in

Ketika Revisi RUU KPK Bikin Resah, Sekolah Tetap Fokus Pendidikan

Saat berbagai kalangan saling lempar opini tentang RUU KPK

Foto gedung KPK (Sumber: kpk.go.id)

Beberapa hari belakang, berita tentang revisi RUU KPK (Rancangan Undang-Undang Komisi Pemberantasan Korupsi) membuat ramai jagad media massa cetak maupun daring. Berbagai kalangan saling lempar opini dan berusaha membahas tentang RUU tersebut. Opini pro dan kontra saling bersahutan tanpa henti. Memang tak bisa dipungkiri, RUU anti korupsi ini membuat sebagian kalangan menjadi resah, utamanya bagi pegiat anti rasuah. RUU KPK yang sedang digodok oleh anggota dewan yang terhormat dianggap akan melemahkan kinerja dan kekuatan lembaga tersebut.

Di mata Pak Jokowi, lembaga negara bentukan presiden kelima ini sudah bekerja dengan baik. Terbukti dari semakin banyaknya pejabat pemerintah, baik pusat maupun daerah, yang terjaring operasi tangkap tangan. Akan tetapi, seperti dua sisi mata koin yang sama, operasi yang digiatkan oleh KPK tersebut menjadi bahan evaluasi di sisi yang lain. Hari demi hari memang pengunjung hotel prodeo semakin bertambah. Model media massa dengan dress code jas orange sudah semakin tak asing nampang menjadi headline.

Baca juga:

Terpilih Menjadi Anggota DK PBB, Inilah Peran Indonesia untuk Perdamaian Dunia
Inilah Tokoh-tokoh yang Berperan di Balik Sumpah Pemuda 28 Oktober 1928
Mohammad Joesoef Ronodipuro, Pengudara Proklamasi yang Terlupakan

Pekerjaan rumah yang terbesar untuk lembaga antirasuah memang dalam hal mengurangi para perampok uang rakyat tersebut. Selain rajin menangkap calon penghuni hotel prodeo, KPK perlu meningkatkan dan memaksimalkan langkah pencegahan atau langkah preventif. Langkah preventif harus dimaksimalkan agar tidak muncul calon-calon koruptor di masa yang akan datang.

Dalam memaksimalkan langkah pencegahan ini, KPK perlu menggandeng pihak-pihak tertentu. Salah satu pihak yang sudah harus mulai digarap serius adalah sekolah. Sekolah, sebagai lembaga formal dalam menyiapkan sumber daya manusia unggul, harus digandeng dalam melakukan langkah pencegahan. Sekolah diajak untuk menyiapkan SDM yang berintegritas dan tidak mau mendekati korupsi dengan alasan apapun. KPK harus menggandeng sekolah untuk membentengi SDM Indonesia dari mental koruptif, serta mengembangkan pola pikir, sikap dan perilaku anti korupsi.

KPK , mural
Mau berantas KPK? (Sumber: Wikipedia Commons)

Langkah pencegahan di sekolah harus dijadikan konsen utama dalam tujuan pendidikan antikorupsi. Berbagai program sekolah perlu dicanangkan dan direncanakan dengan matang sebagai langkah pencegahan dalam menyebarnya virus perilaku koruptif sejak dini. Akan tetapi, program pendidikan Anti-korupsi tidak hanya dalam aspek pengetahuan saja, melainkan aspek sikap dan perilaku juga harus menjadi konsen utama juga. Bahkan bisa dikatakan bahwa sikap dan perilaku anti koruptif jauh lebih penting, menurut penulis sendiri.

Program pendidikan anti-korupsi bisa diintegrasikan dalam suatu mata pelajaran tertentu ataupun berdiri sendiri menjadi suatu program kelas atau program sekolah (misalnya, dengan mengadakan Guest Teacher dari KPK). Dalam pelaksanaan program atau kegiatan tersebut bisa dilakukan per tiga bulanan, semesteran atau mungkin program tahunan sekolah. Atau bahkan, kegiatan atau program pencegahan sikap anti korupsi ini bisa dimulai dari proses pembelajaran di kelas-kelas. Kepala sekolah bisa menginstruksikan kepada setiap wali kelas untuk menekankan pada pengembangan sikap-sikap yang menunjukkan perilaku antikorupsi.

Selain itu, hal terkecil yang bisa dilakukan oleh seorang guru ataupun pendidik (atau bahkan orang tua) adalah mulai menghilangkan proses pengajaran yang menggunakan sogokan ataupun hukuman. Dengan sogokan dan hukuman anak hanya akan melakukan tugas dan tanggung jawabnya jika ada imbalannya. Sehingga menyebabkan anak tidak akan melakukan tugas dan tanggung jawabnya dengan ikhlas dan penuh kesadaran. Guru perlu menekankan kepada siswa akan hal ini. Siswa belajar harus dilakukan atas dasar rasa suka dan kegemaran.

Dengan pembiasaan akan hal-hal kecil, siswa memiliki bekal sikap dan perilaku untuk belajar lebih lanjut tentang pengetahuan dalam pendidikan antikorupsi. Pendidikan antikorupsi ini sudah seharusnya digaungkan lagi, baik melalui sosial media (Facebook, Twitter maupun Instagram) ataupun melalui seminar-seminar. Penulis yakin, dengan usaha yang ikhlas dan sungguh-sungguh, lambat laun pengunjung hotel prodeo dengan mengenakan jas orange akan berkurang dan pada akhirnya tidak ada sama sekali. Amin.

 

Ditulis oleh A.Budiyanto

Lulusan S1- PGSD Universitas Negeri Yogyakarta, Guru Muda di SDIT Salsabila Al Muthi'in Bantul, D.I Yogyakarta, Ketua Divisi Inovasi Program Komunitas Wonosobo Mengajar, Anggota Komunitas Guru Belajar, Freelancer Guru Privat, Penulis Buku "Pemahaman Wawasan Nusantara dan Sikap Bela Negara", Kontributor Buku "Pendidikan Yang Memanusiakan"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

investasi , pendidikan

Bagaimana Investasi SDM Bisa Meningkatkan Kualitas Pendidikan?

lunas, sapi kurban

Tujuh Bocah Ini Beli Sapi Kurban dengan Cara Patungan