in

Mengapa Waktu Cepat Berlalu dan Apa yang Bisa Kita Lakukan?

Saat waktu 24 jam pun terasa seperti masih kurang…

Mengapa waktu cepat berlalu?

Ublik.id – Apa kamu juga merasa kalau waktu sangat cepat berlalu? Coba rasakan bedanya saat menjelaskan ‘sekarang jam berapa’. Saat longgar, mungkin akan dengan gampang bilang “sekarang baru sekitar jam sembilan pagi.” Tapi bagaimana kalau lagi sibuk? “Duh, sekarang sudah jam sembilan! Harus cepat-cepat nih. Bentar lagi telat!” Antara ‘baru’ dan ‘sudah’ yang sangat terasa bedanya untuk menjelaskan ‘kemana perginya’ hari-hari kita.

Bukan sekali dua kali, tapi sangat sering, dalam obrolan-obrolan ringan bersama teman, terlontarlah kata-kata ini.

“Kok waktu cepet banget ya?”  

“Sepertinya baru kemarin tahun baru, tiba-tiba sudah bulan Maret.”

Kalau dilihatnya dalam sehari, misal di tempat kerja, “rasanya baru beberapa menit lalu masuk ruangan. Kok sudah jam makan siang aja sih?”

Memang benar bahwa persepsi soal panjang pendeknya waktu itu subjektif, berbeda-beda setiap orang. Tergantung momennya juga. Ada kalanya waktu yang sekian menit saja terasa lama bagi orang yang menunggu. Tapi ada juga yang berjam-jam melakukan sesuatu tapi tidak terasa, karena menikmatinya. Contohnya saat melakukan hobinya.

24 jam , waktu
24 seperti belum cukup, apa yang bisa kita lakukan? (Sumber: Pixabay)

24 Jam Tidak Cukup?

Untuk orang yang punya banyak kegiatan, seringnya 24 jam seperti masih belum cukup. Kalau sudah memiliki rencana yang jelas dan kesadaran penuh untuk menjalankan setiap aktivitas itu, syukurlah kalau kamu memahami betul seharian itu dipakai buat apa saja.

Ada beberapa persepsi yang memengaruhi konsep waktu yang relatif itu. Sebuah kalimat yang quotable dari novel ‘Einstein’s Dream’ karya Alan Lightman, “Bagi anak-anak, waktu  bergerak terlalu lambat. Mereka selalu terburu-buru, dari satu kejadian ke kejadian lain. bagi yang lebih tua lagi, waktu berlalu demikian cepat. Mereka berhasrat menahan satu menit saja.”

Begitulah, ketika kita masih sangat muda atau bahkan masih kecil, kita masih dalam tahap belajar dalam banyak hal. Kita membaca, menulis, dan menghitung dengan lambat. Belum kenal yang namanya hari-hari sibuk. Semua mengalir begitu saja. Menit demi menit berlalu menjadi jam yang berganti, dihabiskan dengan bermain-main. Semuanya masih menyenangkan. Di sekolah pun seringkali melihat jam dinding untuk melihat apakah pelajaran sudah akan habis? Kapan istirahat? Kapan bermain lagi?

Seiring bertambahnya usia, kita mulai terburu-buru dalam segala hal, karena kita mulai berpengalaman. Kita bisa menulis lebih cepat, mengendarai lebih cepat, mengikuti jadwal lebih padat, dan menyelesaikan lebih banyak hal dalam waktu yang lebih sedikit.

Semakin bertambah usia kita, semakin bertambah kesibukan kita. Semua orang tahu bahwa pada hari yang sibuk itu, waktu dalam sehari berlalu dengan cepat. Ketika sedang tidak banyak aktivitas, hari-hari terasa slow. Sebagian mensyukurinya, sebagian lain merasa kosong. “Mendingan sibuk banget sih, seolah-olah gak tahu mana yang mesti dikerjakan duluan, daripada nganggur dan gak tahu harus ngapain,” begitu kata banyak teman saya yang sudah biasa dengan macam-macam kesibukan.

Dahulu waktu terasa lebih lambat karena saat masih anak-anak, kita tidak sabaran. Begitu ada keinginan, semua maunya langsung terwujud. Tapi seiring bertambahnya usia, kita belajar menunggu. Memikirkan agenda, teman-teman, pekerjaan dadakan, dan juga pengalaman pengalaman. Itu semua  kita lakukan sambil menunggu. Menunggu sambil terus bergerak. Lama-lama hari pun sudah berganti.

Sepertinya ini adalah persoalan yang dihadapi semua umat manusia di dunia tentang bagaimana memanfaatkan waktunya dengan baik, khususnya yang memiliki banyak kesibukan dalam kehidupannya. Banyak saran dan tips tentang manajemen waktu, yang sebagian besarnya memberi pengaruh besar ke dalam kehidupan kita. Lalu apa yang bisa kita lakukan?

Seize The Moment!

Memang kita punya cukup banyak daftar untuk membuat diri ini sibuk sepanjang waktu, seolah-olah harus menghadapi keputusan setiap saat. Tidak berarti terlalu serius, bahkan keputusan ini juga kita lakukan saat berencana liburan. Kita mempertimbangkan cuaca saat bepergian ke suatu tempat. Apalagi tempat tertentu memiliki tanggal-tanggal terbaiknya untuk bisa dikunjungi.

Seize the moment! Karena dalam sekumpulan detik yang kita lalui, ada 24 jam dalam sehari, ada 7 hari dalam seminggu, ada 4 minggu dalam sebulan, tapi ada momen-momen yang spesial dalam sekian periode waktu itu. Sebenarnya tidak perlu dijelaskan lagi, jika kita memanfaatkan momen itu, kita tidak hanya meraih peluang yang datang dengan maksimal, tetapi kita juga menciptakannya kebahagiaan sendiri, semacam kepuasan batin karena mencapai sesuatu, dan memanfaatkan setiap menit yang kita miliki.

Perlakukan Tugas dengan Adil

Katakanlah kamu merasa jam dinding berputar lebih cepat karena banyak yang mesti dikerjakan, coba cek dulu: apakah sudah memperlakukan tugas dengan adil. Jangan salah, bukan cuma teman kita yan ingin diperlakukan adil, tapi tugas juga.

To do list, harus diakui, adalah ‘senjata’ ampuh jika kita memperlakukannya dengan benar. Ada saatnya kita begitu excited dengan membuat to do list yang panjang, walau isinya hal-hal remeh. Terlepas dari esensi apa yang akan diselesaikan itu, kita mungkin hanya suka sensasinya saat mencoret satu demi satu daftar rencana itu.

Biar tidak kewalahan, kita bisa membuat to do list yang realistis. Pilah-pilah kegiatan menjadi langkah-langkah kecil yang bisa dilakukan. Daripada mencoba membereskan segalanya sekaligus, coba fokus buat lakukan satu hal secara konsisten, jaga disiplin diri, dan ingat selalu tujuan spesifik yang mau dicapai.

Biar tidak panik dengan to do list yang ambisius tapi tak berjalan sebagaimana mestinya, coba pilih 3 hal saja. Ya, 3 hal terpenting yang benar-benar ingin dicapai. Ini mirip dengan poin sebelumnya, tapi ini lebih ke bagaimana memperlakukan tugas dengan adil dalam segi durasi maupun konsentrasi yang dicurahkan.

Syarat lainnya adalah bahwa 3 hal ini bersifat tidak bisa dikompromikan. Selebihnya, daftar tugas lainnya masih bisa sedikit diotak-atik. Tetap terlaksana semuanya, dengan porsi yang adil. Tentu saja adil tidak berarti sama.

realistis , waktu berlalu
Buatlah daftar tugas dengan realistis (Sumber gambar: Pixabay)

The Power of Deadline

Apakah kamu termasuk orang yang suka mengerjakan sesuatu di menit-menit terakhir? Kita akan selalu punya alasan untuk bilang ‘nanti saja’. Sementara kesibukan terus berlangsung, dan kita kehabisan waktu untuk melakukannya? Mudah-mudahan bukan kondisi itu yang kita inginkan.

Cara termudah untuk memastikan tugas penting yang mendesak adalah dengan memberikan deadline. Inilah pentingnya memiliki deadline, yang membuat to do list apapun jadi terkesan penting dan mendesak.

Agar bisa tetap tenang dan terukur dalam menyelesaikan sesuatu yang memiliki deadline yang singkat, pertama-tama pilah-pilah menjadi tugas yang lebih kecil dan menetapkan ‘sub-deadline’ alias deadline jangka pendek untuk itu. Contoh yang lain misalnya pada hari ini kamu punya waktu sekitar empat jam untuk menulis postingan blog 1.000 kata.

Daripada gelisah duluan sebelum mulai mengetik 1000 kata, bagaimana kalau bagi dulu jadi bagian-bagian yang lebih kecil? Misalnya, kamu pecah ia menjadi lima bagian 200 kata, memformatnya dengan benar, menambahkan judul, menjalankan pemeriksaan ejaan dan menambahkan gambar.

Tiba-tiba kamu menyadari bahwa dirimu sudah benar-benar menyelesaikan banyak hal dalam jangka waktu itu, tanpa terlalu banyak berpikir atau meragukan apa-apa yang sebenarnya tidak sesulit yang dipikirkan. Ingat selalu untuk fokus ke dalam satu tugas pada satu waktu. Dengan begitu, mestinya kita akan merasa lebih produktif dan tidak panik saat mendekati deadline.

Jadi, apakah kamu juga merasakan waktu cepat berlalu? Dan apa yang kamu lakukan? Sila bagi pendapat kamu di kolom komentar.

Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Loading…

0

Comments

0 comments

rutinitas , kreativitas

Apakah Kreativitas Itu Bisa Dilatih? Lalu Bagaimana Caranya?

Hudha Abdul Rohman, Pembicara Ulung dengan Segudang Keahlian