in

Bagaimana Kita Bisa Mencintai Diri Sendiri dengan Cara yang Tepat?

Ublik.id – Semua orang pernah mendengar nasihat ini: dahulukan kepentingan orang banyak, di atas kepentingan diri sendiri. Cintai orang lain sebagaimana kau mencintai diri sendiri.

Jelas, ini nasihat bijak yang bisa kita dengar. Di saat yang sama di tempat lain, banyak orang mulai mempertanyakan konsep mencintai. Bahwa semestinya, urusan mencintai itu, dimulai-dari-dan-kepada diri kita sendiri, sebelum mencintai orang lain. Benarkah begitu?

Pernahkah dirimu bertanya-tanya mengapa kita begitu mudah untuk mencintai orang lain namun sulit untuk mencintai diri sendiri? Setidaknya untuk belajar bagaimana caranya. Sejak kecil kita sudah diajarkan bahwa mencintai diri sendiri itu adalah sikap egois atau narsis. Lagi pula, mana ada yang suka orang egois dan narsis?

narsis , mencintai diri sendiri
Cintai diri sendiri bukan narsis atau egois (Sumber: Pixabay)

Memiliki anggapan bahwa diri kita hebat dibanding orang lain, itu bisa jadi sebuah bentuk lain dari rasa percaya diri yang tidak pada tempatnya. Masalahnya bukan pada seberapa kerennya dirimu sebenarnya, tapi cara berpikir seperti itu hanya akan mengarahkan pada kekecewaan, karena realitas yang tidak sesuai harapan dari dalam diri. Yang pasti, ada perbedaan besar antara konsep mencintai diri sendiri (self love) dan menjadi orang yang egois atau narsis.

Bukan sikap egois atau narsis, mencintai diri sendiri, ternyata, adalah sebuah proses yang juga membutuhkan upaya. Bukan berarti lantas mengklaim bahwa kita lebih baik daripada orang lain, tapi lebih ke bagaimana memperlakukan diri sendiri dengan tepat. Mensyukuri dan mengoptimalkan potensinya, mengakui dan menerima kelemahannya, memberi tantangan pada diri, dan tak lupa memenuhi hak diri sendiri. Nah, bagaimana cara mencintai diri sendiri dengan tepat?

Mulai Berdamai dengan Diri Sendiri

Saat tidak sedang bicara dengan siapa-siapa, sering kali kita tiba-tiba terlintas suatu pikiran. Pikiran itu mungkin menjadi momen self talk yang damai, atau malah perang batin yang cukup mengganggu. Bicara soal perang batin, disadari atau tidak, kita pernah mengalaminya. Entah karena apa. Kalau masalahnya adalah pada kondisi diri sendiri, langkah awal yang bisa dilakukan oleh pikiran adalah berdamai dengan diri sendiri. Berdamai dengan kekurangan dan keunikan yang kita miliki.

Ada saat yang lain ketika diri kita, dengan sifat asli yang dimiliki, sepertinya kurang begitu disukai orang lain. Walau mungkin itu persepsi kita sendiri. *Eh, kita? Kembali ke konsep self love, kita akan berproses untuk mencintai dengan cara yang lebih dalam. Tidak menunggu pengakuan orang lain, seolah-olah satu-satunya cara untuk mencintai diri sendiri adalah harus dengan dicintai terlebih dahulu, oleh orang lain.

Di dunia ini, banyak orang yang berusaha menciptakan sosok diri yang tidak asli, hanya demi rasa aman dan kesempatan diterima di lingkungan. Contoh yang gampang adalah orang-orang introvert berusaha membaur di keramaian, padahal ia tahu cara memulihkan energi dirinya adalah dengan menyendiri.

Kabar baiknya, kita masih bisa terus belajar lebih banyak tentang diri kita sendiri, dengan menanyakan ini pada diri sendiri; hal apa dari dirimu yang perlu ditunjukkan di depan orang lain? Apa yang lebih baik disembunyikan? Apa yang dipertahankan atau ditingkatkan? Dan apa yang perlu diubah?

Mencintai diri sendiri itu bukan berarti sekadar memanjakan atau menyenangkan diri agar ia merasa aman, tapi lebih ke bagaimana menerima keadaan apa pun yang ada. Sambil terus melakukan penyesuaian-penyesuaian yang dibutuhkan—ya karena kita tidak hidup sendiri, tanpa kehilangan diri kita sendiri.

kehilangan , diri sendiri
Kehilangan diri sendiri? Harus bagaimana? (Sumber: Pixabay)

Lalu bagaimana cara praktis yang perlu dibiasakan untuk mencintai diri dengan cara yang tepat?

Perhatikan Hak Tubuhmu, Termasuk Jam Tidur

Mulailah dengan memperhatikan kondisi fisikmu. Salah satu hal terbaik yang bisa kamu lakukan untuk diri sendiri adalah memenuhi apa yang dibutuhkan oleh tubuhmu, untuk urusan jam tidur misalnya. Kenyataannya, banyak generasi milenial kurang tidur, dalam waktu yang lama di masa mudanya. Terutama karena faktor gaya kerja. Sekilas ini mungkin terkesan sebagai gaya hidup yang positif karena hidupnya jadi produktif. Padahal kurang tidur ini tak bisa disepelekan terkait masalah kesehatan yang mungkin muncul.

Banyaklah Berolahraga

Olahraga tidak harus yang berat-berat atau mahal. Kamu bisa lakukan beberapa senam dasar, jalan kaki setiap hari minimal 30 menit, jogging tiap akhir pekan, atau aktivitas fisik yang bisa melepaskan endorfin dan meningkatkan energi positif dan suasana hatimu.

Jalanan setapak di dekat taman kota, atau bahkan kompleks di sekitar rumah pun bisa menjadi tempat yang menyenangkan untuk olahraga di daerah perkotaan. Sambil jalan kaki, sesekali pasang headset dan putar musik favoritmu, lalu biarkan pikiranmu sejenak menikmati keadaan tenang.

Beri Selamat pada Dirimu Sendiri, Rayakan Kesuksesanmu

Jujur saja, kamu pasti pernah merasa lelah dalam berjuang mewujudkan apa yang kamu inginkan. Coba lebih selow dan berhenti memikirkan semuanya. Hargai dirimu dan setiap usahanya. Luangkan waktu beberapa saat untuk merayakan keberhasilanmu. Sekecil apa pun itu. Beri selamat dan ucapkan terima kasih ke dirimu sendiri, ‘terima kasih sudah kuat berjalan sejauh ini. ayo kita lanjutkan’. Karena dirimu juga pantas mendapat apresiasi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

bukit lintang sewu , wisata di jogja

10 Tempat Wisata di Jogja yang Romantis dan Instagrammable

peran sastra , pendidikan

Peran Sastra dalam Pendidikan Karakter Anak Bangsa