in

Mantan Pecandu Narkoba: Membangun Cinta di Rumah Cemara

Seringkali mantan pecandu narkoba mendapat diskriminasi dari masyararakat, bahkan dari keluarganya sendiri.

Narkoba, merupakan satu kata yang sangat buruk kedengarannya. Setiap orang yang mendengar kata tersebut pasti langsung memikirkan hal-hal negatif. Negara mana pun pasti melarang penggunaan narkoba secara ilegal. Agama pun demikian. Bagaimana tidak, narkoba ketika digunakan secara berlebihan dan tidak sesuai dengan aturan, akan memberikan dampak negatif bagi penggunanya. Mulai dari kecanduan hingga penyakit mematikan. Tak jarang pengguna narkoba, mengidap penyakit HIV/Aids.

Di Indonesia sendiri, menurut BNN (Badan Narkotika Nasional), saat ini terdapat 4 hingga 4,5 juta orang pengguna narkoba. Menurut angka prevalensinya, Indonesia sudah sampai pada tingkat mengkhawatirkan. BNN juga mencatat bahwa sedikitnya terdapat 50 orang meninggal karena narkoba setiap harinya.

(Baca juga: Bullying Selalu Terjadi Dengan Pola yang Sama, Bagaimana Menghentikannya?)

Seringkali mantan pecandu narkoba dan pengidap HIV ini mendapat diskriminasi dari masyarakat, bahkan dari pihak keluarganya sendiri. Diskriminasi yang dirasakan oleh para mantan pecandu narkoba dan pengidap HIV ini tidak jarang membuat mereka semakin mengucilkan diri dari lingkungan maupun mengucilkan diri dari dirinya sendiri. Rasa tidak suka pada diri sendiri akan semakin menjadi-jadi ketika mereka mendapat diskriminasi. Sungguh miris jika membayangkan kehidupan mereka ketika tidak memiliki harapan, merasa lemah, dan ditambah stigma serta diskriminasi yang datang kepadanya. Melihat realitas yang seperti ini, tidak mengherankan jika banyak mereka yang mengakhiri hidup karena diskriminasi.

Di tengah stigma dan diskriminasi kepada para pengguna narkotika dan pengidap HIV, Rumah Cemara datang dengan harapan yang begitu besar untuk mereka. Tidak jarang mereka yang datang merupakan para pecandu dan ODHA (Orang dengan HIV/Aids) yang terdiskriminasi dan dikucilkan oleh keluarga dan lingkungannya. Di Rumah Cemara, mereka mendapatkan keluarga baru dan tidak mendapatkan perlakuan diskriminasi. Di sana mereka mendapatkan pengalaman dan meningkatkan kemampuan. Di sana mereka melawan stigma dan diskriminasi masyarakat tentang ODHA dan pengguna narkotika. Di Rumah Cemara mereka belajar banyak hal dan melakukan banyak aktivitas. Olahraga merupakan aktivitas yang paling disenangi, di samping aktivitas musik seperti band misalnya.

narkoba , rumah cemara
Olah raga di Rumah Cemara (Sumber: streetfootballworld.org)

Rumah Cemara didirikan oleh lima orang mantan pengguna narkoba yang tidak dapat disebutkan namanya karena kepentingan tertentu. Di dalam Rumah Cemara yang penuh dengan harapan ini juga diisi dengan orang-orang yang memiliki harapan dan mimpi yang tinggi pula. Salah satunya ialah Yana Suryana (39). Yana Suryana atau lelaki yang akrab dipanggil dengan sebutan Jimi ini merupakan seorang koordinator perawatan NAPZA di Rumah Cemara. Ia selalu berusaha membangkitkan semangat pada diri mantan pengguna narkotika maupun pengguna yang sedang berusaha lepas dari kecanduannya serta ODHA. Berbagai upaya ia lakukan untuk memberikan semangat. “Menjadi diri sendiri, bebas berkarya dan melakukan suatu hal. Tidak ada stigma, tidak ada diskriminasi. Inilah hidup, hidup seperti hidup, hidup apa adanya,” ungkapnya.

Jimi memiliki sederet mimpi untuk para keluarga keduanya itu di Rumah Cemara. Ia berharap aktivitas di Rumah Cemara dapat mengalihkan perhatian para pecandu NAPZA dari obat-obatan yang dikonsumsinya. Salah satu kegiatan yang aktif dilakukan ialah tinju, futsal, dan band. Olahraga tinju di sini dipilih karena selain eksistensinya yang semakin menurun, juga karena para pecandu NAPZA ini ternyata akrab dengan kekerasan yang ada di dalamnya.

(Baca juga: Agar Kamu Tidak Lagi Merasa Minder dan Mengerdilkan Diri)

Banyak tantangan yang harus dihadapi

Tidak mudah melatih para ODHA dan pengguna narkoba. Banyak tantangan yang harus dihadapi. Misalnya tantangan ketika mereka sakit atau bahkan ketika sakau. Akan tetapi Jimi tidak pernah patah semangat untuk terus mendukung serta melatih mereka hingga mereka bisa menerima keadaan diri mereka. Hingga mereka memiliki harapan yang besar akan diri mereka sendiri, bahkan merasa bangga dengan diri mereka. Kegigihan, kesabaran, dan ketulusan sangat dibutuhkan di sini. Tak jarang mereka berbagi pengalaman dengan rekannya mengenai jalan hidup yang pernah mereka lalui. Di Rumah Cemara mereka dapat menceritakan semuanya tanpa harus berpikir akan dihakimi atau di diskriminasi.

Mengenai diskriminasi sendiri Jimi mengatakan, sebenarnya sudah menjadi hal lumrah dilakukan di lingkungan masyarakat Indonesia. Diskriminasi sering kali terjadi karena ketidaktahuan. Hal ini menjadi sesuatu yang mengKhawatirkan jika terus dibiarkan. Oleh karena itu, agar stigma dan diskriminasi dapat berkurang, diperlukan adanya pendidikan yang memadai mengenai NAPZA serta HIV/AIDS. Tidak dapat dipungkiri stigma dan diskriminasi merupakan hal yang membahayakan. Menghilangkan semangat seseorang untuk pulih, hingga menghilangkan harapan seseorang untuk hidup.

(Baca juga: Saat Hidupmu Terasa Rumit, Kamu Perlu Lakukan Ini)

Hal ini begitu memprihatinkan jika melihat usaha kita selama ini untuk memerangi narkoba dan sistem rehabilitasi yang ada untuk membantu penyembuhan, malah dirasa kurang efektif. Framing media mengenai masalah narkoba juga merupakan hal yang turut mempengaruhi pendangan masyarakat terhadap pengguna narkoba. Pemberitaan media terhadap pengguna atau pecandu narkoba yang pasti melakukan hal-hal negatif, akan semakin memperkuat anggapan atau opini buruk masyarakat terhadap pengguna atau pecandu narkotika.

“Indonesia Tanpa Stigma dan Diskriminasi”

Hingga kini Jimi bersama Rumah Cemara terus berusaha menyuarakan “Indonesia Tanpa Stigma dan Diskriminasi”. Meskipun belum tahu apakah hal tersebut efektif atau tidak. Dengan disuarakannya “Indonesia Tanpa Stigma dan Diskriminasi” bukan berarti ia tidak menghormati hak asasi. Jimi selalu mengingatkan bahwa semua orang memiliki haknya masing-masing untuk berpendapat. Semua yang ada di Rumah Cemara harus berusaha untuk menerima dan menghargai pendapat apapun, meskipun terkadang begitu menyakitkan untuk sekedar di dengar. Sudah hampir 16 tahun Jimi menjadi bagian dari Rumah Cemara. Dedikasinya yang begitu besar membuatnya sangat dihargai oleh anggota yang lain.

Tidak Semuanya Mantan Pecandu

Tidak semua yang berada di Rumah Cemara merupakan mantan pecandu atau pun mereka yang memiliki HIV/AIDS. Banyak relawan yang mau ikut bergabung dan membantu untuk terus menjaga dan memajukan Rumah Cemara. Sehingga dapat menjadi tempat bagi mereka yang terdiskriminasi. Salah satu relawan tersebut ialah Titi Fatimah (37). Ia merupakan seorang relawan yang juga ikut berpartisipasi menyuarakan Indonesia Tanpa Stigma dan Diskriminasi. “Yang saya dapatin dari Rumah Cemara pasti ilmu dan teman. Definisi saya seorang teman selama ini berubah semenjak saya bergabung di komunitas ini. Nothing to lose, selalu membantu satu sama lain.”

Pahlawan tidak harus mengenai mereka yang membela negara, bukan pula melulu soal mereka yang berjasa besar untuk banyak orang. Ketika seseorang memiliki niat untuk membantu dengan tulus, ikhlas, dan sabar, meskipun hanya kepada satu orang saja ia juga merupakan seorang pahlawan. Bahkan ketika dia berusaha untuk membantu dirinya sendiri, ia merupakan seorang pahlawan yang harus dihargai. Karena terkadang yang sulit bukanlah menjadi pahlawan untuk orang lain, melainkan menjadi pahlawan untuk dirinya sendiri. Ketika seseorang menjadi pahlawan untuk orang lain, belum tentu ia dapat menjadi pahlawan untuk dirinya sendiri. Sebaliknya, ketika seseorang dapat menjadi pahlawan untuk dirinya sendiri, maka mudah baginya untuk menjadi pahlawan bagi orang lain.

 

(Sumber gambar utama: Agfi Firdaus/Antara Foto)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

liburan, no telp big bird

Paling Tidak Sekali Seumur Hidup Coba Rencanakan Liburan Impianmu

pom-pom , kantong plastik

Pusing Melihat Kantong Plastik Menumpuk di Rumah? Kelola Yuk!