in

Memahami Kembali tentang Kecerdasan dan Pendidikan Alternatif di Indonesia

Education does not change the world. Education changes people. People change the world (Paulo Freire)

Dalam banyak situasi, sebagian besar kita tertarik dengan gagasan mulia untuk mengubah dunia ini jadi lebih baik. Paling tidak, lingkungan pendidikan kita pun mengarah ke sana. Sejak kecil anak-anak terbiasa diajarkan untuk berani bercita-cita besar, katakanlah berkontribusi untuk negara, mampu untuk melanjutkan estafet perjuangan bangsa di masa depan. Kita mungkin mudah bersepakat dengan gagasan besar tersebut. Masalahnya adalah apakah semua anak sudah tahu, dengan cara apa berkontribusi ke negara? Bidang apa yang paling cocok untuk dirinya? Apa kemampuan terbaiknya?

Kenyataannya, sistem sekolah formal belum menjamin seorang anak bisa menemukan potensinya sendiri. Bahkan anak-anak di sekolah favorit pun banyak yang belum mengerti betul ke depan mereka ingin menjadi apa dan bagaimana mencapainya. Belum lagi stigma jurusan IPA atau IPS di sekolah yang sering membuat orang berlomba-lomba memilih jurusan eksak karena ingin dipandang lebih pintar. Keadaan seperti inilah yang memicu perasaan salah memilih jurusan.

Pilihan Editor:

Beragam teori tentang pendidikan terus dikembangkan. Berangkat dari fakta bahwa setiap anak itu unik, alangkah baiknya jika proses pendidikan dimulai dengan tidak memperlakukan setiap anak dengan cara yang sama. Baik buruknya sebuah bangsa di masa depan juga tergantung dari bagaimana sistem pendidikan yang diberlakukan.  Tapi, kali ini kita tidak sedang membahas hal yang di luar kapasitas.

Sebagai sarana pengembangan diri, pendidikan tak lepas dari proses pembentukan karakter. Karakter sendiri tidak dibentuk secara instan, melainkan butuh proses panjang. Semua sistem pendidikan formal berorientasi untuk mencapai tujuan dengan kurikulum yang dirancang sedemikian rupa. Tidak sedikit institusi pendidikan formal yang belum fokus ke hal tersebut, yakni karakter sebagai aspek fundamental seorang pembelajar.

Banyak Alternatif untuk Mendapatkan Pendidikan

Belajar di alam (Sumber: sabs.sch.id)

Menurut UU nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional (Sisdiknas), Indonesia memiliki 3 jalur pendidikan, yaitu jalur pendidikan formal (sekolah), non-formal (kursus, pendidikan kesetaraan), dan informal (pendidikan keluarga & masyarakat). Dari UU tersebut terlihat bahwa pendidikan sebenarnya bukan hanya tugas negara saja, melainkan keluarga dan masyarakat. Keterlibatan aktif masyarakat adalah kontribusi yang bernilai positif. Masyarakat yang terlibat aktif untuk mencerdaskan bangsa tentu menjadi modal besar bagi negara.

Contoh kontribusi nyata sebagai alternatif pendidikan formal bisa bermacam-macam, mulai dari sekolah alam, taman bacaan, sekolah entrepreneur, sekolah anak jalanan, dan lain-lain. Pendidikan alternatif itulah yang menjadi terobosan dan berfokus kepada pembentukan karakter dan kemandirian anak. Sekolah-sekolah alternatif juga menawarkan cara lain untuk mencapai tujuan pendidikan, dengan catatan: proses pembelajaran yang dijalankan lebih disesuaikan dengan keadaan. Kenali kelebihan dan kekurangan muridnya, kenali lingkungannya. Intinya, melaksanakan pedidikan yang menyesuaikan kebutuhan.

Sekolah yang Tidak Terikat

Siswa sekolah alam belajar entrepreneur (Sumber: sabs.sch.id)

Perkembangan pendidikan alternatif di berbagai kota disambut baik oleh pemerintah karena tidak mungkin pemerintah sendiri melakukan misi mulia mencerdaskan bangsa ini. Beberapa kota di Indonesia memiliki sekolah berbasis kegiatan di alam dengan konsep yang unik. Sebut saja Sekolah Alam Bengawan Solo yang menawarkan suasana liburan setiap hari. Jauh dari kesan formal, sekolah alam pada umumnya juga begitu adanya. School day is a holiday. Itulah mengapa murid-muridnya bisa merasakan suasana suasana belajar di sekolah seperti liburan setiap hari.

Tanpa seragam dan sekat-sekat ruang kelas seperti pada sekolah umum, sekolah ini menjadi langkah inovatif pendidikan alternatif berbasis kreativitas. Di sekolah itu, mereka belajar soal diri sendiri, mengenal potensi diri, apa tujuan dari yang dia lakukan, dan hal-hal terkait kebutuhan dasar mereka dalam suasana pendidikan yang lebih humanis.

Di sana anak-anak belajar langsung untuk mengembangkan bakat dan kemandirian sejak dini. Melalui ‘praktikum’ di alam, mereka pun bisa belajar bersosialisasi dengan baik dan mulai belajar berperan di masyarakat. Yang menyenangkan, mereka tidak mengenal PR. Bahkan tidak terikat mata pelajaran tertentu, kalau memang pelajaran itu tidak membuat mereka paham betul maknanya untuk kehidupan nyata. Meskipun begitu, anak-anak yang belajar di sekolah alam belajar secara menyeluruh dan mulai kenal kegiatan riset. Mereka pun bisa memilih sendiri topik risetnya sehingga tahu betul apa makna dari yang mereka pelajari.

Memahami Kembali tentang Kecerdasan

Mind ilustration (Sumber: Pixabay)

Sekolah, apapun formatnya, entah itu pendidikan formal maupun pendidikan alternatif tak lain adalah upaya merawat kecerdasan. Dari berbagai sumber, penjelasan tentang kecerdasan itu terkait dengan proses memunculkan ide original yang memiliki manfaat, dan itu terbentuk seiring proses melihat masalah dari banyak perspektif.

Intinya, kita berpikir tentang banyak hal di dunia ini dengan banyak cara pula. Kita berpikir secara visual, secara audio, secara kinestetik, bahkan secara abstrak. Poin berikutnya, kecerdasan itu dinamis dan melibatkan seluruh bagian otak.

Setelah memahami kembali tentang kecerdasan, mestinya kita mampu menata ulang mindset yang menganggap satu bidang studi lebih penting dari bidang lain. Mengubah pola pikir bahwa anak-anak bisa sukses meskipun mereka memilih menekuni hal yang tidak umum. Mindset itulah yang nantinya menular ke anak-anak supaya yakin dan percaya diri untuk jadi apapun, termasuk jika dia fokus menekuni hobi, lalu bisa hidup mandiri dan yang pasti bahagia dengan pilihannya.

Harapannya, perkembangan pendidikan alternatif di Indonesia bisa mempersiapkan anak-anak yang lebih kompeten untuk hidup di abad yang penuh dengan tantangan, mencetak anak-anak yang berjiwa bebas dan bertanggung jawab, membentuk generasi penerus yang melestarikan budaya bangsa sambil menciptakan peluang peluang baru.

7 Hal Seru Ini Pasti Dimengerti oleh Anak Pramuka. No 6 Bikin Baper!

Siapa Bilang Kita Harus Bangga Menjadi Bangsa Indonesia?