in

Melawan Insecurity, Menjadi Pribadi yang Lebih Percaya Diri

Pernah nggak sih Sahabat Ublik merasa minder dengan kemampuan diri? Kita nggak PD buat melakukan suatu hal karena kita merasa nggak punya kemampuan, nggak punya kapabilitas pribadi untuk melakukan sesuatu, bahkan sampai pada taraf merendahkan diri. Perasaan ini akan membawa seseorang pada kecemasan, kekhawatiran, dan kepercayaan diri yang rendah. Nah, dari sini muncullah yang namanya insecurity. 

Insecurity  bisa diartikan dengan ‘kegelisahan’, ‘ketidakkokohan’, ‘ketidaktegasan’. Seseorang khawatir tentang dirinya, memikirkan banyak hal yang membuatnya semakin merasa tidak berarti. Hidupnya jadi terasa banyak masalah, overthinking, membanding-bandingkan dengan orang lain, dan banyak sekali faktornya. Misalnya overthinking yang seperti ini:

“Apakah aku cukup berharga?”

“Aku ini apa sih, cuman butiran debu. Nggak bisa ini itu. Cuman ngabisin uang aja kerjaannya.”

“Kalau aku ingin dihargai, aku harus melakukan ini…”

“Orang pada dasarnya nggak bisa dipercaya.. Aku itu emang nggak penting … nggak ada yang sayang sama aku …”

Wah, jadi makin parah itu overthinking-nya.

(Baca juga: Punya Teman Sensitif? Begini Tips Menghadapinya)

Nah, sebenarnya Sahabat Ublik, ada banyak hal yang membuat seseorang mengalami insecure. Dari pertanyaan dan pernyataan di atas mungkin sudah mewakili. Ini juga pernah dibahas oleh seorang psikolog, Shahnaz Safitri, yang menjelaskan berbagai ragam jenis insecurity. Beberapa di antaranya adalah ini:

1. Comparison

Yaitu seseorang suka membandingkan diri dengan orang lain, tentang ‘siapa yang lebih’ di antara kita. Sebenarnya ukuran ini tidak tepat digunakan dalam diri kita. Setiap pribadi pasti punya perjalanan hidup yang berbeda. Bagaimana bisa di titik yang sama kita ingin merasakan hal yang serupa dengan orang lain.

Misal ya, untuk sesuatu yang terlihat saja, kita ingin mengikuti tes TOEFL. Ada satu orang teman yang juga sedang mempersiapkannya. Di kesempatan yang sama, tibalah saatnya tes TOEFL itu terselenggara. Tapi di situ hasilnya sangat berbeda. Teman kita itu skor TOEFLnya sangat tinggi, sedangkan kita nggak. Seringnya kita tidak melihat proses di balik itu.

Kita memang sama-sama mempersiapkan. Tapi kalau kita teliti, dia memang jauh lebih siap dari pada kita. Mungkin saja, teman kita itu memang konsumsinya setiap hari belajar bahasa inggris, nonton film, baca buku, dari SMAnya memang sudah expert untuk bahasa Inggrisnya, dan pengalaman lainnya. Jadi ada faktor X juga yang membuat skor TOEFLnya tinggi.

2. Compensation

Seseorang cenderung menutupi kekurangan dalam diri sebab khawatir akan diketahui orang lain. Ini yang akan mendorong kita ‘tidak benar-benar menjadi diri sendiri’. Lama-lama kita akan kehilangan jati diri. Padahal setiap orang pasti memaklumi bahwa tidak ada makhluk yang sempurna di dunia ini.

3. Competition

Memaknai harga diri sebatas ‘validasi dari keberhasilan’ saat bersaing dengan orang lain, seolah-olah kegagalan = merusak citra pribadi. Apapun target yang akan kita lakukan harus berhasil dan melampaui orang lain. Capek nggak kayak gitu? Ya pasti capek.

4. Compulsion

Yaitu menerapkan berbagai ‘keharusan’ bagi diri sendiri dan mengearah ke perfeksionis, semua harus terlihat sempurna. Aku harus bisa melakukan semuanya dengan baik. Wah ada nggak kira-kira manusia semacam ini?

5. Condemnation

Mengekspresikan ‘sikap negative sebagai tameng’ atas kekhawatiran di dalam diri. Misalnya mengkritik orang lain, sampai pada titik orang tersebut menjadi passive aggressive = sarkasme. Insecurity ini bukan hanya merugikan diri sendiri, tapi juga menyerang orang lain. Bukan lagi meredakan masalah, justru membuat masalah dengan yang lainnya.

6. Control

Melakukan berbagai upaya dapat pula secara manipulative, mempertahankan sebuah relasi dengan orang lain. Termasuk menjadi ‘people pleaser’, mengikuti apa maunya orang. Biasanya orang akan terus peduli dengan orang lain, tanpa mempedulikan dirinya sendiri. Baik sih memang peduli sama yang lain. Tapi membahagiakan diri juga penting lho. People pleaser  juga jarang atau kurang berani dalam mengatakan tidak, yang membuat dia selalu mengikuti apa yang diinginkan orang lain. Padahal di dalam dirinya pribadi kadang bertolak belakang dengan itu.

Sekarang, kita tahu penyebabnya dari insecurity. Jadi gimana solusinya?

Begini Sahabat, untuk tahu bagaimana caranya, kita juga harus mengenali apa sih yang menyebabkan kita itu insecure? Apa sih akar masalahnya? Nah coba deh diidentifikasi dulu, dari keenam hal di atas tadi apa yang paling bisa membuat kita selalu gelisah, nggak percaya diri.

(Baca juga: Teladan Sri Sultan Hamengkubuwono IX untuk Generasi Milenial)

Setelah itu, biar terhindar dari insecurity,  kita bisa lakukan ini :

  • Be Authentic

Melawan Insecurity, Menjadi Pribadi yang Lebih Percaya Diri
Be good to yourself!

Kalau kita bisa berkaca lebih dalam pada sosok dibalik cermin itu (diri kita sendiri), kita akan tahu bahwa sebenarnya kita punya nilai kok. Kita berharga, kita nyaman dengan diri kita. Yang pada akhirnya kita menyadari bahwa setiap orang itu pasti punya kelebihan dan kekurangan. Hadirkan pikiran dan perasaan itu. Kita berharga dengan apa yang melekat dalam diri kita. Kalau sudah sembuh dengan itu, nah baru kita nyadar, orang lain pun sama. Mereka punya kelebihan dan kekurangan. Yang nggak bisa kita bandingin juga sama kita. Kita akan menghargai perbedaan itu.

  • Fokus pada Pengembangan Pribadi

Melawan Insecurity, Menjadi Pribadi yang Lebih Percaya Diri
Fokuslah pada pengembangan pribadi

Setiap orang punya misinya masing-masing kan ya? Jadi kenapa nggak kita fokuskan di sana. Setelah kita mengenali diri kita sendiri, tentang kekuatan, kelemahan, nilai, atau passion, nah baru nanti akan lebih jelas apa yang akan kita lakukan ke depan. Fokuskan di jalur itu. Mengasah skill, menentukan tujuan hidup, membiasakan pola pikir yang positif setiap hari. Untuk saat ini, hindari hal-hal yang menjadi penyebab kita merasa insecure tadi. Ubahlah pola pikirmu menjadi hal-hal yang positif.

(Baca juga: Benarkah Kebiasaan Nongkrong Anak Muda Indonesia Hanya Buang-buang Waktu?)

Setiap hari, cobalah untuk lebih mengenali diri kita sendiri. Membaca dan berkaca pada tempatnya. Baca, serap energi positif yang ada di sekeliling kita. Berkaca pada diri sendiri, mencoba untuk menghargai setiap bagian dalam diri. Tapi, dengan catatan ini,

“Membaca terlalu banyak membuat kita tak peduli pada diri sendiri. Berkaca terlalu dalam  membuat kita kehilangan empati. Seimbangkan keduanya, biar hidup lebih bermakna. Bukankah sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi yang lainnya?”

Lifelong learner harus terus belajar setiap harinya kan? Ayo Semangat kawan-kawan.

Report

What do you think?

One Comment

Leave a Reply

    Leave a Reply

    Your email address will not be published. Required fields are marked *

    This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

    Tips Berkarya dan Menjadi Produktif di Masa Pandemi Covid-19

    Ramadhan di Saat Pandemi, Apakah Lebih Sepi?