in ,

Memberdayakan Penyandang Disabilitas agar Mendapat Peluang Kerja

Dalam Undang-Undang No. 8 Tahun 2016 tentang Penyandang Disabilitas terdapat sebuah amanat bahwa kelompok penyandang disabilitas perlu diberi peran penting di dunia kerja. Setiap 100 pekerja, setidaknya ada 1 orang penyandang disabilitas atau berkebutuhan khusus. Beberapa perusahaan, seperti industri garmen, alas kaki, kertas, rokok, serta industri rumahan telah menyerap tenaga kerja dari kelompok penyandang disabilitas.

Meskipun demikian, isu seputar disabilitas masih menjadi perhatian khusus dari berbagai pihak. Tujuan utamanya adalah demi memberdayakan para penyandang disabilitas agar tidak ada lagi yang memandang sebelah mata. Supaya mereka, khususnya yang masih muda, lebih mandiri karena memiliki kompetensi di tengah masyarakat.

Ilustrasi Kursi Roda (Sumber: Pixabay)

Karena Kasihan Saja Tidak Cukup

Ada sebagian orang yang cenderung akan menunjukkan kepedulian kepada para penyandang disabilitas dengan memberi bantuan, tak lain karena dorongan empati dan belas kasih. Memang tidak ada yang salah dengan perasaan belas kasih, aktivitas bederma, apalagi dengan cita-cita mulia untuk masuk surga. Tapi pastikan itu dilakukan kepada orang yang tepat dan dengan cara yang tepat pula.

Kepada saudara kita penyandang disabilitas, ternyata kasihan saja tidak cukup. Mengasihani tidak akan membuat mereka lebih berdaya. Mengapa? Karena saat memberi bantuan dalam bentuk sumbangan, disadari atau tidak, pasti ada pandangan bahwa mereka itu (maaf) lemah, terbatas, dan layak dikasihani. Padahal yang mereka butuhkan bukanlah itu. Saudara kita butuh pemberdayaan, butuh kesempatan berkarya, dan aktualisasi diri sebagaimana orang ‘normal’.

Inilah mengapa masyarakat umum perlu membuka mata untuk memiliki disability awareness. Menurut www.disabled-world.com, ‘disability awareness’ berarti educating people regarding disabilities and giving people the knowledge required to carry out a job or task thus separating good practice from poor. It is no longer enough just to know that disability discrimination is unlawful (terjemah bebas: mendidik orang-orang mengenai disabilitas dan memberi orang pengetahuan yang dibutuhkan untuk melaksanakan pekerjaan atau tugas sehingga memisahkan praktik yang baik dari yang lemah. Tidak cukup hanya untuk mengetahui bahwa diskriminasi pada penyandang disabilitas adalah melanggar hukum).

Difabel Bukan Disable

Di tengah masyarakat, stigma normal dan tidak normal membuat penyandang disabilitas merasa berbeda. Padahal seringkali manusia normal dan penyandang disabilitas itu sama saja, katakanlah dalam hal keinginan berkontribusi bagi sesama. Hanya saja sebagian mereka memerlukan cara tambahan untuk menjalani kehidupan sehari-hari.

Satu hal yang patut diperhatikan adalah terkait istilah yang digunakan. Dari wawancara penulis dengan sejumlah teman-teman dari PSLD Universitas Brawijaya, ada baiknya kita menggunakan kata difabel, bukan disabel. Jika disabel cenderung mengarah ke ketidakmampuan (dis-able), maka berbeda dengan difabel. Difabel sendiri diasosiasikan dengan Different Ability yang artinya ‘para penyandang difabel memiliki kemampuan yang berbeda’. Istilah ini dirasa tidak merendahkan martabat orang yang mengalami disabilitas.

 

Jalur kursi roda di Universitas Brawijaya (Sumber: Ublik.id/Restia)

Pentingnya Lingkungan yang Mendukung

Ada yang berbeda di rusunawa dekat gedung UKM Universitas Brawijaya pada Minggu pagi itu. teman-teman difabel bersama volunteer dari PSLD sedang mempersiapkan sebuah acara pelatihan untuk para penyandang disabilitas di Jawa Timur bekerjasama dengan Saujana dan USAID. Secara umum, tujuannya ialah untuk melatih kompetensi dan memberi bekal mereka agar lebih siap di dunia kerja.

Bicara tentang kesempatan kerja bagi difabel ini, kita perlu melihatnya dari hal mendasar yakni tentang keterlibatan mereka di lingkungannya. Penulis juga sempat melakukan wawancara bersama dua orang di antaranya, yakni Khuluq dan Lina.

“Teman-teman difabel lebih banyak di rumah. Kalau gak ada yang ngajak mereka atau melibatkan mereka dalam satu kegiatan, mereka memilih di rumah saja. Kalau ada yang ajak, aku bisa pagi di Gresik, siang di Jombang, siang di Malang,” Ujar Khuluq, seorang penyandang disabilitas karena kecelakaan beberapa tahun lalu.

Poinnya adalah peran teman-teman dan lingkungan yang mendukung itu sangat mempengaruhi. Saat orang yang menganggap mereka equal atau setara, maka mereka pun sebenarnya bisa menunjukkan potensinya tersendiri.

“Pengalamanku bisa terbuka dengan orang lain (setelah menjadi difabel) itu karena dilibatkan dalam organisasi atau perkumpulan yang notabene kebanyakan non difabel. Aku jadi merasa berguna karena mereka tahu kemampuanku. Itu mmberi kesan kalau aku tidak berbeda dari mereka.”

Saat ditanya terkait aktivitasnya sehari-hari, dalam hal ini adalah yang dilakukannya untuk bisa berpenghasilan dan mencukupi kebutuhannya, Khuluq menceritakan pengalamannya. “Aku pernah (kerja) di lembaga pendidikan, dengan gaji kecil,” kenangnya “tapi ketika kita berbuat baik dan benar-benar ingin mengabdikan diri di sana, maka rezeki akan datang datang dari segala arah. Dengan ada side job misalnya.”

“Setelah 5 tahun, aku mencoba berdikari membuat usaha meskipun tidak mudah untuk berhasil. Untungnya kita hidup di zaman yang apapun bisa datang ke rumah dengan menggunakan internet. Saya bersyukur hidup di zaman ini.” Ujarnya kemudian seraya tertawa. Khuluq menceritakan bahwa di desanya belum ada yang menaungi kaum difabel, baru kemudian bergabung di program Ayo Inklusi. “Di sana aku ketemu orang-orang ‘sejenis’…”

Satu lagi pandangan tentang penyandang disabilitas di mata volunteer PSLD, Desti Triyana, mahasiswi tingkat akhir FIB UB “Orang (normal) suka memandang aneh, padahal setiap orang kan berpotensi untuk menjadi difabel, terlepas dari takdir. Lihat kondisi geografis Indonesia yang mendukung segala bencana alam terjadi. Ya, tiap orang bisa saja jadi difabel (karena bencana). Mungkin lingkungan kita merancang kita menjadi difabel secara psikis.”

Lina bersama para volunteer (Sumber: Ublik.id/Desti)

Lain lagi dengan Lina, ia punya pendapat lain “Banyak (orang, khususnya pengambil kebijakan) yang cuek karena merasa tidak difabel, jadi kebijakan yang dibuat tidak mempertimbangkan hidup orang lain. Ibaratnya saya gak bebas gerak ke mana-mana, terus juga gak dikasih apa-apa, jadi saya mau ngapain ini?” ungkap gadis berjilbab itu sambil membetulkan kacamata lalu menggeser posisi duduknya di kursi roda.

“Pemerintah pembuat kebijakan gak ngasih sesuatu yang kita butuh, barangkali karena mereka gak sadar kita ini ada. Jadi kita harus ‘muncul’: ini lho kita butuh ini itu, kita juga butuh pekerjaan, juga ruang terbuka publik.”

Aktifnya komunitas yang menaungi kaum difabel, harapannya bisa menyadarkan semua pihak, khususnya para pembuat kebijakan. “ketika kita bergerak, semoga ini menyadarkan mereka, bahwa kita juga bagian dari masyarakat yang mereka kelola,” tandasnya sebelum wawancara diakhiri.

Terkait isu disabilitas, memang ada hal-hal teknis yang selalu dibenahi, tapi pada dasarnya itu semua adalah tentang memberi kesempatan yang sama. Tentang memanusiakan manusia. Tentang memahami keberagaman bentuk makhluk ciptaan Tuhan. Bahwa kita tidak bisa memilih dilahirkan dari siapa dan dengan keadaan seperti apa. Dan akhirnya kita sampai pada realita yang berlaku sampai kapanpun: bahwa manusia diberikan kelebihan dan kekurangan masing-masing.

Geliat CPNS dan Pilihan Generasi Millenial yang Terbelah

Mengenal Batik Kalimantan yang Unik dan Berani