in

Mengapa Wanita Suka Berkompetisi dengan Wanita Lain?

Mengenal alasan mengapa wanita suka berkompetisi dengan sesamanya.

Meski berteman dekat, sangat mungkin bagi wanita untuk saling berkompetisi. (Sumber gambar: Kendyle Nelsen on Unsplash)

Ublik.id – Mengapa wanita suka berkompetisi? Ada yang tahu jawaban dari judul berupa pertanyaan di atas? Apa memang sudah pada dari sononya ya, cewek suka merasa tersaingi dengan cewek lain yang dianggap dapat ‘mengancam’ dirinya? Ngomong-ngomong, apa kamu pernah punya pengalaman menindas cewek lain karena iri atau menjadi pihak yang tertindas?

Emily V. Gordon dalam The New York Times menuliskan pengalamannya menjadi seorang wanita yang tumbuh besar dengan lingkungan seperti para wanita lain: kompetitif. Tidak perlu malu mengakui kalau kita, para wanita sebenarnya harus menghadapi hari-hari di mana kita merasa iri pada pencapaian wanita lain. Dalam hal apa pun itu.

Emily memulai ceritanya dari semasa SD. Dia memiliki geng yang disebut dengan Sensational Six. Waw! Dari namanya saja sudah terlihat kalau mereka memiliki tujuan untuk menjadi lebih menonjol. Hal ini diakui oleh Emily bahwa mereka merasa penting dan eksklusif. Mereka juga melakukan apa yang biasa dilakukan oleh sesama anggota geng: pakai baju kembar.

wanita saling berkompetisi
Sejak kecil wanita berada di lingkungan yang kompetitif. (Sumber gambar: Joyce Huis on Unsplash)

Mereka pun mulai menghadapi pubertas yang menghantam setiap anak. Tetapi pada kasus Emily, pubertas membuatnya menjadi raksasa. Dia lebih tinggi daripada anak lelaki dan anak perempuan di kelasnya. Membuat Emily sampai berusaha untuk menyusut agar menjadi seperti teman-temannya yang kecil dan menggemaskan.

Suatu hari di dalam bus sekolah, kawannya sesama Sixer (sebutan anggota Sensational Six) berbincang dengannya. Dengan tampang polos dia mengatakan, “Lihat! Kakimu dua kali lebih besar dari kakiku!” Kata-kata temannya itu memang benar.

Anak-anak perempuan tumbuh mulai dari bermain dan bernyayi bersama, sampai pada tahap sesama kawan pun mulai membandingkan diri, merasa cemburu, meremehkan, dan mematahkan semangat. Jangan kaget jika kompetisi untuk menjadi yang terbaik ini bahkan muncul sejak balita. Misalnya saja karena melihat jepit rambut temannya lebih bagus dari miliknya. Kelihatan sepele, bukan? Tapi itu adalah kenyataan.

Emily menghabiskan banyak waktu untuk mencoba berpikir mengapa wanita bisa berubah dari teman terdekat menjadi musuh yang mengerikan. Sebuah ulasan literatur dari Tracy Vaillancourt pada tahun 2013 menemukan bahwa wanita mengekspresikan agresi tidak langsung pada wanita lain. Agresi itu adalah gabungan dari “promosi diri sendiri”, membuat mereka terlihat lebih baik, dan “meremehkan lawan”, menjelekkan wanita yang dianggap ancaman.

Julie Ford menulis pengalamannya tersebut di Medium. Dia membesarkan dua anak gadis berumur 10 dan 18 tahun dalam kehidupan wanita yang kompetitif. Julie ingin berkata pada dua anaknya bahwa kompetisi sesama wanita kelak akan berlalu dan cobalah bertahan, tetapi kenyataannya itu tidak akan pernah berlalu. Julie sendiri terus mengalaminya meski usianya mendekati setengah abad.

wanita , kompetisi
Melelahkan untuk selalu berkompetisi hanya demi dipandang orang lain. (Sumber gambar: Tim Gouw on Unsplash)

Ada sebuah teori yang menjelaskan mengapa wanita bisa menjadi kompetitif dan menunjukkan agresi. Psikologi evolusi menggunakan seleksi alam untuk menjelaskan tingkah laku di zaman modern. Mengatakan bahwa wanita harus melindungi diri mereka sendiri (baca: rahim mereka) dari ancaman fisik. Karena di masa kini wanita tidak perlu lagi melakukannya, maka tingkah laku tersebut dilarikan ke hal-hal sepele. Misalnya seperti merasa terancam hanya karena ada murid baru yang cantik masuk ke kelas dan merebut perhatian semua orang.

Wanita bahkan tidak segan melakukan segalanya agar menjadi yang terbaik. Sindrom ini dikenal dengan istilah Ratu Lebah. Ratu lebah tidak segan untuk mematikan lebah betina lain demi mendapat kekuasaan. Duh, macam film-film kerajaan, ya.

Mia Redrick menjelaskan mengapa sesama wanita saling berkompetisi di HuffPost. Berikut alasannya:

1.Merasa Tidak Aman (Insecurity)

Saat melihat kekuatan yang dimiliki oleh orang lain, wanita dapat meresponsnya dengan mengagumi, menyalinnya habis-habisan, atau menjadi iri. Jika kagum, kita biasanya sadar bahwa untuk mencapai apa yang diraihnya sekarang itu membutuhkan komitmen dan perjuangan yang panjang. Kita mengagumi kerja kerasnya dan meraih energi positif darinya.

Jika kita merasa ingin menjadi plagiat akan apa yang kita kagumi dari orang itu, maka biasanya itu tidak akan membawa kita kemana-mana. Kita hanya mau menyalin apa yang dia lakukan tanpa menyadari sebenarnya apa kekuatan kita. Kita tidak mempertimbangkan talenta dan karunia yang kita miliki sendiri.

kompetisi , wanita
Tujulah jalanmu sendiri bukan mengikuti orang lain. (Sumber gambar: Rodion Kutsaev on Unsplash)

Nah, yang paling parah adalah saat merasa iri. Kita berusaha mati-matian untuk melebihi pencapaian orang tersebut. Kita ingin membuktikan pada dunia kalau kita nomor 1. Numero uno! Kita lebih baik dari dia.

Padahal kalau kita melakukkannya, kita akan merasa lelah sendiri. Tujuan kita salah dan menghabiskan energi di pertempuran yang kita bikin sendiri. Lebih baik kenali diri sendiri, berusaha untuk diri sendiri dan orang tercinta, serta senantiasa bersyukur.

2.Percaya Kalau Hidup Itu Nggak Berlimpah

Kita harus menyadari kalau akan ada kesempatan untuk kita asalkan kita berusaha. Bukan berpikir kalau orang lain terus-terusan mengambil apa yang semestinya milik kita. Rezeki Tuhan itu berlimpah, kok!

3.Percaya Kalau Mungkin untuk Mendominasi Orang Lain

Menurut KBBI, dominasi artinya penguasaan oleh pihak yang lebih kuat terhadap yang lebih lemah (dalam bidang politik, militer, ekonomi, perdagangan, olahraga, dan sebagainya). Wanita umumnya merasa jika ingin maju, maka mereka harus menguasai yang lain. Padahal kenyatannya kita harus menguasai diri sendiri.

Sukses bukan mendominasi orang lain, tapi menjadi master diri sendiri guna membuat sistem dari kesuksesan yang konsisten. Yang dapat mengontrol diri kita tentu saja kita sendiri.

4.Kebutuhan untuk Membuktikan Kalau Kita Baik-baik Saja

Ketika kita merasa tidak cukup baik, kita cenderung membutuhkan indikator eksternal untuk mengatakan pada kita bahwa kita bisa diterima. Ketika kita merasakan pertumbuhan personal dan mulai mengatur pemikiran kita, kita akan paham bahwa merasa tidak cukup baik itu disebabkan karena kita tidak berdamai pada diri sendiri. Tidak berdamai = tidak bahagia.

5.Kebutuhan Tidak Sehat untuk Diterima oleh Orang Lain

Poin kelima ini pasti dirasakan oleh hampir setiap orang. Kita terus membandingkan diri dengan orang lain dan berharap menjadi dirinya agar bisa diterima. Atau malah menjelek-jelekkan dia agar kita dapat merasa lebih baik.

wanita , diri sendiri
Jadilah diri sendiri dan banyak bersyukur. (Sumber gambar: Daria Litinova on Unsplash)

Latihlah untuk menyukai apa yang kamu lihat di pantulan cerminmu sendiri. Tidak usah iri dengan apa yang tidak kamu miliki. Bersyukur adalah cara agar kamu dapat meghargai dan mencintai diri sendiri.

Coba untuk menyalurkan keinginan berkompetisi itu pada diri sendiri. Berkompetisi dengan diri sendiri di masa lalu agar bisa menjadi pribadi lebih baik di masa kini dan mendatang. Jika ada wanita lain yang berhasil, berilah pujian dan semangat. Dengan begitu iklim hubungan sesame wanita akan menjadi lebih baik.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

makna kehidupan

Pentingnya Memahami Makna Kehidupan yang Dijalani

tiket , kereta api

Tips Membeli Tiket Kereta Api Online untuk Mudik Lebaran 2019