in

Larantuka, Kota Kecil di NTT yang Mengajarkan Kita Hidup Damai dalam Keberagaman

Daerah Nusa Tenggara Timur cukup populer karena keberadaan tempat wisata seperti Pulau Komodo, Pulau Alor, Pulau Sumba, Maumere, hingga wisata religi Larantuka yang banyak dikunjungi oleh wisatawan. Kawasan Indonesia bagian timur ini juga identik dengan pesona pantai yang sangat indah dengan air jernih serta nuansa hijau alami di sekitarnya. Keindahan alam bawah laut di wilayah ini juga tidak kalah mempesona, sehingga membuat siapapun tertarik untuk menyelami keindahannya lebih jauh.

Barangkali wisata alam sudah tak asing lagi, khususnya di Pulau Flores yang memang dikenal dengan alam yang indah. Ternyata ada lagi satu daerah di Flores, khususnya kabupaten Flores Timur yang menyimpan potensi budaya yang unik. Wilayah Flores Timur yang beribu kota Larantuka ini berada di tepi danau dan menjadi salah satu kota pelabuhan. Larantuka, sebuah kota kecil yang terletak di bawah kaki Gunung Ile Mandiri ini, terdiri dari dua pulau yaitu Pulau Solor dan Pulau Adonara. Meskipun tidak terlalu besar, Larantuka adalah cerminan sebuah praktik toleransi kehidupan beragama di masyarakat yang berbeda-beda keyakinan.

Pilihan Editor;

Belajar Toleransi dari Perayaan Semana Santa

Larantuka juga dikenal sebagai kota ‘Reinha Rosari.’ Sebutan itu identik dengan ritual keagamaan umat Katolik setempat, sebagai bentuk penghormatan kepada Bunda Maria yang dikenal dengan prosesi tahunan ‘Semana Santa’ setiap Jumat Agung menyambut Hari Raya Paskah.Semana Santa merupakan satu perayaan yang sudah mentradisi kurang lebih 500 tahun lalu. Istilah Semana Santa berasal dari dua kata, yaitu Semana berarti pekan dan Santa berarti suci.

Tradisi keagamaan yang merupakan warisan Portugis itu, sudah berlangsung sejak lima abad lamanya, tepatnya ketika bangsa Portugis menyebarkan agama Katolik dan berdagang cendana di Kepulauan Nusa Tenggara. Prosesi Jumat Agung itu diawali dari perayaan Rabu Trewa. Prosesi Semana Santa merupakan sebuah prosesi agama sekaligus prosesi adat di mana mereka yang berperan dalam perayaan adalah suku-suku yang telah ditetapkan sejak dahulu.

Semana Santa di Larantuka (Sumber: travel.kompas.com)

Saling Menghargai Aktivitas Keagamaan Masing-Masing

Sebagai bukti nyata betapa rukunnya kehidupan beragama yang ada di Larantuka, masyarakatnya saling menghargai dan mendukung aktivitas keagamaan masing-masing. Sebagai contoh, Jumat Agung yang tahun ini jatuh pada 30 Maret 2018 lalu, sejumlah peziarah dari berbagai wilayah mulai memadati kota Larantuka. Masalahan penginapan untuk para peziarah hampir selalu muncul setiap tahunnya. Karena itu, Majelis Ulama Indonesia (MUI) Flores Timur pun menyiapkan penginapan untuk para peziarah Jumat Agung, terutama yang berasal dari daratan Pulau Flores.

Penginapan alternatif itu berupa musala dan rumah-rumah warga Muslim yang ada di Larantuka. Dengan adanya penginapan alternatif ini, diharapkan tidak ada lagi para peziarah yang tidak mendapat tempat tinggal selama berada di Larantuka untuk mengikuti prosesi Jumat Agung. Pihak MUI Flores Timur pun menghendaki agar umat Muslim tidak hanya berada ‘di barisan depan’ untuk menjaga keamanan selama prosesi, tetapi juga berperan untuk memberikan informasi tentang Semana Santa. Begitu juga pada saat perayaan Idul Fitri dan perayaan keagamaan lain, organisasi Orang Muda Katolik (OMK) setempat juga dilibatkan dalam pengamanan saat perayaan.

Salah satu tempat ibadah masyarakat Larantuka (Sumber: pekerjaan.co)

Tidak hanya itu, beberapa waktu lalu ribuan umat Islam di Flores Timur berkumpul untuk memberikan dukungan bagi peserta Musabaqah Tilawatil Quran (MTQ) ke-27 Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) yang dilaksanakan di Larantuka. Gubernur NTT, Frans Lebu Raya membuka penyelenggaran Musabaqah Tilawatil Quran (MTQ) ke-27 Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) pada hari Selasa (8/5/2018) di Lapangan Bola Kaki Lebao, Larantuka, Flores Timur.

Pembukaan MTQ (Sumber: Timormedia.com)

Bersama dengan peserta lomba dari 22 kabupaten di NTT, masyarakat semakin bisa menjaga kehidupan yang harmonis antar umat beragama. Sekali lagi kita bisa melihat bahwa dari kota kecil di NTT ini, kita bisa melihat barometer toleransi umat beragama di Indonesia yang bisa dicontoh oleh kota-kota lain untuk lebih damai dalam keberagaman.

(Sumber gambar utama: panoramia.com)

5 Film yang Bikin Kamu Jadi Ngebet Kuliah di Luar Negeri

Bulan Puasa dan Hasrat Konsumtif yang Terakomodir