in

[Ruang Fiksi] Manusia Menjadi Bangkai, Tapi Kata-Katanya Membusuk di Hati

Seorang anak perempuan hidup dalam kesepian, di kala ibunya harus mencari nafkah ke kota orang. Dia dititipkan pada kakek dan neneknya, sedangkan sang ayah entah ke mana rimbanya. Ia hanya tahu ayah adalah seseorang yang pasti adanya. Meski tak betul-betul peduli siapa ayahnya, sebab selama ini dia cukup dengan ibu, tidak butuh yang lain.

Hampir setiap hari ketika pulang sekolah, dia melihat orang-orang menatapnya dengan pandangan kasihan. Sejujurnya tak ada yang perlu dikasihani dari hidupnya, dia bahagia, ibunya bahagia. Hanya dua manusia itu yang terus melolong seperti serigala kesepian. Lalu menerkam ketika ada yang mendekat karena kasihan. Kakek dan neneknya.

Itulah yang kemudian membuatnya enggan bermain di lingkungannya.

Sehari-harinya, di kamar yang tak kedap suara karena hanya terbuat dari kayu. Dia harus mendengarkan kalimat-kalimat sampah yang kemudian akan ditimbun dalam hatinya, menjadi busuk dan bau. Membentuk pribadi yang batu. Karena kakek dan neneknya akan mengundang orang-orang untuk datang mendekat, seperti lalat yang mengerubungi sampah terbusuk dengan suka-cita.

Selalu dengan cerita yang sama. “Ibunya pergi merantau, kadang kirim kadang tidak. Entah di luar sana dia kelayapan dengan lelaki mana. Kabarnya begitu dari si Siti tetangga sebelah rumah yang merantau satu kota sama Ibunya. Kasihan anaknya, kami sudah tua. Tidak punya daya untuk memenuhi kebutuhan sehari-harinya.” Lalu, tatapan iba dan marah bersatu-padu di kedua pelupuk sepasang tua itu. Dan hati mereka menghitung berapa lembar kali ini uang akan diberikan setelah menjual cerita menyedihkan.

Setiap hari, siapa pun datang untuk mengasihani. Ucapan demi ucapan yang sama keluar lagi. Satu dua lembar uang diberikan untuk sang anak melalui sepasang tua itu. Sang anak selalu diam, tak pernah menyusahkan. Bahkan meski tahu cerita yang sebenarnya terjadi.

Sepasang tua itu, seperti tidak tahu diri. Bahwa maut sedang menanti. Setiap hari merongrong si Ibu untuk mengirim lagi dan lagi. Mengeluh kurang ini dan itu, uang yang cukup selalu kurang. Si ibu diperah bagai sapi sampai habis tenaganya. Malang nian nasibnya, meski sudah bekerja keras selalu dikabarkan yang buruk-buruk. Ternyata tak hanya orang-orang elite yang berbahaya, kemiskinan dan kebodohan jauh lebih keji.

Setiap hari, sepasang tua itu tidak tahu. Kata-kata yang mereka keluarkan menimbun sampah yang busuk di hati si anak. Batu meruncing semakin tajam. Siap menembus kulit keriput yang tak bertenaga itu. Mereka terus mengais-ngais lembaran dari cerita busuk yang mereka ciptakan. Sesekali membuat orang mengasihani tetapi lebih banyak mengeluarkan makian untuk ibunya.

Puncaknya ketika sang ibu pulang sebab rindu yang merongrong jantung setelah berpuluh purnama terlewati, ia ingin melihat betapa manis anaknya akan tumbuh.

Tetapi, kata-kata yang dikeluarkan sepasang tua itu berubah menjadi musuh yang tak berperi. Sejak menginjakkan kaki di tanah kelahirannya sendiri, ia justru lebih banyak mendapat kata-kata kasar.

“Aya. Buang sampahnya!” sang nenek menyuruh ibunya bekerja keras membersihkan ini dan itu di rumahnya, melakukan ini dan itu di rumahnya padahal mereka sudah memerahnya di kota orang.

“Kenapa Nenek nggak buang sendiri sampahnya?” Cukup sudah, si anak tak sanggup menahan batu yang kian meruncing dalam dirinya. Tak sanggup menahan timbunan sampah yang terus membusuk.

“Cucu Nenek, kenapa tiba-tiba kamu menyuruh-nyuruh Nenek?” Wajah garang bak monster yang diperlihatkan pada sang ibu berubah manusiawi seperti nenek renta pada umumnya.

Tetapi sama seperti hari-hari sebelumnya, sang ibu berkata tak apa. Membuang sampah tidaklah sulit. Si anak menemani, mengikuti langkah yang lelah. Wajah ibunya bahkan lebih tua dari umurnya.

Lalu, berlalu-lalang orang-orang memaki. Sampai mendorong tubuh lelah yang tak bersalah karena merasa muak.

“Apa urusan kalian? Ibuku sudah berbuat apa pada kalian sampai harus merasa muak? Setiap hari mencecar Ibuku, berkata dia adalah manusia buruk. Lalu kalian ini manusia apa? Bukan manusia ya?”

Sang anak berlari ke rumah, mengamuk sampai semua benda tak bersisa. Membuang semua baju sepasang tua itu. Kakek dan nenek renta itu ketakutan, tak punya tenaga untuk melawan. Mereka pikir cucunya sudah kerasukan, mereka sampai bersujud memohon ampun pada arwah yang merasuki cucunya sambil menceracau tidak jelas.

Mereka hanya tidak tahu, bahwa yang merasuki cucunya selama ini adalah perkataan mereka sendiri.

“Tenangkan dirimu, Sayang.” Si Ibu menenangkan anaknya, membelai lembut wajah memerah karena membuang sampah yang selama ini bersarang dalam hatinya.

“Kamu pasti menderita selama ini mendengar semuanya, maafkan Ibu ya.”

“Ibu lah yang menderita!” kata sang anak marah. “Mereka tidak pantas berada di sini, Bu! Ini rumah hasil kerja keras Ibu, tapi kenapa di rumah sendiri Ibu seperti menumpang!” Sang anak yang selama ini tak pernah bersuara, tak pernah menangis. Mengeluarkan segala tangisnya sampai tersengal-sengal. Menyakitkan, hatinya terasa sakit. Marah dan benci. Dua hal yang mendominasi.

“Ibu mengharapkanmu tumbuh menjadi anak yang manis. Kalau kamu bersikap seperti ini, kamu tidak ada bedanya dengan mereka. Ibu akan sedih.”

Sang ibu berkata, mereka tak bisa melakukan apa-apa pada sesuatu yang busuk. Yang busuk akan lenyap cepat atau lambat. Hanya menyisakan bangkai yang terurai. “Beberapa tahun lagi ketika kamu tumbuh besar, bangkai itu sudah tak tersisa selain ingatan yang menyakitkan. Sabarlah, Sayang.”

“Jangan timbun sampah di hatimu, jadilah anak yang manis. Arungi dunia ini untuk Ibu kelak, mau kan?”

Pada akhirnya, kebaikan atau kejahatan adalah pilihan. Manusia bebas memilih yang mana, tetapi mereka tak bisa memilihkan untuk orang lain. Mereka tak bisa mengubah apa pun di luar jangkauan mereka.

Dunia memang benar tidak adil, tetapi kamu bisa membuat hidupmu adil dengan cara dan pilihan terbaik.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

hadapi perfeksionis kantor

5 Tips Menghadapi Si Perfeksionis di Kantor

saat hidupmu rumit

Saat Hidupmu Terasa Rumit, Kamu Perlu Lakukan Ini