in

Evi Lestari: “Kuliah di Negeri Panda Membuat Saya Membuka Mata”

Selalu ada hal menarik yang dapat dipelajari tiap kali kita berbincang dengan orang yang ‘mainnya jauh’, sampai ke negeri panda misalnya. Negeri panda alias negeri tirai bambu, yang tak lain adalah China, sebagai negara peraih medali terbanyak Asian Games 2018 itu memberikan makna yang mendalam bagi Evi Lestari (25) yang berkesempatan menimba ilmu di sana dengan beasiswa. Empat tahun tinggal di Kota Guangzhou untuk menempuh pendidikan S1 telah mengubah pandangan-pandangannya tentang banyak hal.

Beberapa waktu lalu pada akhir pekan, redaksi Ublik.id sempat menggali informasi seputar pengalaman kuliah di luar negeri bersama Evi yang pernah menempuh jenjang pendidikan setingkat Sarjana Pendidikan atau Bachelor of Education di Jinan University, Guangzhou, China. Karena wawancara dilakukan saat akhir pekan, kami mulai berbincang dengan tentang jalanan Kota Solo yang macet di akhir pekan. Alumni SMA 1 Wonogiri ini memberikan kesan yang berbeda antara suasana akhir pekan di Solo dan di Guangzhou.

Evi, kalau di China, apakah setiap akhir pekan juga ramai seperti di sini?

“Wah beda banget ya budayanya. Orang sana kalau weekend malah kebanyakan istirahat di rumah. Sabtu-Minggu jalanan sepi. Kalau kita kan banyak yang jalan-jalan ke luar ya, jadi macet gitu jalannya. Saya biasanya kalo Minggu di rumah aja, kalo Sabtu masuk kerja.”

Graduation (2015) (Sumber: Ublik.id/Evi)

Bisa diceritakan bagaimana Evi bisa kuliah S1 di negeri China?

“Sebuah kesempatan yang luar biasa bagi saya, bisa menerima beasiswa kuliah di negeri panda. Pada hari itu 1 september 2011, saya pertama kalinya menginjakkan kaki di negeri orang. Bersama sekitar 20 orang rombongan dari berbagai kota di Indonesia. Empat tahun dilalui, banyakkk banget kesan yang saya rasakan. Benar-benar pengalaman yang membuka mata.”

Baca Juga: Kuliah ke Luar Negeri? Inilah Hal-hal Seru yang Bisa Kamu Dapatkan!

Mungkin ini pertanyaan standar ya, tapi bolehlah dibagikan ke teman-teman: seperti apa suka dukanya selama belajar di negeri orang?

“Oh kalau sukanya mungkin teman-teman sudah paham lah ya, bisa dapet ilmu yang lebih, menambah relasi, pengalaman baru, bahasa baru, belajar survive, belajar menyesuaikan diri sebagai minoritas, dan masih banyak lagi. Nah kalau dukanya pun pasti ada. Tapi ambil positifnya saja. Ada orang yang ngira [kuliah di luar negeri] itu gampang. Ada yang bilang ‘ah aku juga bisa, cuma gak daftar aja’. Saya gak bilang mereka iri atau apa. Semua boleh berpendapat. Yang jelas, untuk bisa dapet beasiswa luar negeri itu, start-nya aja butuh perjuangan. Perjuangan menjelajah dunia, nyari informasi di internet. Harus siap ribet dengan prosesnya. Perjuangan yang melatih mental.”

Dengar-dengar, saat kuliah di China sempat ragu soal jilbab ya?

“Keputusan saya untuk mempertahankan jilbab awalnya sempat ditentang oleh ayah, karena khawatir gak bisa bertahan atau berbahaya untuk saya yang tinggal di negeri orang yang kebanyakan belum paham dengan Islam. Tapi saya tetap berusaha untuk mempertahankannya. Saat itu, walaupun saya juga sedikit khawatir, tapi gak pernah ada sedikitpun pikiran untuk melepas jilbab. Akhirnya saya pun berusaha meyakinkan keluarga bahwa saya pasti baik-baik saja. Karena saya yakin insya Allah saya ada di jalanNya. Saya selalu percaya bahwa Allah pasti akan menolong siapa saja yang ada di jalanNya.”

Asrama Mahasiswa (Sumber: Ublik.id/Evi)

Lalu bagaimana dengan kewajiban beribadah? Apakah tidak ada kendala?

“Alhamdulillah untuk ibadah shalat, gak pernah terlewat. Meskipun kalau di kampus sering shalat di bawah tangga dan dilihatin orang-orang. Kalau di asrama, saya sekamar sama orang Thailand dan Filipina, mereka pernah tanya ‘apa semua orang Indonesia harus melakukan itu?’ saya jawab dengan singkat. ‘Oh nggak, hanya untuk yang muslim’, begitu.”

“Sebenarnya di China ada juga yang beragama Islam, misalnya Huizu, suku penganut Islam. Kebanyakan dari mereka menetap di kota-kota bagian barat, seperti  Gansu, Qinghai, Ningxia, Xinjiang, dan beberapa kota lain.”

Masjid di Guangzhou (Sumber: Ublik.id/Evi)

Gimana menurut Evi tentang media di China? Apakah TV di sana juga ada sinetron seperti di Indonesia?

“Negara China sangat ketat dalam mengontrol media. Tidak banyak channel TV swasta seperti di Indonesia. Hehe, mungkin bukan sinetron ya, kalo drama tetap ada, tapi tidak pernah menceritakan hal negatif tentang negaranya. Lewat acara TV, media mereka banyak menayangkan konten sejarah, menceritakan perang dengan Jepang, sejarah antar kerajaan, dan sebagainya. Semua didramakan. Jadi sejak anak-anak, orang sana sudah paham tentang negaranya sendiri. Kalau kita mungkin belajar sejarah hanya dari buku, menghapal tanggal dan tahun yang gak terlalu penting, setelah lulus terus lupa. Haha. Oh ya, yang hampir diputar setiap hari di TV sana itu Sun Go Kong! Entah kenapa ya.”

Baca Juga: World Class University: Antara Gengsi dan Realita di Indonesia

Sekarang Evi bekerja sebagai penerjemah ya? Boleh diceritakan seperti apa pekerjaannya?

“Nah itu, sebagai penerjemah di kantor yang sekarang, pekerjaan saya penuh tantangan. Tugasnya bukan cuma  menerjemahkan kalimat, tapi jadi perantara buat orang-orang yang beda budaya, antara CEO dan karyawan. Kebetulan CEO-nya orang China, dan karyawannya rata-rata ya orang sini. Saya berusaha membuat mereka saling paham, jadi kerjanya bisa lancar. Kadang sih pusing juga buat saya, ya soalnya bisa dibilang saya ikut merintis dari awal gitu di perusahaan ini. Sekarang posisi saya executive manager, tiap Sabtu ngasih briefing ke karyawan-karyawan.”

                        Sebelum wawancara diakhiri (Sumber: Ublik.id/Restia)

Ngomong-ngomong, bagaimana menurut pandangan Evi tentang karakteristik orang China?

“Yang jelas mereka gak suka dipanggil ‘Cina’, tapi ‘China’. Pakai ‘H’. Nah, biar jelas bedanya, saya sering nyebut Tiongkok saja. Hehe, kalau soal karakteristik… Apa ya? Oh ya, orang-orang Tiongkok yang sering saya temui selama kuliah di sana, mereka itu hampir semuanya bagus di Matematika, Sejarah, dan Geografi.  Jadi pinter bisnisnya, terus mereka merasa aneh ngelihat orang Indonesia yang gak sensitif soal angka. Mereka juga bagus di Sejarah, dan Geografi. Paham betul soal negaranya sendiri. Nah, kita gimana ya?”

Ijazah dan beberapa penghargaan (Sumber: Ublik.id/Restia)

Sebelum mengakhiri perbincangan, redaksi Ublik.id sempat meminta Evi untuk memberikan semacam closing statement dan pesan-pesan untuk generasi muda.

Adakah tips dari Evi, khususnya buat adik-adik kita yang masih menentukan arah masa depan?

“Mungkin banyak hal mengagumkan yang kita temui di negeri orang, tapi pada akhirnya tetaplah kampung halaman ini, NKRI yang terbaik, karena saya orang Indonesia. Hehe. Urusan toleransi, menerima perbedaan, khususnya soal agama di masyarakat kita, nomor satu. Hehe saya juga masih banyak belajar sih, tapi mungkin ada sedikit yang bisa saya share. Gak bermaksud menggurui, cuma berbagi pengalaman personal aja. Ehmm, sebenarnya saya anaknya lebih cenderung pendiam lho. Dulu merasa kuper, jarang main bareng sama temen. Banyak yang menganggap kalau masa kecil kurang bahagia. Waktu saya berangkat ke negeri China juga ada yang nyinyir. Tapi gak apa-apa. Mungkin saya kehilangan umur 13 tahun, seperti umumnya teman-teman yang.. apa ya, yah tipikal anak gaul gitu. Tapi alhamdulillah di usia 25 sekarang saya bisa dapet yang mungkin mereka belum punya. Bukan berarti gimana-gimana sih, intinya kita harus berani ambil risiko. Banyak-banyaklah belajar, banyak berteman, belajar mandiri. Oh ya, jangan merasa kalau udah jadi anak gaul yang eksis di sekolah, berarti udah pasti terjamin masa depannya. Gak apa-apa bersusah-susah, banyak berkorban saat muda. Hehe, kita selalu punya pilihan: mau pahit di depan atau di belakang?”

 

Sumber gambar utama: Evi Lestari

 

Wiro Sableng 2018 dan Kebaruan Narasi Film Laga Indonesia

7 Alasan Mengapa Kita Harus Sering Berinteraksi dengan Orang yang Berpikir Positif