in

[Ruang Fiksi] Memulai Melompati Jurang

Ini bukan yang pertama Remi harus memulai, sejenak bersitegang dengan dirinya sendiri. Ada seorang istri dan tiga orang anak yang masih kecil-kecil yang menjadi tanggung jawab nafkahnya, namun sebuah pekerjaan dengan gaji yang cukup justru baru saja dia tinggalkan.

Tidak mudah memang memulai langkah baru. Hijrah, begitu kata orang-orang. Demi mencari sebuah ketenangan batin, Remi meninggalkan pekerjaannya sebagai debt collector sebuah perusahaan penjual kendaraan roda dua. Bukan semata-mata karena pelajaran haram-halal yang dia terima, namun lebih karena, sebagian besar pembeli yang ia datangi karena tunggakan angsuran selalu memberikan perlawanan dengan perlindungan LSM. Badan Remi yang tinggi besar pun belum cukup mampu jika harus melawan gerombolan preman bayaran.

***

Remi sekarang hanya berdiam di rumah. Pekerjaan ia tinggalkan begitu saja. Berbekal pasrah pada nasihat ‘rezeki sudah ada yang atur’, Remi pun tak jarang menerima sindiran dari istri sendiri dan banyak anggota keluarganya. Usia yang sudah tidak muda lagi cukup menyulitkan apabila harus melamar pekerjaan baru sebagai pegawai. Satu-satunya jalan adalah harus dengan memulai buka usaha sendiri. Namun hal itu juga tidak mudah dilakukan. Bukan perkara modal atau sumber daya, karena itu semua bisa dicari. Sebuah pertanyaan yang selalu mengganggu adalah, ‘bisa nggak ya?’.

Pertanyaan itu berawal dari ketakutan dalam diri yang terus muncul karena selama ini, penghasilan selalu didapatkan dari gaji sebagai pegawai. Tidak pernah ada pengalaman usaha. Bagaimana cara untuk memulai, apa jenis usahanya, berapa butuh modalnya, lalu bagaimana-lalu bagaimana-lalu bagaimana, dan seterusnya sehingga usaha itu tak pernah dimulai.

“Listrik sama air bulan ini belum bayar, Mas. Kita udah nunggak dua bulan.” Sang istri mulai menyalakan alarm pengingat pengeluaran rutin bulanan.

Remi bahkan masih menyimpan catatan utang pada seorang kawan untuk membeli buku sekolah anak-anak bulan lalu, dan sekarang istrinya sudah mengingatkan tunggakan listrik dan air.

“Nanti aku carikan uang. Kepepetnya, ya, bulan ini kita nunggak lagi. Kalau belum tiga bulan kan belum diputus.”

“Kenapa ‘nggak coba-coba cari kerjaan baru saja to, Mas? Atau kalau mau, kita bisa minta modal barang ke toko berasnya Bapak. Biar kita ikut jualin beras di sini.”

“Aku belum pernah jualan, Dek. Aku ‘nggak tahu caranya ‘gimana, jual ke siapa, ‘nganternya gimana. Lha wong kita kendaraan juga ndak ada. Belum kalau ndak laku gimana?”

Lha, ya, itu. Belum mulai udah bilang ndak laku. Bilang aja ndak niat.” Mbak Sita berlalu meninggalkan suaminya yang masih terpaku memandangi nasib, menuju loteng rumah untuk mengumpulkan jemuran pakaian yang kali ini lebih berharga dari sesosok pasangan hidupnya. Awan mendung mulai bergemuruh, mengabarkan hujan yang sebentar lagi akan mendinginkan bumi. Mbak Sita pun berharap hujan ini juga bisa mendinginkan hati dan pikiran suaminya.

Sebuah sore yang demikian penat bersama secangkir kopi hitam, sejauh pandangan matanya, Remi hanya melihat buku-buku komik dan bacaan anak-anak yang berserakan. Keinginan untuk memulai bergerak merapikan pun tertahan dengan aroma kopi yang menenangkan. Setelah seteguk kehangatan melewati kerongkongan, mata seperti tiba-tiba menerima perintah untuk memperhatikan kembali komik-komik yang berserakan. Pindaian terakhir berhenti pada sebuah komik yang tergeletak di atas meja makan. Sebuah komik kungfu, dengan tokoh utama seorang anak muda yang tinggal sebatang kara, kemudian dirawat oleh sang guru yang melatihnya beladiri.

Dikisahkan seorang tokoh di komik itu yang sedang memperdalam ilmu beladiri Kungfu. Sang guru, pada pelajaran kali ini ingin melatih kecepatan kaki muridnya itu, bersamaan dengan keyakinan hatinya bahwa ia harus menjadi seorang petarung yang hebat. Latihan pertama adalah, sang guru meminta murid itu untuk berlari dan kemudian melompati sebuah sungai yang ada di depannya, dari satu daratan ke daratan berikutnya. Sang murid melakukannya dengan penuh percaya diri. Dengan sangat kukuh kaki-kakinya yang terlatih berlari demikian kencang, dan sangat mudah baginya melompati sebuah sungai kecil dengan lebar sekitar satu setengah meter.

memulai , melompati jurang

“Bagus, Nak.” Kata sang guru.

“Tentu saja, Guru. Itu hanya sebuah sungai. Sama sekali tidak membuatku takut.”

“Kau tetap perlu berhati-hati, karena kau bisa terpeleset dan jatuh.”

“Aku tidak peduli. Kalaupun aku terpeleset, sungai itu hanya akan membuatku basah.”

Sang Guru mengangguk.

“Selanjutnya, lakukan hal yang sama, berlarilah sekuat tenaga dan lompati jurang yang ada di sana.” Sang Guru menunjuk sebuah jurang yang harus ia lompati seperti sebelumnya ketika ia melompati sungai.

“Guru, bagaimana mungkin aku bisa melompati jurang? Bagaimana kalau aku terpeleset? Aku bisa jatuh ke dalam jurang dan bisa mati.” Murid itu kali ini urung melakukan perintah guru karena takut gagal melompati jurang, terpeleset, dan mati. Sang Guru pun tersenyum.

“Kali ini kau takut?”

“Tentu saja kali ini aku takut. Jurang berbeda dengan sungai. Kalau aku terpeleset di latihan kali ini, aku tidak sekedar basah. Aku bisa terperosok ke kedalaman jurang dan mati.”

“Begitulah, kebanyakan muridku yang gagal sebelum mereka bertanding. Nak, ketahuilah bahwa lebar jurang itu, tidak berbeda dengan lebar sungai yang sebelumnya bisa kau lompati dengan mudah. Bahkan sungai yang kau lompati tadi, sedikit lebih lebar daripada jurang ini. Namun kau takut dan memilih mundur. Kau takut pada ketakutanmu sendiri. Hanya karena ini berbentuk jurang yang lebih dalam dari sungai, seketika membuatmu membayangkan akan jatuh, terpeleset dan mati.”

Sang murid terdiam tanpa sepatah kata pun. Dia sejenak mencerna perkataan gurunya, dan benar-benar merasa malu pada dirinya sendiri yang baru saja terkalahkan oleh rasa takutnya.

Di alam nyata, Remi yang membaca komik tersebut pun ikut terpaku dan memulai mencerna kata-kata sang guru. Aliran darah di otaknya seperti memberikan energi listrik yang lebih besar untuk berpikir dan mengalahkan ketakutan.

Sebuah komik, bukan sebuah buku motivasi, memberikan pelajaran berharga tentang mengalahkan rasa takut. Remi seketika berpikir bahwa tidak ada bedanya antara bekerja sebagai pegawai dan sebagai pengusaha. Semuanya membutuhkan kerja keras dan perjuangan masing-masing.

***

Permasalahan terletak pada kapan kita akan memulai. Mulai untuk melangkah di kehidupan baru kita, dari pegawai yang menerima gaji bulanan menjadi seorang pengusaha mandiri yang mengelola keuangan usahanya sendiri. Mulailah dari mengalahkan rasa takut yang menahan langkah kita untuk memulai.

Percayalah bahwa motivasi bisa datang dari siapa saja dan dari mana saja. Sebuah pepatah bijak dari Sayyidina Ali bin Abi Thalib mengatakan: ‘Dengarkanlah apa yang dibicarakan, dan jangan melihat siapa yang mengatakan’.

Ini adalah sebuah nasihat yang terkadang tak pernah kita sadari, bahwa dalam kehidupan sehari-hari, sebuah motivasi yang bisa kembali membangkitkan semangat bisa saja tercetus dari mulut seorang anak kecil, bahkan dari lembaran-lembaran komik.

Report

What do you think?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Tina Latief atlit lari Indonesia

Mengulik Kisah Cinta Tina Latief pada Olahraga Lari

desain sepatu nike indomie

Inilah Sosok Kreatif di Balik Desain Sepatu Unik “Nike Air Jordan X Indomie”