in

Kendalikan Perfeksionisme dengan Memahami 6 Hal Ini

Bahwa perfeksionisme seperti pedang bermata dua, gunakan sesuai porsinya

Kendalikan perfeksionisme dalam dirimu

Sahabat Ublik sudah membaca artikel sebelumnya mengenai ‘apakah perfeksionisme adalah kelebihan atau kekurangan?’ Bahwa perfeksionisme seperti pedang bermata dua. Ia bisa sangat berguna ketika bisa dikendalikan dan sesuai porsinya. Dalam bekerja, ada situasi di mana perfeksionisme sangat dibutuhkan, namun ada kalanya perfeksionisme juga menjadi ‘boomerang’ bagi dirimu dan orang-orang disekitarmu. Lalu, apa yang bisa kamu lakukan untuk belajar mengendalikan perfeksionisme?

1.Kegagalan Bukan Akhir, Rayakanlah

Pahamilah bahwa dalam kehidupan ini, realitas tak selalu sesuai dengan ekspektasi manusia. Ketika mengalami kegagalan, jangan sampai diri kamu dikuasai oleh perasaan gagal itu sendiri. Misalnya naskah kamu ditolak penerbit atau presentasimu di depan klien tak berhasil meyakinkan mereka. Kamu sedih? Tidak masalah. Tapi, ingatlah bahwa kegagalan bukanlah akhir dari kehidupan. Rayakanlah kegagalanmu!

Berikan apresiasi pada dirimu karena kamu telah berhasil melewati sebuah proses panjang dalam perjuangannya. Merayakan bukan berarti mengadakan pesta, sederhana saja, sesederhana menghadiahi dirimu dengan es krim jika kamu memang sangat menyukainya. Tanyakan pada diri: kemampuan apa yang meningkat atau bertambah dalam berproses tersebut? Meski mungkin hanya 1% peningkatannya, rayakanlah!

perfeksionisme , rayakan
Tak ada yang salah dengan perfeksionisme, tapi jangan lupa bahagia

2.Belajar Mencintai Diri Sendiri

Mencintai diri sendiri dimulai dari adanya kesadaran bahwa sebagai manusia, kamu punya kekurangan. Selalu berupaya menjadi yang terbaik di antara lainnya itu melelahkan. Bukankah tidak ada orang yang sempurna? Menerapkan standar yang terlalu tinggi dan tidak logis akan membuat stres diri sendiri. Eits, ini bukan anjuran agar kamu tak mau belajar apapun! Kamu tetap perlu banyak belajar dan berusaha menjadi versi terbaik dirimu.

Kerjarlah peningkatan diri, bukan perfeksionisme yang menuntut kesempurnaan diri. Juga, belajarlah untuk tidak menuntut orang lain agar bisa seperti standar yang kamu terapkan baik, pada pasanga hidup atau rekan kerjamu. Bantu mereka untuk meningkatkan diri, bukan menyempurnakan diri.

3.Belajarlah untuk Tidak ‘Saklek’

Mempersiapkan segala kemungkinan itu tidak selalu buruk. Membuat list kegiatan yang akan dilakukan satu hari penuh membantu kamu untuk mendisiplinkan diri. Namun ketika ada satu-dua kegiatan yang gagal kamu ceklis karena kelelahan, jangan dipaksakan. Kamu bukan robot, kamu manusia yang butuh istirahat.

Ketika kamu telah menyusun target setahun ke depan beserta cara dalam mencapainya, lalu kamu merasa kalau cara-caranya melelahkan dan tak lagi sesuai, coba evaluasi cara mana yang perlu diganti. Bersikaplah lebih fleksibel. Kita boleh merencanakan segala sesuatunya, namun pengambilan keputusan terkadang dipengaruhi oleh situasi dan kondisi saat itu. Jadi, belajarlah untuk tidak ‘saklek’ pada perencanaan. Menjadi fleksibel itu perlu, bukankah ketika kita terbuka pada pilihan-pilihan yang ada dapat melatih kreativitas kita dalam berinovasi?

4.Fokus pada Hal-Hal yang Lebih Penting

Tugas-tugas bisa kamu selesaikan lebih cepat apabila kamu mau sedikit menurunkan standarmu. Bahan presentasi bisa kamu siapkan dalam beberapa jam saja jika kamu lebih fokus pada hal-hal yang bersifat inti. Tak perlu berkutat seharian untuk memilih jenis dan ukuran huruf setiap slide, memilih animasi slide yang berbeda pada setiap pergantian halaman agar terkesan menarik dan kreatif.

Tinggalkan hal-hal yang terkadang luput dari perhatian orang lain! Fokuslah pada apa yang ingin kamu sampaikan pada presentasi dan bagaimana teknikmu dalam menyampaikannya agar bisa menyakinkan orang lain. Hal itu dapat mengurangi stresmu dalam mengerjakan tugas.

deadline , perfeksionisme
Perfeksionisme vs deadline!

5.Berpikirlah Lebih Positif

Hendak pergi berlibur ke luar kota, menyiapkan begitu banyak obat-obatan kalau-kalau kamu nanti sakit ini dan sakit itu? Oke, ini wajar. Membawa banyak makanan agar kamu tak kelaparan selama di sana? Boleh saja, asal jangan sampai itu malah akan membuatmu kerepotan. Berpikirlah lebih positif bahwa perjalananmu akan baik-baik saja. Terlalu banyak menduga-duga hanya akan membuatmu pikiranmu stres dan justru sakit. Mempersiapkan segala sesuatu secukupnya saja, tak perlu berlebihan! Kalau pikiranmu positif, kamu juga akan mudah mencari jalan keluar ketika menemui kendala, dan tidak gampang panik.

6.Hilangkan Prinsip ‘Semua atau Tidak Sama Sekali’

Menurut penulis, prinsip yang idealis ini justru menjadi sebuah alasan yang membuatmu tidak melakukan apa-apa. Menjadi yang terbaik bukan berarti harus paling berbeda dari yang lain. Jangan menunda pengerjaan tugas-tugasmu, kerjakan sedikit demi sedikit dari hal paling mudah yang bisa kamu tangani.

Tidak apa-apa jika kamu melakukan kesalahan, justru kamu bisa banyak belajar darinya, agar tidak terulang lagi. Kalau kamu masih saja memegang prinsip tersebut, malah akan mengilangkan kesempatan yag datang padamu. Sesuatu yang baik adalah sesuatu yang selesai, bukan?

Ditulis oleh Widya Imrani

Perempuan berkepribadian ISFP yang suka membaca, menulis dan bernyanyi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Cara mengetahui passion

4 Cara Menentukan Passion agar Tidak Salah Jurusan

kuliah , pekerjaan

Ketika Pekerjaan Tak Butuh Ijazah, Haruskah Kita Kuliah?