in

Ini Dia 7 Aturan Tidak Tertulis dalam Berteman

Berteman juga ada seninya lho, jadi bagaimana seharusnya bersikap pada teman?

Entah kita sadar atau tidak, setiap interaksi sosial yang kita jalani pasti punya semacam ‘aturan tidak tertulis’. Termasuk di dalamnya adalah tentang aturan-aturan tidak tertulis dalam berteman. Aturan-aturan itu banyak menjelaskan tentang bagaimana mestinya kita bertingkah laku dengan tepat dalam situasi sosial, tentang bagaimana menempatkan diri, bagaimana memahami maksud orang lain yang tak terucapkan oleh lisannya, yang semua itu ‘mengalir’ seperti arus melalui hubungan sosial sehari-hari.

Kebanyakan dari kita, sepanjang hidup yang kita jalani, pasti memiliki interaksi dengan orang-orang, yang kemudian interaksi itu begitu dekat sehingga terasa seperti ikatan, yang menurut istilahnya orang Jepang: kenzoku. Orang Jepang mengartikan ‘kenzoku’ secara harfiah adalah berarti ‘keluarga’.

Mereka mungkin saja termasuk anggota keluarga; orangtua, saudara laki-laki atau perempuan, sepupu, dll. Atau seorang teman dari sekolah yang dengannya kita sudah bertemu selama beberapa tahun. Termasuk juga teman masa kecil yang lama tak bertemu, tapi masih memiliki kedekatan emosional. Waktu dan jarak pun sepertinya tidak mengurangi ikatan yang kita miliki dengan teman-teman semacam ini.

Sebelumnya, sahabat Ublik, apa definisi teman menurutmu? Apakah ketika kamu mengenal seseorang, merasa nyambung kalau ngobrol dengannya, saling menghargai, dan mau saling berbagi, itu yang namanya teman? Mungkin bisa dibilang bahwa yang seperti itu merupakan dasar pertemanan. Sebuah studi dari University of Kansas menemukan bahwa dua orang perlu menghabiskan 90 jam bersama untuk menjadi teman, atau 200 jam untuk ‘memenuhi syarat’ sebagai teman dekat.

Selain masalah waktu kebersamaan, bukankah hobi atau minat yang serupa juga bisa jadi modal dasar untuk persahabatan? Apakah kamu pernah bergabung dengan grup atau komunitas yang bergerak di bidang yang kamu minati, atau menjadi sukarelawan untuk sesuatu yang kamu pedulikan? Mudah-mudahan ini dapat menjadi langkah awal yang baik untuk menemukan teman yang baik.

Ketika sudah merasa kenal baik dengan seseorang, biasanya kita jadi tidak sungkan-sungkan lagi. Lalu, adakah aturan-aturan tidak tertulis dalam berteman? Walau tidak ada aturan saklek untuk diikuti, tetapi di dalam interaksi dengan teman dekat pun ada etika. Apa saja hal-hal yang termasuk aturan tidak tertulis dalam berteman itu?

1.Adil Bukan Berarti Sama

Ini adalah tentang bagaimana kita memperlakukan teman-teman kita yang berbeda-beda pembawaannya. Tergantung juga di mana kita tinggal, karena pastinya setiap orang bertindak dengan cara tertentu, sesuai nilai-nilai dan prinsip hidup yang dia yakini. Belum lagi soal karakter, ada yang sensitif, ada yang selow dan cuek.

Memang ada benarnya kutipan ini “True friends say bad things to your face, and say good things behind your back”. Saat temanmu tidak sungkan untuk berkata-kata konyol dan semaunya sendiri, tidak sungkan untuk menertawakanmu, tapi mereka mengatakan hal-hal baik tentang dirimu kepada orang lain, itulah teman sejatimu. Tapi perlakukan mereka sesuai keunikannya, karena akan sangat awkward jadinya membercandai teman yang sensitif. Jadi, sikap adil kepada teman bukan berarti memperlakukannya sama, antara satu orang dengan orang lain.

2.Asah Skill-mu untuk Menjadi Pendengar yang Terbaik

Pastinya menyenangkan ya, punya teman dekat yang bisa jadi tempat berbagi sesuatu yang pribadi. Ketika teman sedang sakit hati atas suatu hal, dukungan moral apa yang bisa diberikan? Yang paling mudah adalah mendengarkan ceritanya, sambil bersikap empati.

Tidak perlu ‘bekerja keras’ untuk menyelesaikan masalahnya, karena sebenarnya ia sudah punya solusi dalam pikirannya. Dirinya hanya butuh didengarkan dan kadang dimaklumi. Apakah ada pengecualian untuk aturan ini?

Tentu tergantung pembawaan sikap teman tersebut ya, tapi usahakan kalau ada teman bercerita suatu hal yang berat menurutnya, jangan dibalas dengan kalimat seperti ini misalnya “Ah, itu belum seberapa…”, “Aku pernah mengalami yang lebih parah…”, “Masalahku lebih berat…” dan yang setipe dengan itu. Dengarkan saja dulu, dan jangan buru-buru memberi nasihat atau saran, kecuali dia sendiri yang memintanya. Satu lagi, tahan diri untuk kepo! Nanti dia akan cerita sendiri tentang rahasianya.

3.Saat Berkompetisi dengan Teman Sendiri

Tanpa bermaksud merusak persahabatan, kita pun bisa masuk ke dalam situasi persaingan ‘mana yang labih baik’ dalam beberapa hal. Misalnya di sekolah, saat bersaing soal prestasi dengan teman sendiri. Tapi, berkompetisi dengan teman sendiri tentu agak tricky. Apalagi sesama teman perempuan. Bisa dibilang bahwa perempuan ‘dari sononya’ memang cenderung saling berkompetisi dengan sesamanya, bahkan dengan teman sendiri.

Queen bee syndrom barangkali ada benarnya untuk menjelaskan fenomena ini. Kompetisi yang terjadi dalam lingkaran pertemanan sendiri sebenarnya bisa memberikan efek positif, ketika dijalankan secara wajar. Bukankah kompetisi dalam hal positif dengan teman-teman terdekat itu bisa secara otomatis memberi motivasi? Kalau teman kita lebih maju, kenapa kita hanya diam saja?

4.Jangan Berharap Terlalu Banyak

Sejak ratusan tahun lalu, William Shakespeare sudah pernah mengatakan ini: “expectation is the root of all heartache”. Memang agak kurang menggembirakan, walau seringkali begitulah kenyataannya. Mengharapkan sesuatu terlalu banyak dari satu orang, sepertinya sudah jadi semacam ‘kesalahan umum’. Bukan hanya dalam konteks love relationship, dalam berteman pun begitu. Ada saatnya kamu berharap teman-temanmu mengerti keadaanmu, tapi mereka pun punya persoalan sendiri.

Seperti apa kata Mahatma Gandhi: “Be the change you wish to see in the world.” Kalau kita kecilkan konteksnya, kita bisa analogikan begini: be the friend you want to have. Tak usahlah berharap temanmu jadi seperti apa dan bagaimana bersikap ke dirimu, cukup jadikan dirimu seperti orang yang kau harapkan untuk jadi temanmu.

berteman , karakter berbeda
Teman-teman kita punya keunikannya masing-masing

5.Saat Orang Dewasa Ingin Punya Teman Baru

Berbeda dengan anak-anak yang bisa menjalin pertemanan hanya karena hal-hal sederhana, seperti memakai baju berwarna sama, persahabatan orang dewasa membutuhkan lebih banyak trik. Tidak berarti melebih-lebihkan, tapi memang seperti itu adanya. Ketika masih sekolah, akan sangat mudah untuk bertemu teman-teman, kapanpun dan di manapun. Tapi kalau sudah punya kesibukan masing-masing? Apalagi kalau teman kita sudah berkeluarga, pastinya ada satu dan lain hal yang mesti kita pahami: bahwa ia sekarang punya prioritas dan tanggung jawab yang berbeda.

Orang dewasa cenderung lebih banyak pengalaman, entah itu pengalaman positif maupun pengalaman negatif. Saat seseorang memiliki semacam trauma di masa lalu, itu dapat menyebabkan ia merasa harus berhati-hati dalam mengenal orang baru.

Berteman dengan orang baru, sebagai orang dewasa bisa jadi hal yang tidak mudah dan membutuhkan proses yang tidak sama seperti anak-anak. Dalam hal ini, yang kita maksud adalah berteman, bukan berkenalan atau networking demi kepentingan kerja. Ya meskipun networking bisa efektif juga untuk membangun pertemanan yang lebih solid. Yang pasti, “apakah kamu mau menjadi temanku?” sepertinya itu bukan kalimat yang biasa kita dengar dari orang-orang dewasa.

6.Yang Satu Ini, Baiknya Hati-hati

Berikutnya adalah hal yang cukup sensitif. Apa itu? Apakah tentang topik pembicaraan seputar politik? Misal saat pemilihan calon presiden, temanmu begitu fanatik dengan salah satu. Sudah, biarkan saja. Atau saat ia kekeuh mendukung tim sepak bola Inggris, walau tidak pernah menang? Apapun itu, punya minat dan ketertarikan dalam hal yang berbeda dengan teman, itu wajar saja.

Tapi ada lagi yang lebih sensitif daripada politik dan sepak bola, dan itu adalah soal uang. Konon, untuk mengenal karakter asli seseorang, kita bisa mengujinya dengan mengajaknya bepergian jauh, naik gunung, atau berbisnis. Sepertinya kita bisa bahas lebih detail di lain waktu, mulai dari utang piutang sampai etika berbisnis bareng teman sendiri.

7.Tentang Jebakan Bernama Friend Zone

Jujur saja, kita semua pernah merasakan kesendirian, dalam kadar yang berbeda-beda. Ya, dan kadang tidak nyaman untuk mengakuinya. Kamu mungkin bertemu banyak orang setiap harinya. Tapi dari sekian banyak itu, mana yang benar-benar bisa akrab dan mengerti kehidupanmu? Sebut saja misalnya saat kamu bicara soal impian-impianmu yang ‘gila’, apakah setiap orang yang kamu temui bisa memahami dan mendukung? Yang ada malah menertawakan.

Tapi dari sekian banyak orang yang kamu kenal itu, pasti ada segelintir yang dengannya seolah-olah ada konektivitas ajaib. Bisa berbagi apapun, bisa ‘satu frekuensi’ kalau ngobrol, bisa nyaman kalau pergi ke mana-mana bareng dia, dan dalam banyak hal, dialah yang bisa diandalkan. Tapi satu hal: tidak bisa menginap di rumahnya, karena alasan nilai dan norma. Padahal, entah bagaimana, kamu mungkin mulai ada feeling yang lebih dari teman biasa. Yak, selamat datang di jebakan bernama friend zone.

berteman , friend zone
Jadi, kalian ini teman atau ‘teman’?

Satu hal yang perlu kita tahu, antara laki-laki dan perempuan kemungkinan besar memiliki orientasi yang berbeda soal ‘persahabatan’. Di saat bersamaan, sejumlah riset pun sudah pernah menjelaskan bahwa relasi perempuan dan laki-laki itu, tidak murni hanya pertemanan saja. Entah salah satu, atau keduanya, bisa jadi ‘ada maksud’ yang lain. Hmm, bagaimana menurut kamu sahabat Ublik?

Bukankah selalu ada pengecualian dalam segala sesuatu? Bagaimanapun pandangan orang luar, apapun yang dijelaskan dalam hasil riset itu, coba lihat dirimu sendiri. Soal ketulusan sikap atas nama sahabat, siapa yang benar-benar tahu? Asalkan relasi pertemanan itu masih memberi kenyamanan dan membawa manfaat, mengapa harus dipermasalahkan?

Jadi, menurut kamu, apa lagi yang termasuk aturan-aturan tidak tertulis dalam berteman?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

kepribadian , ambivert

Mengenal Para Ambivert, Kepribadian yang Lincah Berganti Wajah

Menjadi Lebih Produktif Dengan Cara Yang Benar

Menjadi Lebih Produktif Dengan Cara Yang Benar