in , ,

Lutvi: “Jadi Guru di Pedalaman Harus Multitalenta”

Kesibukan Lutvi sehari-hari sebagai guru yang multitalenta di MI Al Hikmah, Dusun Sabrang. (Sumber gambar: Lutvi)

Saat memutuskan untuk keluar dari pekerjaan sebagai guru di salah satu SD swasta di Surabaya, laki-laki kelahiran 15 Agustus 1994 ini ingin meningkatkan kemampuannya dengan mengikuti seleksi guru di program Jatim Mengajar.

Program Jatim Mengajar merupakan program yang digagas oleh YDSF (Yayasan Dana Sosial Al-Falah Surabaya) bekerja sama dengan UNESA sebagai bentuk kepedulian dalam pembangunan pendidikan di daerah terpencil dan tertinggal di Jawa Timur.

( Baca jugaBelajar dari Ismawati dan Impian Seorang Guru Ngaji )

Mohamad Lutvi Sirojudin, guru muda yang mengabdikan diri di pedalaman selama setahun dalam program Jatim Mengajar. (Sumber gambar: Lutvi)

Laki-laki yang bernama lengkap Mohamad Lutvi Sirojudin atau akrab disapa Lutvi ini memang berlatar belakang pendidikan guru SD, yang lulus dari Universitas PGRI Adi Buana di Surabaya. Meski masih muda, Lutvi mengabdikan diri menjadi guru di pedalaman dengan alasan ingin bermanfaat bagi orang banyak.

Tentu saja tantangan yang Lutvi hadapi sebagai tenaga pengajar di desa terpencil tidak mudah, tetapi itu tidak menyurutkan semangat Lutvi untuk berbagi ilmu dan pengetahuan yang dia miliki pada murid dan warga di Dusun Sabrang, Desa Kedawung, Kecamatan Padang, Kabupaten Lumajang. Mari kita simak hasil wawancara redaksi Ublik dengan guru muda hebat ini!

Halo Mas Lutvi. Bisa diceritakan nggak kegiatannya sebagai guru di pedalaman itu apa saja?

Lutvi harus mengajar di lebih dari satu kelas ketika ada guru yang tidak hadir. (Sumber gambar: Lutvi)

Kegiatan saya ada dua macam, karena diprogramkan oleh Jatim Mengajar maka saya fokus pada dua titik yaitu sekolah dan masyarakat tempat saya tinggal. Saya jadi guru kelas 3 MI (Madrasah Ibtidaiyah) Al Hikmah, dan ketika ada guru yang kosong maka saya harus jadi guru pengganti sehingga saya sering merangkap kelas. Guru-guru tersebut terkadang banyak yang tidak masuk karena terkendala di akses jalan, rumah mereka juga jauh dari sini. Kalau hari itu mereka semua masuk atau full team, saya jadi operator sekolah.

Kegiatan saya setiap hari dimulai sebelum pukul 6 sampai Maghrib. Saya membuka pintu kelas, menyapu teras dan halaman, intinya jadi tukang kebun. Ketika anak-anak sudah datang, mereka turut membantu saya. Kemudian mengaji dan solat dhuha. Kami juga solat Dzuhur bersama.

Pukul 2 siang ada kegiatan les untuk anak-anak. Setelah itu saya juga ikut mengajar di madrasah diniyah. Karena latar belakang saya bukan pendidikan agama atau anak pondok, saya harus belajar terlebih dahulu sebelum mengajar mereka. Meski kegiatan telah selesai, saya tidak pulang karena biasanya masih banyak anak-anak yang bertanya tentang PR dan lain-lain.

Saya memadatkan kegiatan sampai Maghrib karena di sini setelah Isya itu terasa seperti tengah malam. Semua pintu terkunci rapat, bahkan anak-anak tidak diizinkan keluar. Apalagi akhir-akhir ini ada isu penculikan anak. Kalau saya mau berkunjung ke rumah warga, saya harus janjian dulu sorenya, “Nanti malam saya silaturahmi ke rumah, ya.” Nggak lupa bawa sembako untuk mereka.

( Baca jugaTentang Peran Guru di Era Digital: Akankah Tergantikan oleh Mesin? )

Di malam hari kegiatan saya biasanya berdiskusi dengan orangtua asuh atau tetangga. Saya juga mengikuti kegiatan warga seperti pengajian dan tahlilan.

Untuk program masyarakat sendiri dari YDSF ada janda duafa. Sebulan sekali saya dikirimi uang sebesar 300 ribu untuk diberikan pada 5 janda dalam bentuk sembako. Dan juga ada sumbangan dari teman-teman saya di Surabaya karena saya sering posting di media sosial. Di sini harapan melanjutkan sekolah ke SMP itu tidak ada. Jadi saya mencoba untuk mencarikan anak-anak tersebut beasiswa dan donator. Alhamdulillah untuk kebutuhan mereka sehari-hari selalu ada saja yang memberi sumbangan.

Saya juga diwajibkan jadi pengisi kutbah di masjid setiap satu bulan sekali di Jumat Legi. Banyak sekali yang harus saya kerjakan. Untuk urusan sekolah pun sebagai orang yang melek teknologi, saya harus mengerjakan banyak hal sebab bisa dibilang guru-guru di sini masih tertinggal jauh daripada guru di kota. Bisa mematikan laptop saja sudah Alhamdulillah. Saya harus jadi orang multitalenta di sini.

Wah, banyak sekali ya tugasnya. Lalu, bagaimana perasaan Mas Lutvi selama menjadi guru di sana?

Lutvi berpose di depan MI Al Hikmah. (Sumber gambar: Lutvi)

Pertama kali jadi guru di sini, saya kaget. Ketika bertemu anak-anak dan menanyakan cita-cita mereka, hampir seluruhnya menjawab “tidak tahu”. Kemampuan siswa yang saya ajar di sini sangat jauh dari mereka yang dulu saya ajar di Surabaya. Kemampuan membaca kurang, semangat sekolah rendah. Orangtua juga kurang mendukung pendidikan anak-anaknya, mereka malah disuruh bekerja agar dapat uang.

( Baca jugaTentang Hari Guru, Sejarah dan Nasib Guru Kini )

Apa sih tantangan yang Mas Lutvi hadapi ketika mengajar di pedalaman?

Semangat belajar sangat rendah. Jadi siswa sering merasa payah dalam mengerjakan sesuatu. Ketika ada soal sulit sedikit mereka langsung menyerah. Selain itu juga saya harus sabar dalam menghadapi karakter guru-guru di sini. Saya tidak boleh kelihatan menonjol atau lebih tahu daripada mereka. Saya harus tetap merendah.

Lalu pola pikir masyarakat juga menjadi tantangan tersendiri. Segala hasil ternak dan hasil sawah itu tidak digunakan untuk pendidikan anak. Persepsi seperti ini sangat sulit untuk diubah dalam jangka waktu yang tidak lama.

Saya berharap kelak mereka bisa menjawab apa cita-citanya, bisa melanjutkan pendidikan ke tingkat yang lebih tinggi, dan mendapat dukungan dari berbagai pihak.

Kan kontrak mengajar di program Jatim Mengajar itu setahun lamanya. Nah, apakah ada yang menentang keputusan Mas Lutvi?

Keluarga saya tidak pernah melarang saya. Mereka mendukung saya seratus persen. Justru yang menentang saya adalah kepala sekolah di mantan tempat saya mengajar dulu. Beliau mengatakan saya harus tetap mengajar di sekolah itu. Namun ternyata saat saya diterima oleh Jatim Mengajar, beliau mendukung saya. Entah ada angina apa. Hahaha. Saya juga diberikan wejangan ketika pamit.

Sebenarnya sayang meninggalkan tempat kerja saya sebelumnya, jaringan dengan wali murid, les-lesan, tapi saya tinggalkan itu semua demi pergi ke sini.

Punya kenangan yang paling berkesan nggak Mas Lutvi?

Lutvi berkunjung ke rumah warga untuk merealisasikan program yang dia emban. (Sumber gambar: Lutvi)

Jadi pernah ada anak yang lari dari sekolah saking malasnya belajar. Sampai guru-guru ikut ngejar. Eh, habis itu mereka balik lagi ke sekolah gara-gara ibunya bawa pentungan kayu. Ternyata si ibu punya pemikiran yang lebih maju dari masyarakat sini pada umumnya. Kata beliau, kalau anaknya tidak sekolah, anaknya akan jadi kuli seperti orangtuanya, tidak bisa mengajari orangtuanya mengaji, dan tidak bisa mendoakan kalau nanti wafat. Wah, saya jadi terkesan dibuatnya.

Setelah habis masa kontrak dengan program Jatim Mengajar, apa masih mau lanjut jadi guru?

Saya justru ingin masuk ke Dinas Pendidikan. Melihat banyaknya tenaga pengajar yang tidak diapresiasi baik secara status dan upah, saya ingin membantu mereka.

Ada pesan untuk pembaca ublik.id nggak Mas Lutvi?

Semua orang bisa menjadi guru. Teruslah menginspirasi dengan kemampuan dan kapasitas masing-masing. Mari jadi agen perubahan untuk dunia pendidikan di manapun kita berada.

Selamat Hari Guru untuk semua guru di Indonesia!

Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Loading…

0

Comments

0 comments

Belajar dari Ismawati dan Impian Seorang Guru Ngaji

cublak-cublak suweng berasal dari jawa timur

Cublak-cublak Suweng, Lagu Dolanan yang Penuh Makna Kehidupan