in

Kahyangan, Tempat Wisata Alam Bernuansa Spiritual di Selatan Wonogiri

Selain ‘ngalap berkah’, Kahyangan juga bisa jadi wisata edukasi

Kahyangan: wisata alam dan spiritual (Sumber gambar: bukupintarkabupatenwonogiri.blogspot.com)

Tempat wisata alam yang satu ini bernama Kahyangan. Lokasinya berada di wilayah Kabupaten Wonogiri, tepatnya di Desa Dlepih, Kecamatan Tirtomoyo (sekitar 50 km dari pusat kota Kabupaten Wonogiri).

Diperlukan waktu tempuh sekitar 1,5 jam jika ditempuh dengan kendaraan umum bus kota dari terminal bus Giriwono. Tapi menurut penuturan beberapa teman, cara paling cepat menuju ke Kahyangan adalah dengan menggunakan kendaraan pribadi, baik motor maupun mobil. Tempat ini bisa jadi alternatif tujuan kamu yang ingin backpacking sekaligus mengisi waktu libur panjang. Suasananya yang sejuk dan asri karena dikelilingi hutan hijau, lembah, jurang, serta air terjun alami barangkali juga bisa menentramkan hati kita (eh kita?) yang masih menunggu hasil pemilihan umum kemarin. #ehe

Sampai saat ini tempatnya relatif ‘terjaga’ karena memang Kahyangan jadi tempat yang disakralkan. Selain wisata alam, tempat ini cukup banyak didatangi pengunjung yang ingin ngalap berkah, bertapa, atau kepentingan lainnya yang bernuansa spiritual.

Tempat wisata kahyangan di Wonogiri , wisata alam
Objek wisata alam Kahyangan Wonogiri (Sumber gambar: ublik.id/Nay)

Kahyangan dan Mitos yang Berkembang

Menurut cerita yang berkembang sejak dahulu, Kahyangan merupakan tempat pertapaan Danang Sutawijaya—yang kemudian dikenal dengan nama Panembahan Senopati—ketika hendak membuka hutan Mentaok. Hutan Mentaok sendiri adalah hadiah yang dijanjikan oleh Sultan Hadiwijaya kepada siapa saja yang berhasil membunuh Arya Penangsang. Sultan Hadiwijaya adalah penguasa Kerajaan Pajang. Hutan Mentaok yang dibuka itu kemudian berkembang menjadi pusat Kerajaan Mataram Islam, cikal bakal Kasultanan Ngayogyakarta dan Kasunanan Surakarta.

Menurut cerita lainnya, Panembahan Senopati pun bisa menjalin sebuah komunikasi dengan Kanjeng Ratu Kidul untuk membantu mewujudkan cita-citanya menjadi raja Mataram. Panembahan Senopati berhasil menjadi Raja Mataram Pertama.

Konon, menurut keyakinan setempat, pengunjung tidak boleh memakai pakaian berwarna hijau, sebagaimana keyakinan masyarakat saat berkunjung ke pantai selatan Yogyakarta. Yang jelas, kawasan di sekitar objek wisata Kahyangan ini menawarkan pesona alam yang indah.

Jika kita ke sana pada saat musim kemarau, maka kita bisa menjelajahi banyak tempat, bahkan sampai lokasi paling atas untuk menyusuri aliran sungai, karena jalurnya tidak tertutup rumput. Nah kalau ke sana saat musim hujan beda lagi suasananya. Kedung Pasiraman dan sungai yang membentuk air terjun akan lebih indah jika berkunjung ke sana di saat debit air cukup banyak.

Petilasan-petilasan di Objek Wisata Alam Kahyangan

Kahyangan sendiri memiliki 6 bagian kawasan (petilasan) yang dikenal sebagai Gapit (Penangkep), Sela Betek, Sela Sela Payung, Sela Gawok, Sela Gilang (Pesalatan), dan Kedung Pasiraman. Petilasan-petilasan yang ada di objek wisata alam Kahyangan Wonogiri yang bisa kamu lihat dan pelajari, yaitu;

1) Sela Gapit (Penangkep): yaitu dua buah batu besar yang saling berhimpit yang digunakan sebagai jalan masuk menuju petilasan.

2) Sela Bethek: salah satu tempat untuk bersemedi yang berupa batu besar yang di bagian bawahnya juga bisa digunakan untuk tempat berteduh.

3) Sela Payung: tempat bersemedi Panembahan Senopati yang berupa batu besar dengan rongga besar, sehingga dapat digunakan sebagai tempat berteduh.

4) Sela Gawok: batu besar dengan lubang di batu yang hanya cukup untuk satu orang bersemedi.

5) Sela Gilang (Pesalatan): batu datar yang dahulu digunakan oleh Panembahan Senopati menunaikan ibadah shalat lima waktu.

6) Kedung Pasiraman: tempat di aliran mata air Kahyangan yang digunakan Panembahan Senopati semedi kungkum alias berendam.

Petilasan kahyangan wonogiri , petilasan
Salah satu petilasan di Kahyangan (Sumber gambar: Wonogiri.kab.go.id)

Masih Kurang Promosi

Sayangnya, tempat yang indah ini masih kurang promosi. Selama ini yang lebih banyak datang ke sana adalah orang-orang yang  tirakatan dan mencari pesugihan. Sehingga tidak heran jika pada malam-malam tertentu Kahyangan akan ramai pengunjung (Selasa Kliwon, Jumat Kliwon dan Malam 1 Suro). Alangkah lebih baik jika tempat ini juga menjadi tempat wisata edukasi yang memperkenalkan sejarah, karena ini merupakan salah satu tempat peninggalan pendiri kerajaan Mataram.

Satu lagi, saat ke sana, ada baiknya lebih berhati-hati. Ya, hati-hati dengan barang bawaanmu, karena banyak monyet liar di sana, apalagi pada saat musim kemarau mereka turun gunung untuk mencari makan.

 

( Sumber gambar utama: bukupintarkabupatenwonogiri.blogspot.com )

Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Loading…

0

Comments

0 comments

tips menulis , jarang disampaikan

6 Tips Menulis yang Jarang Disampaikan Orang, Sudah Pernah Coba?

[Ruang Fiksi] Ketika Krisan Kuning Bermekaran