Kali ini saya ingin menuliskan sesuatu tentang Madura. Suatu hal yang saya harapkan mampu mempengaruhi alam pikir sebagian masyarakat yang berpandangan negatif tentang Madura. Sejauh ini kita yang terngiang di kepala kita ketika mendengar kata Madura yaitu sate, Suramadu, karapan sapi, bebek sinjai, atau Mbah Kholil. Benar tidak? Saya rasa itulah yang dikenal masyarakat luas. Atau mungkin ada yang mengidentikkan Madura sebagai ‘carok’.

Entahlah, itu semua berawal dari pemahaman dan persepsi masing-masing individu. Tulisan ini tidak bermaksudkan untuk membahas kuliner Madura atau mengupas tentang budaya lokal atau pesona wisata Madura. Catatan ini saya khususkan untuk mengajak pembaca untuk mengenal lebih dekat pandangan hidup masyarakat Madura secara umum.

Pilihan Editor;

Belum cukup kiranya jika menilai karakter masyarakat Madura secara keselurahan jika hanya berdasarkan pendapat seseorang atau media massa. Ibarat kita hendak mengenal bagaimana rasanya makan sate, maka belum cukup jika hanya mendengarkan pendapat orang yang pernah memakan sate. Karena masing-masing orang punya penilaian tersendiri.

Agar tau bagaimana rasanya sate, makanlah dan rasakanlah sendiri. Begitu juga untuk mengenal masyarakat Madura, tinggalah dan meleburlah bersama orang-orang Madura, maka Anda akan bisa memberikan penilaian yang objektif. Anda akan lebih mengenal dan memahami bagaimana falsafah hidup orang Madura dengan cara berinteraksi dan menjalin hubungan dengan masyarakat Madura.

Karapan Sapi (Sumber: www.indonesiakaya.com)

Filosofi yang Sangat Religius

Berikut ini saya akan menguraikan secara ringkas bagaimana falsafah atau pandangan hidup orang Madura secara umum. Tentunya hanya bagian kecil saja dari yang saya ketahui. Semisal, masyarakat Madura adalah masyarakat yang agamis. Dalam setiap perilaku kesehariannya, tidak pernah lepas dari nilai-nilai keislaman. Masyarakat Madura dikenal sebagai masyarakat yang begitu kokoh dan kental keislamannya. Sesuai dengan filosofi Madura, “Abantal sadhat, apajung Allah, asapo’ salawat,” yang mengandung maksud sejak bayi orang Madura telah berbantalkan syahadat, berpayungkan perlindungan Allah, dan berselimutkan salawat. Filosofi yang sangat religius. Jika boleh mengartikan kembali, saya menilai bahwa filosofi tersebut mengingatkan masyarakat Madura untuk tetap beriman, berpedoman kepada Allah, dan senantiasa mencintai dan meneladani Nabi Muhammad SAW, dan tidak lupa untuk senantiasa berholawat kepada beliau.

Memiliki Pandangan Jauh ke Depan

Selain itu, masyarakat Madura adalah masyarakat yang memiliki pandangan jauh ke depan. Artinya mereka memahami konsep waktu dengan konsep futuristik. Tidak cukup hanya dengann masa lalu ataupun masa saat ini. Bagi masyarakat Madura, masa depan tersebut tidak hanya terbatas di dunia saja, namun juga di akhirat. Hal tersebut akan mendorong mereka untuk menjadi pribadi-pribadi yang senantiasa menebar kebermanfaatan, senantiasa beramar ma’ruf dan nahi munkar. Pandangan hidup futuristik ini dapat dalam penghayatan mereka terhadap kodrat manusia sebagai khalifah di dunia.

Seperti dalam ungkapan “Manossa coma darma”, yang artinya manusia hidup di dunia sebagai pemimpin dan pemelihara alam, maka dalam kehidupannya, mereka harus melakukan kebaikan-kebaikan di dunia. Mereka menyadari bahwa ‘hidup’ tidak hanya berlangsung di dunia tetapi akan berlanjut di alam akhirat. Oleh sebab itu, etnis Madura sangat yakin bahwa amal di dunia akan dijadikan bekal kehidupannya di akhirat nanti. Hal ini sejalan dengan ungkapan, “Ngajhi sangona akhirat”, yang artinya mengaji adalah modal kehidupan di akhirat. Tidak heran jika di Madura sendiri tersebar banyak pondok pesantren, langgar atau musholla, dan madrasah sebagai tempat belajar mengaji atau menuntut ilmu.

Masjid Jami’ Sumenep salah satu tujuan wisata religi (Sumber: klikhotel.com)

Selanjutnya terkait pandangan masyarakat Madura terkait hidup bermasyarakat terdapat juga dalam ungkapan andhap asor, yang artinya sopan santun, arif dan bijaksana. Dengan begitu sudah jelas bahwa masyarakat Madura mengedepankan atau mengutamakan tata krama atau akhlak yang baik dalam berhubungan dengan orang lain. Sikap dan watak yang mengutamakan nilai-nilai luhur akan tercermin dalam perilaku keseharian orang-orang Madura. Tak heran jika masyarakat Madura sangat menghargai dan menghormati bapak, ibu, guru dan penguasa. Atau dalam bahasa maduranya bhuppa’, bhabu, guru, dan rato. Intinya mereka begitu ta’dhim kepada kedua orang tuanya, taat dan patuh kepada guru, ustadz atau kiai yang mengajarkan ilmu dan pengetahuan kepada mereka. Mereka pun setia serta patuh terhadap pemerintah.

Jadi, melalui uraian ringkas di atas kita bisa mulai memahami bagaimana falsafah atau pandangan hidup masyarakat Madura. Realitas kehidupan masyarakatnya menggambarkan sejauh mana mereka setia kepada pandangan hidupnya. Jika ada orang Madura yang tidak sesuai dengan falsafah hidupnya, maka bisa dipastikan itu sebatas oknum. Tidak adil kiranya jika menghakimi masyarakat secara keseluruhan hanya karena segelintir oknum. Semoga pemahaman kita terhadap falsafah hidup orang Madura bisa membawa pikiran positif terhadap etnis tersebut. Dan harapan saya adalah kita bisa mencontoh falsafah hidup orang Madura. Karena di balik falsafah hidup masyarakat Madura tersebut tersempan kebijaksanaan lokal, warisan nilai leluhur yang agung, dan berbagai kebaikan lainnya. Semoga catatan ini membawa inspirasi tersendiri bagi pembaca sekalian.

 

(Sumber gambar utama: Liputan6.com/Helmi Fithriansyah)