saat ini.

bahasa melayu, globe

Ciri Ejaan Ophuijsen

Dalam merumuskan buku tersebut, van Ophuijsen dibantu oleh seorang Indonesia bernama Nawawi Soetan Ma’moer dan Moehammad Toib Soetan Ibrahim. Tata bahasa yang dikembangkan oleh van Ophuijsen ini kemudian dikenal dengan nama ejaan van Ophuijsen dan diakui oleh pemerintah Belanda pada 1901. Ada beberapa ciri ejaan van Ophuijsen, di antaranya:
1. Huruf ï untuk membedakan antara huruf i sebagai akhiran maka dari itu harus disuarakan tersendiri dengan diftong seperti mulaï dengan ramai. Juga digunakan untuk menulis huruf y seperti dalam Soerabaïa dan aniaïa.
2. Huruf j sebagai pengganti huruf y seperti; jang (yang), wajang (wayang), dan lain sebagainya.
3. Huruf oe untuk menuliskan kata-kata doeloe, akoe, soeboer, Soekarno dan Soeharto.
4. Tanda diakritik, seperti koma atas dan tanda trema, digunakan untuk menuliskan kata seperti ma’moer, jum’at, ta’ (tak), pa’ (pak), dan lain sebagainya.
5. Huruf tj yang dibaca menjadi c, seperti Tjilatjap, tjara, pertjaya, dsb.

Setelah Kitab Logat Melayu: Woordenlijst voor de spelling der Malaisch taal met Latijnch karakter diterjemahkan oleh T.W Kamil, Buku Tata Bahasa Melayu yang disusun oleh van Ophuijsen inilah yang akhirnya menjadi pedoman dalam berbahasa Melayu di Indonesia. Oleh karena kecakapannya dalam bidang bahasa, van Ophuijsen kemudian ditugaskan oleh pemerintah kolonial untuk merumuskan tata Bahasa melayu yang baku. kemudian van Ophuijsen mengelilingi Sumatera hingga Semenanjung Malaya untuk mengamati bentuk asli atau bentuk murni dari Bahasa Melayu. Akhirnya terpilihlah Bahasa Melayu Riau sebagai patokan standarisasi bentuk tata bahasa Melayu yang baku.

Ternyata penyebaran Bahasa Indonesia yang kita gunakan sekarang tidak luput dari jasa pemerintah kolonial. Ternyata, pemerintah kolonial selain membuat sengsara rakyat, pun ikut membantu menyatukan Nusantara hinga membantu pembentukan bahasa persatuan kita, Bahasa Indonesia. Meskipun bahasa atau ejaan yang dikemukakan oleh Belanda ini akhirnya disesuaikan dengan prinsip kehematan, keluwesan, dan kepraktisan.

 

(Sumber gambar utama: histori.id)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

[Ruang Fiksi] Ada Superhero dalam Tubuh Ringkih Rana

Siapkan Liburan Dengan Baik Agar Bahagianya Maksimal