“Terbawa lagi langkahku ke sana. Mantra apa entah yang istimewa. Ku percaya selalu ada sesuatu di Jogja”

“Dengar lagu lama ini katanya. Izinkan aku pulang ke kotamu. Ku percaya selalu ada sesuatu di Jogja “

Beberapa waktu lalu, potongan lagu folk dari Adhitia Sofyan berjudul ‘Sesuatu di Jogja’ itu membuat saya terngiang. Liriknya yang jujur dan lugas serta alunan musik yang easy listening kemudian membawa saya pada ingatan pada lagu lain tentang Jogja. Tak lain adalah ‘Yogyakarta’ dari KLa Project yang legendaris itu. Saat mendengar serangkaian irama dalam lagu yang rilis tahun 1990 itu, kita seolah-olah sedang mendengarkan derap kaki delman Malioboro pada malam hari. Padahal sebenarnya suara itu berasal dari alat synthesizer. Meskipun beda genre, yang jelas ada kesamaan dari kedua lagu tersebut, yaitu menceritakan Jogja dari sudut melankolis tentang sesuatu dan seseorang di kota ini.

Baca jugaMenjajaki 4 Kota Paling Romantis di Indonesia

Jika sedang punya waktu senggang untuk mencari informasi di internet dengan kata kunci ‘alasan tinggal di Jogja’, ‘kenapa Jogja istimewa’, ‘cerita dari Jogja’, ‘Jogja berhati nyaman’, atau barangkali ‘mantan di Jogja’ maka akan mudah kita temukan cerita-cerita orang dalam beragam sudut pandang. Bahwa Jogja adalah kampung halamannya yang lain. Jogja adalah tempat belajar, menempa diri, bangkit dari patah hati, atau sekadar pelarian sejenak dari kesibukan di kota lain. Lalu untuk ke sekian kali, orang-orang akan membenarkan kutipan penyair Joko Pinurbo ini: Jogja terbuat dari rindu, pulang, dan angkringan.

Menuju Malioboro (Sumber: Ublik.id/Ridho)

Setiap kota yang pernah kita tinggali pasti memiliki hal menyenangkan untuk diceritakan, atau paling tidak untuk dikenang sendiri. Begitu juga dengan Jogja. Bagi mereka yang sudah akrab dengan suasana kota ini dan kemudian harus pindah ke kota lain, dengan mereka akan menyebutkan beberapa hal yang membuatnya merindukan suasana Daerah Istimewa Yogyakarta. “Siapapun yang pernah tinggal di Jogja, pasti ingin kembali ke sana,” kata beberapa teman saya yang pernah kuliah di Jogja. Kembali untuk apa? Barangkali ingin kembali untuk napak tilas tempat-tempat mana saja yang pernah dikunjungi. Bahkan untuk sekadar berterima kasih kepada kota ini karena sudah menjadi tempat untuk menempa diri.

Sebagai orang yang pernah beberapa bulan mencicipi pengalaman tinggal di Kota Gudeg itu, saya pun sempat mencatat poin-poin yang saya amati tentang suasana Jogja. Beberapa hal memang berasal dari sudut pandang personal. Barangkali ada di antara teman-teman sekalian yang mengalami hal yang sama.

Menu Angkringan (Sumber: job-like.com)

Tentang Burjo, Angkringan, dan Kafe Kekinian

Di banyak sudutnya, mudah sekali terlihat ekspresi kultural—lebih dari aktivitas ekonomi, masyarakatnya dalam bentuk tempat-tempat makan. Warung burjo adalah salah satunya. Burjo yang jadi ‘penyelamat’ mahasiswa saat kelaparan di tengah malam karena harus mengerjakan tugas, seringkali menimbulkan pertanyaan: “warung burjo kok tidak ada bubur kacang ijonya? Malah adanya Indomie.”

Selain burjo, ada cerita lainnya yang kita dapat dari tempat makan. Mulai dari angkringan yang terlihat sederhana tapi penuh makna, sampai setiap kafe kekinian yang mengajarkan kita tentang mahalnya harga pertemanan.

Baca juga : Café Brick, Tempat Nongkrong Instagrammable di Jogja Bernuansa Eropa

Cafe Brick Jogja (Sumber: Ublik.id/Restia)

Bagaimana Ritme Kehidupan di Jogja?

Tidak seperti ibukota yang tergesa-gesa, di Jogja kita biasa melihat ritme kehidupan yang berjalan sedikit lambat, tanpa harus tertinggal. Saat berjalan kaki di depan deretan ruko Gejayan menerobos keramaian, apalagi saat habis hujan di bulan November. Di setiap sudut kota yang penuh kenangan, membuat Jogja lebih dari sekadar kota. “Jogja sudah memberiku pengalaman lahir dan batin,” kata teman-teman saya yang lain. Di lain waktu mereka mengungkapkan bahwa daerah istimewa ini membawanya ke sebuah level kesadaran diri yang baru.

Bekerja dan Belajar di Jogja

Ada satu titik di mana saya pikir deskripsi orang-orang tentang Jogja adalah hal yang berlebihan. Saya sempat mempertanyakan tentang slogan Jogja Istimewa, yang juga tergambar dalam lirik lagunya Jogja Hip Hop Foundation:  “Jogja Jogja tetap istimewa. Istimewa negerinya istimewa orangnya. Jogja Jogja tetap istimewa. Jogja istimewa untuk Indonesia…”

Apakah akan tetap istimewa buat yang tidak punya pengalaman emosional dengan seseorang di sana? Seperti saya misalnya yang pernah tinggal di Jogja sekadar untuk memulai karir sebagai copywriter. Itu pun sebentar saja. Tapi ternyata Jogja memang (terasa) istimewa, paling tidak setelah meninggalkannya. Tinggal di Jogja mungkin hanya bisa dirasakan dan dijelaskan oleh orang-orang yang memilih tinggal di sana dalam waktu lama. Berikutnya saya mendapat satu lagi pengakuan dari seorang teman “Jogja enak buat belajar dan jalan-jalan, tapi bukan buat bekerja.”

Jadi bagaimana tentang membangun karir di Jogja? Dikenal sebagai kota yang nyaman dan berbudaya, kota ini menarik bagi mereka yang ingin membangun karir. Ritme kerja yang tidak sepadat di ibukota Jakarta, membuat Jogja sering jadi tujuan para fresh graduate untuk memulai karir. Biaya hidup yang relatif rendah pun menjadi daya tarik utama. Di kota besar lain memang nominal gaji lebih banyak, tapi biaya hidup juga sangat tinggi. Meskipun kenyataannya tidak sedikit anak muda yang kemudian hengkang dari Jogja karena alasan yang cukup realistis seperti besaran UMP (Upah Minimum Provinsi) yang jauh dari ekspektasi.

Barangkali ada yang belum tahu, penetapan UMP dihitung menggunakan formulasi berdasarkan hasil penambahan UMP tahun sebelumnya dikalikan tingkat inflasi nasional dan pertumbuhan ekonomi nasional. Untuk payung hukum terkait penetapan UMP adalah mengacu kepada Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 78 Tahun 2015, Pasal 44 ayat 1.

Banyak Anak-anak Muda yang Pintar

Bertemu teman-teman mahasiswa yang enerjik, yang bisa beraktivitas dari pagi hingga malam, yang rajin hadir di beragam diskusi, dan mereka yang terlihat penasaran tentang bagaimana dunia ini bekerja, itu cukup membuktikan bahwa Jogja mendukung untuk aktivitas belajar. Tentu bukan hanya dari ruang-ruang kuliah, tapi di manapun. Saat wawancara kerja pun saya sempat berbicang dengan sesama pelamar, dari masalal budaya kerja milenial, gaya penulisan Haruki Murakami, sampai soal kenapa perempuan sensitif dengan berat badan.

Pengalaman kerja di sebuah perusahaan lokal di Jogja ikut andil untuk membawa saya ke perkenalan dengan orang-orang baru, kebanyakan anak-anak muda yang pintar. Mulai dari aktivis dakwah sampai yang tidak percaya agama. Meskipun beberapa ruas jalanan sering macet, di sana ada banyak orang yang selalu melawan kemacetan pikiran dengan aktivitas yang membentuk nalarnya. Banyak sekali alasan untuk lebih bijak (untuk tidak perlu menyebutnya pintar) di kota ini.

Kuliner Joga (Sumber: Pixabay)

Istimewa Tapi Tidak Sempurna

Konon bahan baku untuk membuat sebuah kota adalah jalan raya, gedung, dan hasrat penduduknya. Saya lupa dari mana pertama kali mendengar opini tersebut. Yang jelas, Jogja kini semakin ramai. Ramai karena pendatang, pun juga bangunan-bangunan yang baru dibangun atau direnovasi. Macet di Jalan Kaliurang, sisi gelap pembangunan hotel, dan sengketa bandara baru adalah segelintir hal yang ikut mendefinisikan Jogja. Tentu dari sisi yang tidak romantis. Jogja istimewa, tapi bukan berarti tanpa masalah. Kota yang dipandang nyaman ini ternyata ada kriminalitas juga.

Jogja Berhati Mantan Nyaman

Suatu hari saya iseng membuat survei di media sosial. “Buat kamu yang pernah atau sedang tinggal di Jogja, apa yang paling ngangenin dari Jogja?” Ada beragam respon. Mulai dari suasana Malioboro, kuliner, tempat beli buku tua, kost teman, dan masih banyak lagi. “Bukan ngangenin sih, tapi ngingetin. Ada mantanku di sana.” Nah ini.

Banyak yang bilang, selain istimewa, Jogja berhati nyaman. Kadang diplesetkan jadi Jogja berhati mantan. Lalu saya mencoba membolak balik ingatan tentang suasana waktu itu. Tepatnya di sekitar kost di gang Jl. Flamboyan depannya FT UNY. Barangkali ada wajah seseorang di masa lalu yang mendadak muncul, bersamaan dengan lagu lama yang diputar melalui headset. Mungkin setelah itu saya pun percaya kalau Jogja berhati mantan. Eh, sebentar. Ingatan saya mendadak kabur. Saya ‘kan gak punya mantan di Jogja ya. Haha… Jadi bagaimana Jogja menurutmu?