in

‘Terus Belajar’ adalah Kunci Kesuksesan Bayu MasterChef di Dunia Kuliner

Bagaimana perjalanan Bayu hingga ia bisa menembus gallery MasterChef?

Sahabat Ublik pernah menonton acara MasterChef Indonesia kan? Sebagian orang menganggap bahwa memasak adalah sebuah aktivitas yang hanya bisa dilakukan oleh kaum perempuan. Padahal, banyak juga lho kaum laki-laki yang terjun di dunia kuliner. Salah satunya Bayu Wratsongko, pemuda berbakat asal Salatiga.

Sejak keikutsertaannya di ajang pencarian bakat memasak, MCI (MasterChef Indonesia), nama Bayu Wratsongko atau Bayu MCI mulai dikenal masyarakat luas. Meskipun terhenti di Top 11, pria kelahiran Salatiga, 14 Mei 1990 ini memiliki skill memasak yang andal. Sosoknya yang santun dan sederhana pun menginspirasi banyak orang.

Usai mengisi acara cooking demo bertema healthy food di sebuah klinik kecantikan di Cibubur, pria yang akrab disapa Bayu tersebut bersedia untuk berbagi cerita tentang perjalanannya di bidang kuliner hingga bisa menembus gallery MasterChef kepada redaksi ublik.id via WhatsApp.

Sederhana dan Supel

Tak bisa dipungkiri, setelah kemunculannya sebagai salah satu kontestan MasterChef, Bayu mulai dikenal banyak orang. Semakin hari penggemarnya semakin bertambah. Begitu pun pengikutnya di Instagram. Bukan hanya karena jago memasak, sosoknya yang sederhana dan santun membuat Bayu semakin dikagumi. Banyak yang mengatakan bahwa popularitas tak lantas membuatnya sombong. Sebaliknya, ia semakin dikenal sebagai sosok yang ramah dan supel.

“Kalau bicara sifat atau saya yang bagaimana sih memang orang lain yang menilai, ya. Tapi kalau pribadi saya, memang sedikit pendiam tapi tetap supel dan mudah bergaul, hehe… Cuma sedikit nggak nyaman berada di tempat ramai. Kalau bicara tentang sederhana, ya kembali saya dapatkan dari keluarga dan perjalanan hidup, sih. Memang dari kecil ibaratnya ‘wis kulino rekoso’. Jadi, ya lebih tepatnya apapun itu saya terima apa adanya.”

Mengawali Karir Sebagai Dish Washer

“Saya suka memasak sejak kecil, sekitar kelas 4 SD. Karena Ibu saya seorang TKI, sampai sekarang. Jadi, untuk makan (zaman dulu) mau tak mau saya harus masak. Meskipun itu masakan yang sederhana seperti sayur sop, goreng tahu tempe, dan nasi goreng,” kenangnya saat ditanya tentang awal mula ia gemar memasak.

Memasak memang bukan hal baru lagi bagi Bayu. Selain terbiasa memasak sejak kecil, ia juga mendapat beberapa kesempatan untuk mengembangkan bakatnya tersebut. Pada tahun 2010, ia berkesempatan untuk bekerja di bidang kuliner. Dari situlah ia mulai belajar memasak, bukan dari kursus atau pelatihan khusus memasak.

“Untuk sekolah masak saya sama sekali tidak pernah. Saya mulai belajar masak ketika dapat tawaran kerja oleh salah satu langganan ayam saya untuk bekerja part time di restorannya. Saya memulai karir saya sebagai dish washer, kemudian diajari memasak oleh salah satu juru masak di tempat tersebut. Di situ saya yang memang suka memasak jadi tambah semangat, karena saya bisa banyak belajar tentang memasak. Dari melihat, bertanya, dan mencoba. Jadi, pada dasarnya memang learning by doing.”

bayu , masterchef

Inspirasinya Datang dari Komik ‘One Piece’

Meskipun bakat memasak sudah terlihat sejak ia duduk di bangku SD, Bayu mengaku bahwa menjadi seorang chef bukanlah pekerjaan yang ia cita-citakan semasa kecil.

“Nggak pernah berpikiran atau punya cita-cita menjadi chef. Inspirasi saya memasak datang dari sebuah buku komik One Piece, yang salah satu tokohnya adalah seorang koki. Nah, saya lihat dia keren dan jago masak. Hehehe…”

Pria yang gemar memelihara ayam ini memutuskan pindah ke Yogyakarta pada tahun 2012. Keputusannya untuk meninggalkan Salatiga adalah untuk belajar memasak. Ia berharap agar di kota yang baru dirinya bisa meningkatkan kemampuan memasaknya lebih baik lagi. Nyatanya, begitu tinggal di Yogyakarta, ia baru menyadari bahwa apa yang selama ini ia pelajari ternyata belum ada apa-apanya.

“Jadi, pas di Jogja saya belajar dari nol lagi. Dari masakan Indonesia, Classic Western, French, Italian, Spanish, dan Chinese food. Saya benar-benar menempa pengetahuan memasak saya di Jogja.”

Laksana gayung bersambut. Mengetahui adanya audisi ajang pencarian bakat memasak MasterChef, Bayu tak tinggal diam. Meskipun tak terpikirkan olehnya akan melalui perjalanan sejauh itu.

“Saat adanya audisi MasterChef, di situ saya menjadi perwakilan dari Jogja. Sama sekali nggak kepikiran akan lolos. Bahkan sesaat setelah audisi kedua dan tinggal menunggu kabar lolos ke tahap 55 besar atau tidak, di situ saya sudah sedikit pesimis. Mengingat kontestannya banyak dan mereka juga hebat,” ujar pria 29 tahun tersebut.

Batik dan Wiryo Menjadi Ciri Khas

Para penggemar MasterChef tidak akan lupa kesan pertama saat Bayu tampil di layar kaca. Selain tampil beda dengan baju batik, ia juga membawa ayam kesayangannya yang diberi nama Wiryo.

“Hahaha, jadi dulu sempat kita dapat semacam notif, “jika ada sesuatu yang bisa menjadi identitas yang ‘kamu banget’, dibawa aja”. Jadi saya coba cari ciri khas, selain batik, saya membawa Wiryo, hehehe…  Karena, selain dia yang menemani saya di awal, dia juga yang menjadi cikal bakal usaha ayam saya di kampung.”

Ketika ditanya tentang alasannya memakai batik, ia mengatakan bahwa baju batik membuatnya lebih percaya diri.

“Ya, selain ingin memakai batik untuk memasak, saya ingin terlihat rapi. Dan, nggak tahu, PD aja rasanya pakai batik. Selain itu, saya juga ingin mengenalkan batik untuk generasi milenial. Bahwa batik dapat dipadukan dengan celana dan sepatu model sekarang. Itu bisa keren!”

batik , masterchef
Selalu menggunakan batik di gallery MasterChef. (Sumber gambar: instagram.com/bayumci5/)

MasterChef adalah Panggilan Jiwa

Bagi Bayu, keikutsertaannya dalam ajang pencarian bakat MasterChef merupakan panggilan jiwa. Menekuni dunia memasak dan melebihi batasannya sendiri adalah hal yang diidam-idamkannya. Ia meyakini bahwa dengan terus belajar ia akan memperoleh hasil yang maksimal  dan lebih baik lagi. Selain itu, keluarga merupakan alasan utama mengapa ia ingin terus mengembangkan potensi dirinya di dunia kuliner.

“Karena saya ingin gantian merawat orang tua saya besok. Dan jika saya bisa sukses atau berhasil, saya ingin buat bangga mereka,” jelas Bayu.

Bayu saat berada di pressure test. (Sumber gambar: instagram.com/bayumci5/)

Ketika ditanya tentang perubahan yang dialami setelah ikut ajang MasterChef, sambil terkekeh ia menyatakan bahwa dirinya mulai dikenal banyak orang.

“Hehe, perubahan ya? Hmm, yang kelihatan sih saya jadi dikenal banyak orang dan kadang saya kaget disapa ‘Mas Bayu’ gitu, hahaha… Selain itu, ya, Puji Tuhan dari MasterChef rezeki kerjaan demo masak atau isi acara gitu ada. Tapi ke depannya, saya masih ingin belajar masak lagi, hehe…”

Banyak pelajaran yang didapatkannya di MasterChef. Selain nilai kekeluargaan, ia juga mendapat banyak ilmu memasak. Ia mengisahkan bahwa setelah mengikuti ajang MasterChef, ia terpacu untuk tidak berhenti sampai di sini. Sebaliknya, semangatnya untuk belajar memasak kian bertambah. Bayu berharap bisa menjadi lebih baik di kemudian hari.

“Saya beruntung bisa bertemu juri hebat serta teman-teman yang jago masak.”

“Pesan untuk generasi milenial, masa depan dapat kau rancang. Tapi, kapan itu terjadi, kau tidak akan pernah tahu. Mulailah dari sekarang dan berpikirlah seolah kau sudah tidak punya waktu,” pesan Bayu untuk generasi milenial, menutup percakapan dengan redaksi ublik.id.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

investasi leher ke atas

Inilah Pentingnya Investasi Leher ke Atas bagi Milenial

milenial , bahagia

Menjadi Milenial Bahagia untuk Produktif dalam Berkarya