in ,

Jogja Adalah Paris yang Lain

Ada banyak kota di Indonesia. Masing-masing kota tentu memiliki keunikan dan keindahannya tersendiri. Dan sudah tentu, setipa kota pasti punya daya tariknya masing-masing. Tapi, diantara sejumlah kota di Indonesia. Ada satu kota yang seakan tak pernah lekang dimakan jaman. Yogyakarta! Ya! kota Sejarah ini memang selalu dapat memikat setiap orang untuk dapat berkunjung kesana. Jogja selalu punya kesan menyenangkan bagi para pelancong. Dari mulai keramahan warganya, kebudayaan sampai pada tempat-tempat menarik. Jogja memang selalu asyik untuk terus menerus diperbincangkan. Tak salah jika setelah Bali. Para pelancong mancanegara menjadikan Jogja sebagai tempat rekreasi pilihan kedua yang selalu banjir pengunjung. Hotel-hotel megahpun didirikan untuk menunjang itu semua.

Eloknya Kota Paris

Menyeberang negara serta benua dan beberapa samudra. Kita akan menemui sebuah kota cantik lainnya. Sebuah kota yang jadi jantung dari negara bernama Prancis. Betul sekali, sang ibukota Paris. Kota ini punya kesan yang selalu positif bagi siapapun. Kota ini seakan tak pernah kehabisan cerita untuk selalu dikabarkan. Paris juga punya sejrah kental yang akan selalu menarik untuk dikisahkan. Selain itu, Kota ini jga pernah jadi sebuah kota paling disanjung di seantro Eropa. Alasannya, sudah tentu karena cantiknya kota ini yang jadi masyur bagi seluruh penjuru Eropa. Paris memang akan selalu abadi.

Jogja Adalah Paris yang Lain

Ada satu hal menarik dari dua kota yang sudah panjang lebar dikisahkan diatas. Keduanya punya kesamaan yang entah kebetulan atau tidak membuat dua kota ini memiliki kesan yang sama. Sebuah kota menyenangkan. Bukan bermaksud untuk menyampingkan Bandung yang sudah jaman masa kolonial mendapat julukan “paris van Java” . Tapi jogja memang punya kesamaan dengan Paris.

Jogja adalah Paris yang lain
Kraton Yogyakarta (Sumber: Wikipedia.org)

Pertama yang paling mencolok adalah soal garis imajiner. Tahukah kamu jika dua kota ini sama-sama punya garis imajiner yang membentang lurus dan menghubungkan berbagai hal. Di Jogja garis tersebut mmbentang dari mulai Gunung Merapi di utara lurus ke selatan sehinga tepat melintasi tugu jogja yang ikonik itu. Dari tugu Jogja garis imajiner belum berhenti membelah kota ini. Jika diteruskan berjalan lurus maka kita akan bertemu dengan keraton yogyakarta. Sebuah pusat pemerintahan paling tinggi daerah istimewa tersebut. Belus selesai, Jika terus ditarik keselatan. Maka kita akan berjumpa dengan Pangung Krapyak. Sebuah bangunan menyerupai benteng kokoh yang memiliki dua lantai. Benteng ini tadinya adalah tempat bernaung untuk raja-raja yang sedang berburu dihutan (Krapyak dalam bahasa Indonesia berarti hutan). Dan terakhir garis imajiner ini akan terus membentang ke selatan dan berakhir di pantai Parangkusumo.

Jogja adalah paris yang lain
Jalan Malioboro (Via: hobiholiday.com)

Garis ini tentu memiliki makna yang mendalam terutama bagi keluarga keraton Yogya yang membuat garis ini. Beberapa simpulan dimasyarakat-pun mencuat. Mulai dari filosofi keseimbanagan antara api (Gunung Merapi) hingga air (Pantai Parangkusumo). Filosofi lain juga berkaitan tentang keharmonisan antara Tuhan, raja dan rakyat yang segaris lurus. Garis ini sempat ingin dirusak oleh Belanda dengan membangun jalur kereta api yang memotong tegaknya garis tersebut. Namun, masyarakat dan Keraton sudah kadung percaya jika garis itu tetap ada dan tak akan bisa terputuskan. Bahkan hingga kini, meski rel kereta sudah dibangun. Garis itu masih bisa kita cermati bahkan kita telusuri.

Pilihan Editor:

 

Di Paris, sebuah garis imajiner juga bisa kita temui. Membentang dan membelah Ibu Kota Prancis tersebut. Adalah seorang Napoleon Bonaparte yang membuat itu semua. Sebuah garis lurus yang membentang ketenggara dan lagi-lagi melewati beberapa bangunan penting seperti Arch de Triomphe de I’Etoile terus membentang dan melewati beberapa bangunan penting macam Avenue des champ sebagai sebuah jalan besar dan dikenal sebagai jalan termahal kedua di dunia dan pertama di Eropa. lalu melintasi Monumen Obelisk Mesir, hingga bertemu dengan Arch de Triomphe du carrousel. Bahkan banyak yang menyebut jika garis ini terus ditarik hingga keluar kota Paris, meninggalkan Prancis sampai menyeberang benua. Maka garis itu lurus dan sejajar pada sebuah Kota Suci di Arab Saudi. Mekkah. Hal itu memang ada benarnya. Mengingat Napoleon pernah bertugas di Mesir dan dikenal sebagai seorang Prancis yang punya kekaguman sendiri terhadap Islam.

Jogja adalah paris yang lain
Arch de Triomphe de I’Etoile (Sumber: Wikimedia.org)

Dari garis imajiner yang penuh filosofi itu. Kedua kota ini selalu dikaitkan dengan sisi romantis. Baik Joga maupun Paris memang punya daya pikat untuk para pasangan pelancong. Paris dan Jogja selalu disebut-sebut sebagai kota paling romantis di masing-masing wilayah. Dan memang benar saja. Jogja dan Paris punya suasana yang selalu menyenangkan apalagi bagi mereka yang berpasangan.

Bukan Cuma itu, Jogja dan Paris juga dikenal sebagai kota mode. Paris sebagai kita tahu menjadi kiblat mode dunia. Segala merk besar berdiri disana. Sementara Jogja meski melokal, kita juga tahu kalau kota ini selalu jadi kota kreatif dan penuh dengan mode. Dan menjadi salah satu pusat mode indonesia. Lihat saja bagaimana batik diciptakan, kaos-kaos oblong bermunculan hingga gaya-gaya kekinian yang selalu diciptakan masyarakat Jogja.

Dan sudah tentu. Kedua kota ini adalah kota wisata. Sebuah kota yang tak akan pernah bisa berhenti menebar daya pikat. Jogja dan Paris tak pernah kehabisan sisi untuk dieksplorasi. Apalagi Jogja dan paris punya sejarah panjang yang akan selalu epic jika diceritakan dan menjadi sisi menarik bagi setiap pengunjung yang datang kesana. Satu lagi, kedua kota ini sama-sama punya ikon. Paris dengan Menara Eiffelnya dan Jogja dengan Tugu Jogjanya.

So, atas semua kesamaan antara kedua kota tersebut. Tak salah jika kita menyebut Jogja adalah Paris yang lain.

(Gambar Utama: https://www.flickr.com/photos/yadi_tjon)

Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Loading…

0

Comments

0 comments

4 wisata candi di malang

Kamu Lagi Liburan ke Malang? Nyesel kalau Nggak ke Sini

jalan slamet riyadi surakarta

Mengenal Ignatius Slamet Riyadi, Sosok Pahlawan di Balik Jalan Terbesar di Kota Solo