Setiap orang memiliki kebutuhan dan keinginan dalam hidupnya. Untuk mewujudkannya, tentu dibutuhkan usaha sedemikian rupa. Apapun keinginan itu, pekerjaan ialah wujud usaha yang konkret untuk mencapainya. ‘Memenuhi kebutuhan’ dan ‘mewujudkan keinginan’ mungkin masih terdengar sebagai aktivitas yang umum dan bermakna sangat luas. Tapi apakah keinginan itu sama dengan kebutuhan? Dan bekerja seperti apakah yang harus dilakukan agar keinginan kita terwujud dan kebutuhan hidup terpenuhi?

Sekilas tentang Makna Pekerjaan bagi Kita

Dengan segenap kemampuan yang ada pada dirinya, manusia mengorganisir banyak hal, membuat sesuatu yang dapat membantu orang lain, dan menentukan tujuan mulia dari kerjanya. Dapat juga dikatakan bahwa kerja merupakan aktivitas unik yang hanya dilakukan manusia, sebagai bagian sentral di dalam kehidupan manusia.

Pekerjaan juga berarti usaha untuk menyelesaikan permasalahan, menciptakan karya baru atau mencapai sesuatu. Yang pasti, dengan bekerja, kita akan punya peluang lebih besar untuk menciptakan kualitas hidup yang lebih baik. Yang terpenting adalah dengan bekerja dan terus bergerak, ini menunjukkan bahwa kita masih punya naluri bertahan hidup sebagai naluri yang sangat mendasar sebagai manusia.

Ilustrasi pekerjaan food vendor (Sumber: Pixabay.com)

Sebentar. Sebenarnya apakah kita ini hidup untuk bekerja? Atau bekerja untuk hidup? Lalu apakah kita menempuh pendidikan demi mendapatkan pekerjaan yang lebih baik?

Antara Bekerja dan Belajar

Coba kita sejenak bertanya pada diri sendiri, saat masih jadi anak sekolah, jenis profesi seperti apa yang kita impikan untuk menjadi kesibukan di masa depan? Apapun itu, ternyata kita masih sering mendengar orang-orang yang menganggap hebat jenis pekerjaan tertentu dibanding pekerjaan lain. Ini bisa terjadi mungkin saja disebabkan oleh pola pikir yang mengakar di lingkungan kita. Bahwa sebagian pekerjaan membutuhkan penguasaan ilmu dan skill sampai ke level tertentu. Tak jarang kemudian didapati orang-orang berusaha mendapatkan pekerjaan ideal, yang membutuhkan ‘ilmu dan skill sampai ke level tertentu’ itu, untuk beragam motivasi, salah satunya jumlah gaji yang diterima.

Baca juga: Saat yang Lain Menikmati Liburan, Inilah Orang-orang yang Tetap Bekerja di Hari Raya

Selain menjadi cita-cita anak kecil, pekerjaan ideal juga sering menjadi tema obrolan anak-anak muda yang sedang menempuh pendidikan di bangku kuliah. Yang pasti apapun pekerjaannya penghasilan harus meningkat, pengalaman dan pengetahuan harus bertambah. Tanpa harus mengundang Hegel, filsuf Jerman itu untuk membenarkan bahwa kerja adalah lebih dari soal uang tapi membuat manusia mengaktualisasikan dirinya ke level yang maksimal. Melalui kerjalah manusia merasa bahagia, sebab tidak hanya kebutuhan ekonomi dan sosialnya yang terpenuhi tapi juga kebutuhan eksistensial nya pun terjamin. Setidaknya, bisa tidur dengan tenang, setelah menjawab: (si)apakah aku ini?

Adalah benar bahwa sebelum memasuki dunia kerja di usia produktif, setiap orang perlu melalui beberapa jenjang pendidikan. Pertanyaan berikutnya adalah: apakah pendidikan yang kita tempuh semata-mata demi mempersiapkan dunia kerja? Haruskah anak muda dididik dengan orientasi untuk memasuki dunia kerja, atau lebih difokuskan pada pengembangan intelektual, sosial, akademik, dan budaya sehingga mereka dapat tumbuh menjadi warga negara yang mampu berkontribusi? Perdebatan tentang tujuan pendidikan sepertinya tidak pernah berakhir.

Ilustrasi produktivitas (Sumber: Pixabay)

Alasan paling normatif dan menekankan pentingnya pendidikan adalah kaitannya dengan pekerjaan. Teori human capital melihat fungsi pendidikan sebagai instrumen bagi pertumbuhan ekonomi. Pendidikan memberi jalan bagi orang-orang untuk mengembangkan keterampilan dan kompetensi produktif yang dibutuhkan oleh perekonomian negara. Ini adalah investasi bagi individu maupun masyarakat.

Jadi, Apa Tujuan Kita Menempuh Pendidikan?

Alih-alih mengikuti mekanisme pasar untuk memenuhi kebutuhan tenaga kerja, orang yang idealis akan cenderung berorientasi mencari kebenaran (search for truth) dan memperbaiki kondisi [kehidupan] manusia (improve the human condition).  Orang-orang dari beragam peran bisa berpendapat tentang tujuan pendidikan, sesuai dengan konteksnya. Sebagai sesuatu yang sakral dan berproses seumur hidup, barangkali boleh kita sebut bahwa ini adalah proses untuk membangun manusia. Seperti dijelaskan oleh Arthur W. Foshay, dalam Journal of Curriculum and Supervision (1991): ‘The Curriculum Matrix: Transcendence and Mathematics’:

“Satu-satunya tujuan pendidikan yang berkelanjutan, sejak zaman kuno, adalah membawa orang untuk menyadari sepenuhnya tentang apa artinya menjadi manusia. Pernyataan lain dari tujuan pendidikan juga telah diterima secara luas: untuk mengembangkan kecerdasan, untuk melayani kebutuhan sosial, untuk berkontribusi pada ekonomi, untuk menciptakan tenaga kerja yang efektif, untuk mempersiapkan siswa untuk pekerjaan atau karir, untuk mempromosikan sosial atau politik tertentu sistem.”

Baca juga: Meskipun Tidak Diajarkan di sekolah, 6 Hal Ini Penting untuk Kehidupanmu

3 Aspek yang (seharusnya) Seimbang

Pendidikan, dalam bentuk apapun, adalah tentang mempersiapkan orang untuk membangun 3 aspek ini: kehidupan (pribadi), pekerjaan, dan kewarganegaraan (life, work, and citizenship). Kemampuan berpikir kritis, kreativitas, keterampilan interpersonal, dan rasa tanggung jawab sosial, semua itu mempengaruhi keberhasilan dalam ketiga aspek tersebut di atas.

Apapun isu-isu penting yang kita tekuni, apakah itu soal penghapusan kemiskinan, apakah itu penciptaan perdamaian, apakah pemecahan masalah energi lingkungan, ternyata selalu terkait dengan pendidikan. Masalahnya adalah orang yang belajar—khususnya di jalur formal, dituntut bukan sekadar menguasai suatu ilmu atau teori, melainkan belajar tentang bagaimana proses belajar itu sendiri (learn how to learn).

Ilustrasi (Sumber: Pixabay)

Bicara tentang mencintai proses belajar berarti berusaha menikmati aktivitas membaca, riset, menulis, juga bereksperimen. Termasuk juga merawat optimisme, meskipun bidang ilmu yang ditekuni bukanlah bidang populer yang terlihat menjanjikan di pasar dunia kerja. Ini semua tentang pembentukan pola pikir, sehingga anak-anak yang baru masuk kuliah tidak perlu khawatir akan kerja apa nantinya.

Jika mau meluangkan waktu untuk mempelajari pola sukses orang-orang berpengaruh, ternyata value mereka hampir sama yaitu mengawali karirnya dengan memiliki minat yang tulus pada sesuatu yang menjadi passionnya. Seperti kata Steve Jobs yang terkenal itu “the only way to do great work is to love what you do”. Idealnya, lingkungan pendidikanlah tempat kita melihat peluang dan kemungkinan yang sangat luas. Kita bisa menjadi seperti apapun dan melakukan apa yang kita pilih.

Dengan kata lain yang lebih umum, pendidikan adalah lebih dari sekadar ‘tiket’ untuk kehidupan (pribadi) yang lebih baik, melainkan ‘tiket’ untuk mengubah dunia. Sebuah sarana yang dengannya kita bisa menjadikan dunia sekitar kita menjadi tempat yang lebih baik.