in , ,

Belajar dari Rizhaf Setyo, tentang Memaksimalkan Potensi Mahasiswa

Bisa dikatakan kalau menjadi mahasiswa, adalah sebuah kesempatan untuk mencoba banyak hal. Bukan hanya menambah bekal ilmu di kelas, tapi juga kesempatan untuk belajar hal lain seperti organisasi, merintis bisnis, mencoba event kompetisi, ikut komunitas, dan masih banyak lagi. Seperti yang dilakukan oleh Rizhaf Setyo Hartono (21), mahasiswa jurusan Fisika (Instrumentasi) Universitas Brawijaya dengan segudang aktivitas ini.

Sosok mahasiswa berprestasi kelahiran 1 Maret 1997 yang punya passion di bidang teknologi ini beberapa kali mengikuti lomba karya tulis ilmiah khususnya bidang inovasi teknologi di berbagai negara. Rizhaf, begitulah ia biasa disapa, saat ini mendapat amanah untuk memimpin unit kegiatan mahasiswa Riset dan Karya Imiah Mahasiswa UB. Jadi, langsung saja yuk kita simak wawancara redaksi ublik.id dengan Rizhaf selengkapnya.

Menurut Rizhaf, mahasiswa ideal itu seperti apa?

Menurut saya karakteristik menjadi mahasiswa ideal itu: 1.Mahasiswa yang bertanggung jawab dalam segala hal, baik itu akademik maupun amanah dalam peran yang diberikan kepadanya, 2.Mahasiswa yang memiliki wawasan luas serta open minded dan mampu bermanfaat bagi orang lain, 3.Mahasiswa yang aktif, progresif, kreatif, inovatif, prestatif dan memiliki rasa kepedulian terhadap sekitar hingga masyarakat.

Rizhaf saat mengikuti sebuah event di Korea Selatan (Sumber: Instagram/rizhafsetyo)

Apa pendapatmu tentang ‘Mahasiswa aktif organisasi tapi kurang berprestasi’ vs ‘mahasiswa prestatif tapi kurang suka berorganisasi’?

Menurut saya tidak ada masalah mengenai kedua peran tersebut. Karena setiap mahasiswa pasti memiliki peran masing-masing dengan segala potensi dan minat-bakatnya. Tapi dari segala potensi dan minat-bakat seorang mahasiswa, bagi saya perlu dilengkapi dengan kehadiran kita untuk melakukan perluasan kebermanfaatan bagi orang lain.

Saya juga yakin bahwa hidup itu singkat dan kita harus memaksimalkan setiap potensi yang kita miliki. Namun segala pencapaian dan prestasi tidak ada artinya jika kita tidak membagikannya. Karena saya percaya, sebaik-baiknya manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya.

Kabarnya, Rizhaf menggagas inovasi online platform bernama kuyrek.com? Boleh ceritakan lebih jauh?

Kuyrek.com itu adalah sebuah platform penyedia kebutuhan tempat olahraga online. Ada fitur andalan dari kuyrek yang kami tawarkan yaitu fitur memesan berbagai lapangan olahraga mulai dari lapangan futsal, lapangan bulu tangkis, lapangan tenis, dan lain sebagainya.

Ada banyak pilihan referensi lapangan olahraga sesuai budget dan kebutuhan sesuai waktu bermain yang diinginkan (jadwal up to date) dengan desain fitur menarik dan memudahkan serta membuat nyaman pengguna untuk memesan. Selain itu kedepannya ada beberapa fitur yang akan kami tambahkan sebagai pengembangan dari kuyrek, salah satunya yaitu fitur mencari teman bermain atau lawan bermain dalam bentuk komunitas olahraga.

Wah kedengarannya seru ya. Selain itu ada proyek apa lagi yang sedang dikembangkan?

Saya bersama teman-teman bikin project yang kami namai dengan singkatan INSTAGRAM (Integrated Smart Village Program), sebuah inovasi role model membentuk BUMDES berbasis IT di Desa Gubugklakah, Kabupaten Malang. Intinya, kami ingin mewadahi kegiatan perekonomian desa berbasis IT untuk mendukung program pemerintah dalam pembangunan desa sebagai upaya menyukseskan Gerakan Pembangunan Desa Semesta Nasional, mewujudkan desa yang mandiri dengan memanfaatkan potensi desa. Karena Gubugklakah yang terletak di dataran tinggi rute Bromo itu adalah salah satu desa penghasil apel terbaik di Indonesia.

Selain potensi apel yang dimiliki, Desa Gubugklalah juga mempunyai berbagai destinasi wisata alam dan edukasi yang berpotensi untuk lebih dikembangkan lagi. Namun, sayangnya karena minimnya sumber informasi dan rendahnya tingkat pemahaman masyarakat Desa Gubugklakah mengenai cara pemasaran dan pengelolahan hasil komoditas dan potensi yang ada, mengakibatkan tidak adanya suatu sistem yang terintegrasi, perkebunan berbasis teknologi informasi (IT), sehingga penjualannya belum optimal.

Desa Gubugklakah juga belum memiliki Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) dikarenakan masyarakat di sana masih belum sadar akan pentingnya kepemimpinan dan berorganisasi untuk mewadahi kegiatan perekonomian desa berbasis IT. Akhirnya berdasarkan latar belakang tersebut tercetuslah ide program ‘INSTAGRAM’ tadi.

Potensi apel di Desa Gubugklakah Kab Malang (Sumber: Kompasianan/Rodiah Astuti)

Bicara tentang pencapaian, produktivitas, dan apapun yang terkesan positif di mata banyak orang, tentunya semua itu butuh proses yang tidak mudah. Rizhaf pun demikian, kegagalan yang dialaminya membuat dirinya banyak belajar dari pengalaman. Bahkan kegagalan pahit yang dialami, katanya, bisa menjadi bagian dari pengalaman hidup yang paling berkesan.

Ngomong-ngomong, apa pencapaian hidup Rizhaf yang paling berkesan?

Setelah lulus SMA, saya telah melewati perjuangan yang luar biasa, demi melanjutkan kuliah. Mulai dari terseok-seok hingga sempat hampir putus asa, karena saat itu saya merasakan hal yang pahit saat gagal diterima di perguruan tinggi negeri idaman saya.

Saat lulus SMA tahun 2016, saya mencoba berbagai tes perguruan tinggi hingga 9x! Melewati ujian dan cobaan itu menurut saya tidak mudah, apalagi saat lebaran malunya luar biasa. Ketika teman-teman sudah mendapatkan perguruan tinggi idamannya, saya masih belum lolos satu pun. Saat itu adalah kegagalan kelima kalinya saya ditolak perguruan tinggi negeri maupun kampus kedinasan. Namun saat itu, di saat saya merasa sangat down dan hampir putus asa, justru saya bisa bangkit dan berdiri tegap serta take my time untuk melanjutkan perjuangan, lebih semangat lagi. Karena titik terendah itu membuat saya benar-benar yakin dan terus berikhtiar dengan gigih, menambah pasokan kesabaran dan tentunya bertawakal kepada-Nya.

Akhirnya hanya ada satu kesempatan lagi yaitu tes mandiri perguruan tinggi negeri. Memang mahal menurut saya. Di situ ada pengorbanan orang tua saya, berhutang ke saudara sampai kurang lebih 50 juta untuk membiayai perjuangan saya untuk masuk perguruan tinggi. Alhamdulillah di saat bersamaan, saya sangat bersyukur sekali akhirnya dari kesekian kalinya saya gagal dan ditolak perguruan tinggi, akhirnya saya diterima di 4 kampus yaitu 3 perguruan tinggi negeri (S1-PENS, S1-UB, S1-UNEJ) dan 1 kedinasan (D3-Akademi Metrologi dan Instrumentasi a.k.a AKMET). Dan akhirnya melalui istikharah berkali-kali dan meminta restu orang tua, terutama ibu, saya memilih UB sebagai perguruan tinggi negeri tempat saya mengenyam pendidikan tinggi.

Salah satu event internasional yang dimenangkan Rizhaf dkk (Sumber: Instagram/rizhafsetyo)

Kalau boleh tahu, 5 tahun ke depan Rizhaf ingin menjadi orang yang seperti apa?

Bismillah, dalam waktu 5 tahun ke depan Rizhaf ada beberapa rencana besar. Yang terdekat dan ada ‘di depan mata’ pada tahun 2019 yang bisa saya lakukan bersama teman-teman seperjuangan adalah membawa RKIM UB ‘berlabuh’ dalam memberikan dampak kebermanfaatan bagi khalayak luas, baik itu melalui kabar berita baik tentang prestasi, penguatan iklim riset dan karya ilmiah, serta pengabdian masyarakat melalui desa binaan kolaboratif yang berkelanjutan.

Tahun 2020, mudah-mudahan Rizhaf bisa menuntaskan amanah akademik lalu mencari pengalaman bekerja di sebuah perusahaan (corporate) beriklim start up inovasi teknologi selama dua-tiga tahun. Lalu insyaAllah melanjutkan pendidikan MBA di luar negeri antara US atau UK dengan menyerap berbagai ilmu, pengalaman dan memperluas relasi internasional. InsyaAllah, doakan ya, hehe.

Oh iya satu lagi di tahun 2019 ini saya ingin merealisasikan request teman-teman saya untuk menulis dan menerbitkan sebuah buku. Tentunya bukan mengenai perjalanan saya pribadi, karena saya merasa masih belum apa-apa dan perlu banyak belajar. Namun ditunggu saja mengenai rilis bukunya ya, dan tentunya mohon doanya moga dilancarkan dalam proses menulisnya hingga menerbitkan bukunya. Semoga dapat memberikan manfaat yang jauh lebih luas lagi khususnya untuk anak muda Indonesia.

Good luck ya Rizhaf! Eh satu lagi, menurutmu seberapa penting kolaborasi di zaman sekarang?

Bagi saya, hari ini kolaborasi dalam berkarya merupakan sebuah keniscayaan. Karena saat ini adalah eranya kolaborasi, bukan kompetisi. Kolaborasi dalam mencapai sebuah tujuan bersama agar harapannya dapat melesat bersama. Dan sudah saatnya, hari ini bukan soal tentang aku saja, bukan hanya tentang kamu, bukan juga tentang dia, dan bukan pula tentang mereka namun ini semua tentang kita. Tentang kita yang memahami arti kebersamaan untuk memperluas kebermanfaatan.

 

(Sumber gambar utama: Instagram.com/rizhafsetyo)

Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Loading…

0

Comments

0 comments

Miris, di Indonesia Prasasti Bersejarah ‘Ditaruh’ di Kandang Kambing

Wisata Sambil Belajar? Simak Cerita dari Kampung Inspirasi Lamongan Ini