in

Kenapa Kita Perlu Berpikir Kreatif? Ini Dia 5 Alasannya

Kenapa kita perlu berpikir kreatif

Ublik.id – Kenapa kita perlu berpikir kreatif? John Howkins, dalam bukunya yang berjudul ‘The Creative Economy’ menyatakan bahwa orang-orang yang mempunyai ide akan cenderung lebih kuat pengaruhnya dibanding orang-orang yang bekerja dengan mesin produksi, atau bahkan pemilik mesin itu sendiri. Ini bisa mendukung berkembangnya industri kreatif yang memanfaatkan ide dan keterampilan individu sebagai modal utama.

Di era sekarang ini, kalau kita mau melihat sedikit lebih jauh ke orang-orang yang menguasai suatu bidang bukan lagi mereka yang punya lahan luas atau mereka yang punya modal besar saja yang akan memenangkan persaingan. Yang bisa mendapat akses informasi dengan cepat dan mau memanfaatkannya secara tepat, ituah yang berpeluang memenangkan persaingan dalam banyak bidang. Meskipun tidak melulu pada hal besar seperti di industri, poinnya adalah tentang kreativitas tidak bisa lepas dari kehidupan kita sehari-hari. Jadi kenapa kita perlu berpikir kreatif?

1.Melihat Sesuatu dengan Cara yang Berbeda

melihat , berpikir kreatif
Melihat sesuatu dengan cara berbeda (Sumber gambar: Pixabay)

Masing-masing orang yang melihat sesuatu akan memiliki kesan, pandangan, atau fokus yang berbeda-beda. Misalnya; pensil, sedotan, dekorasi rumah, kendaraan, alat kebersihan, atau apapun di sekitar, buat kebanyakan orang, itu tidak lebih dari daftar benda beserta fungsinya yang spesifik. Tapi, seorang yang kreatif bisa melihat benda-benda di sekitarnya dengan lebih cermat.

Mereka terbiasa memperhatikan dengan seksama banyak hal kecil yang ia lewati. Meskipun benda-benda itu terlihat biasa saja, tapi itu bisa jadi sumber inspirasi. Misalnya anak muda kreatif yang satu ini, membuat miniatur sepeda dari sedotan plastik. Begitu kita pelajari motivasi para kreator yang berpengaruh, banyak di antara mereka yang membuat mahakarya yang terinspirasi oleh hal-hal sederhana.

Dengan berpikir kreatif, kita bisa membuat sesuatu dari yang terlihat remeh menjadi lebih bernilai. Berpikir kreatif begitu penting untuk bisa melihat apa yang tidak selalu bisa dilihat oleh orang lain. Melihat yang tidak dilihat orang lain ada kaitannya dengan kepekaan untuk menjawab kebutuhan orang banyak dan kejelian menangkap peluang.

2.Lebih Efektif Menemukan Solusi Suatu Masalah

solusi , berpikir kreatif
Berpikir kreatif untuk menemukn solusi (Sumber gambar: Pixabay)

Apakah kehidupan yang kita jalani sehari-hari ini akan lurus-lurus saja alias tanpa gejolak dan tantangan? Ternyata kita selalu menemukan situasi yang seringnya di luar ekspektasi dan rencana. Situasi tidak tertebak itu bisa berupa problem yang terjadi pada urusan personal, kerjaan, atau kehidupan sosial. Menghadapi situasi yang kompleks, cenderung tidak pasti, dan mudah berubah, tentunya tidak bisa hanya dengan mengikuti kebiasaa umum, tidak juga mengandalkan cara-cara yang sudah lama kita lakukan.

Di samping itu, orang pada umumnya cenderung akan melakukan suatu hal sesuai pola dan kebiasaan yang ada di lingkungannya. Apalagi kalau pola-pola perilaku dan kebiasaan itu sudah terbentuk sejak kecil. Tapi, untuk mengatasi dan memecahkan masalah yang tak terencana, bukankah itu diperlukan ide-ide kreatif dan pendekatan baru? Adalah benar kalau kemampuan berpikir kreatif itu penting untuk memunculkan solusi untuk masalah dengan lebih efektif.

3.Agar Para Entrepreneur Bisa Memiliki Faktor Pembeda

Ketika semua orang melakukan hal yang sama atau misal ada banyak business owner yang membuat produk yang sama, apakah semua menghasilkan dengan kualitas yang sama? Di sinilah sikap kreatif menjadi kunci untuk memiliki faktor pembeda. Kemampuan melihat gagasan dari sudut pandang berbeda menjadi ciri berpikir kreatif. Pola pemikiran kreatif tidak hanya dibutuhkan untuk menjawab kebutuhan dan tren saat ini tapi juga dibutuhkan untuk menggambarkan keadaan masa depan.

Ketika kita mempelajari kisah sukses enterpreneur pun, di sana hampir selalu terlihat keunikan yang membedakan antara satu dengan yang lainnya. Tidak melulu bicara soal profit, tapi mereka juga concern membangun pemikiran kreatif tentang stra tegi bisnis yang efektif, tentunya berdasarkan pengalaman.

4.Menciptakan Inovasi yang Bermanfaat

Seperti yang kita mungkin sudah pahami, kreativitas tidak terlepas dari inovasi. Kreativitas yang terkait erat dengan inovasi ini juga bukan hanya dibutuhkan untuk hal-hal yang sifatnya terobosan baru dan ‘penting’ saja, tapi juga bisa diterapkan dalam keseharian. Bagaimana merapikan rumah atau membuat variasi menu masakan adalah contoh aktivitas domestik yang membutuhkan pikiran kreatif.

Tapi kapankah momen munculnya inovasi itu? Menurut Theresa Amabile dari Harvard Business School, gagasan yang kreatif justru muncul ketika orang merasa bahagia. Otak manusia bisa mengembangkan ide kreatif pada saat sedang benar-benar rileks, meskipun ini tidak panjang durasinya. Sejalan dengan konsep 80/20 yang mungkin kamu sudah pernah mengenalnya, ini adalah porsi waktu yang dipakai. 80% adalah waktu kita untuk mengerjakan tugas utama. Sementara itu, 20% adalah waktu yang bisa kita gunakan untuk kesenangan. Ternyata, ada sebuah fenomena unik terjadi. Faktanya adalah: ide-ide yang kreatif dan inovatif justru lahir di saat waktu 20% itu.

Membahas tentang kreativitas dan suasana yang rileks, tentu ini tidak terlepas dari tujuan untuk meningkatkan produktivitas kerja. Tidak sedikit yang mencoba macam-macam metode peningkatkan produktivitas, sistem kerja yang menerapkan disiplin tinggi dan perlakuan yang menekan, dan suasana kerja yang ‘mencekam’, yang ternyata belum tentu berdampak positif. Sebaliknya, suasana yang santai justru lebih bisa memacu produktivitas, sehingga semua target kerja pun tercapai.

Kita lihat Google sebagai contoh perusahaan terbaik dan didukung oleh budaya kerja 80/20 itu. Ternyata, inovasi dibuatnya Gtalk, doodle Google, dan juga Gmail, itu muncul dalam waktu 20% alias waktu di luar kerjaan utama. Mengapa bisa begitu? Karena keadaan bahagia yang dirasakan mampu menghasilkan sebuah pemikiran kreatif dan bahkan out of the box.

5.Pekerjaan Kreatif Tidak Bisa Digantikan Robot

robot , berpikir kreatif
Pekerjaan kreatif belum tergantikan robot (Sumber gambar: Pixabay)

Dengan perkembangan teknologi yang luar biasa cepat, hal yang terlihat mustahil di masa lalu, bisa terjadi hari ini. Di negara maju, sudah bukan hal asing lagi kalau pengembangan robot sudah semakin banyak menggantikan tugas manusia. Pebisnis makanan cepat saji di beberapa negara bahkan sudah mulai menggunakan robot sebagai pegawainya. Alasan lain perusahaan ‘mempekerjakan’ robot adalah biaya perawatan robot dianggap lebih rendah dibanding gaji yang dibayarkan untuk pegawai umumnya, yang tak lain adalah manusia. Robot-robot tersebut memang bisa melakukan tugas-tugas seperti memindahkan barang-barang, menggantikan peran guru, sampai menghibur manusia. Tapi tentunya tidak semua hal digantikan oleh robot, khususnya pekerjaan yang memerlukan kreativitas.

Robot memang bisa diprogram untuk melayani pembeli di restoran cepat saji. Mereka bisa ‘berpikir’ dan menghitung. Mereka pun tidak protes seperti manusia karena tidak punya emosi. Tapi, tidak adanya emosi pada robot itulah yang membuat beberapa jenis pekerjaan tidak bisa langsung digantikan robot. Karena robot tidak memiliki daya imajinasi dan kreativitas, inilah sebabnya belum ada robot yang menjadi penulis atau seniman.

Selain faktor ketiadaan emosi pada robot, keberadaan robot pun sebenarnya tidak akan pernah lepas dari keberadaan manusia. Bahkan robot itu sendiri adalah buatan manusia. Bukankah yang bisa memahami perasaan manusia atau sifat emosional manusia, adalah manusia itu sendiri. Maka dari itu, orang yang punya kemampuan manajerial, yang butuh pemahaman psikologi manusia, juga profesi-profesi kreatif, belum tergantikan oleh robot. Setidaknya, sampai hari ini.

One Comment

Leave a Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

[Ruang Fiksi] Sebuah Catatan untuk Teman Seperjuangan

rutinitas , kreativitas

Apakah Kreativitas Itu Bisa Dilatih? Lalu Bagaimana Caranya?